Miguel Azeez: Jebolan Hale End perpaduan Patrick Vieira dan Sergio Busquets.

Saat itu pertandingan sudah memasuki menit ke 83, dan Arsenal sudah unggul 4-1 di laga terakhir putaran grup pertandingan Europa League musim ini. Miguel Azeez masuk menggantikan Joe Willock serta menjadi pemain ke 877 yang menjalani debut bersama Arsenal. Tidak ada tanda-tanda gugup atau panik di wajahnya, yang ada justru sebuh ketenangan yang jauh melampaui usianya yang masih 18 tahun. Ya, walau baru debut sekarang, namun Azeez beserta Hale End boys yang lain sudah sering berlatih bersama tim inti Arsenal dan kesempatan langka seperti itu pastinya tidak disia-siakan oleh Azeez dan yang lain. Mereka mengasah kemampuan mereka bersama pemain top dunia secara rutin dan pastinya kepercayaan diri mereka tumbuh pesat karena itu.

Hal itu tercermin jelas di menit-menit akhir menjelang pertandingan usai, ketika Azeez menguasai bola di tengah lapangan mengarah ke pertahanan sendiri dan dikelilingi oleh 2 pemain Dundalk. Bagi pemain lain seusianya, mungkin situasi ini tidak menguntungkan dan tidak jarang berakhir dengan kehilangan bola atau terburu-buru mengoper bola yang juga berakhir dengan lost possession. Tapi tidak bagi Azeez. Pemain berdarah campuran dari ayah berkebangsaan Nigeria dan ibu berdarah Spanyol, tetapi lahir dan besar di Inggris ini, situasi ini sudah terputar di kepalanya dan diperkirakan jauh sebelumnya, bahkan sebelum dia menerima bola.

Kemampuan untuk memindai sekelilingnya dengan cepat dan langsung mempunyai beberapa skenario untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat terjadi beserta langkah selanjutnya atau yang disebut “The Pause” oleh Guillem Balague dalam wawancaranya dengan Azeez adalah ciri seorang pemain tengah yang dimiliki oleh pemain-pemain hebat. Kemampuan untuk berhenti dan melihat atau kemampuan untuk mengantisipasi gerakan lawan maupun kawan, ruang di sekeliling dan apa yang akan terjadi selanjutnya ini dengan jelas terlihat ketika Azeez meresponi keadaan tersebut.

Dengan tenang dia berhenti sesaat, memutar badannya ke arah berlawanan dan mengelabui kedua pemain Dundalk tersebut dengan mudahnya dan langsung menginisiasi serangan Arsenal. Twitter dan Instagram pun langsung penuh dengan komentar fans yang membandingkannya dengan Andres Iniesta ataupun Andrea Pirlo.

Setelah pertandingan itu, Azeez menjelaskan bagaimana perasaannya setelah akhirnya tampil di tim utama dan menerima banyak pujian dari para fans di media sosial. “Saya akan bermain dengan passion karena saya mencintai klub ini. Saya sudah berada di sini sejak saya berusia 5 tahun dan saya adalah fans sejati Arsenal. Tentu saja saya akan memberi yang terbaik bagi para fans Arsenal dan menunjukkan permainan terbaik saya setiap harinya.”

Sikap seperti itulah yang makin membuatnya dicintai para fans. Meski akhirnya dia sudah menjalani debutnya, namun dia tidak puas hanya sampai di situ. Dia juga pernah berkata bahwa dia selalu memandang ke depan. “Saya tidak pernah merasa puas dengan apa yang saya lakukan. Jika ada yang dapat saya lakukan lebih, maka saya akan melakukannya. Saya selalu yang datang pertama pada waktu latihan dan yang terakhir untuk pergi dan melakukan latihan tambahan yang dapat saya lakukan supaya saya dapat memaksimalkan diri saya. Pola pikir tersebut harus anda miliki kalau anda ingin menjadi yang terbaik.”

Pola pikir adalah sesuatu yang membedakan pemain biasa dan pemain luar biasa. Keyakinan diri tinggi akan kemampuan sendiri dan kemauan untuk terus mengembangkan diri menentukan sampai dimana batas akhir seorang pemain akan berada, dan Azeez tentunya memiliki itu semua. Bahkan dia juga mempunyai mimpi yang besar. “Bagi saya, mimpi saya adalah ingin menjadi pemain terhebat di dunia. Karena menurut saya, saya mempunyai atribut itu dan saya harus mengembangkannya. Sekarang terserah saya apakah saya akan terus maju atau tidak. Saya ingin memenangkan banyak gelar bagi tim dan negara saya. Itu adalah mimpi saya yaitu menjadi pemain terbaik yang saya bisa di dunia.”

Mimpi besar tentu dapat menghadapi tantangan, namun tampaknya Azeez tidak mempunyai keraguan bahwa dia dapat mewujudkan mimpi itu. “Saya tidak pernah meragukan diri saya karena jika anda mempunyai keraguan, hal tersebut akan menyulitkan anda untuk mencapai potensi terbaik anda. Saya selalu percaya terhadap diri saya ingat akan perkataan ibu saya bahwa saya harus percaya diri dalam mengejar mimpi karena tidak ada hal yang mustahil.”

Masuk akademi Arsenal semenjak berusia 5 tahun, Azeez tumbuh menjadi seorang gelandang yang selalu dipercaya untuk tampil membela Arsenal di segala kategori umur, bahkan dia sering bermain di kategori di atas umurnya. Banyak yang menilainya sebagai seorang tipe gelandang modern yang seimbang dalam menyerang maupun bertahan. Dia pemain berteknik tinggi yang piawai dalam melepas umpan jauh namun juga percaya diri untuk menggiring bola. Fisiknya yang kuat didukung oleh stamina dan fitness level yang baik juga membuatnya tidak takut untuk berduel dan merebut bola. Selain itu, dia juga pandai dalam mengatur tempo permainan dan memiliki positioning yang baik. Atribut-atribut di atas membuatnya nyaman beroperasi di sektor tengah.

Azeez merasakan sebuah kepuasan tersendiri ketika berhasil mencetak gol atau assist. Salah satu assist terbaiknya adalah ketika dia berhasil melewati 4 pemain Chelsea dari daerah permainan sendiri sebelum memberikan umpan terukur yang lalu dikonversi oleh rekan setimnya di Arsenal menjadi gol. “Saya suka mencetak gol, dan saya suka mencetak gol dari tendangan jarak jauh. Jika harus memilih, kadang-kadang saya juga suka memberikan assist, karena hal itu memberikan kepuasan sebagai seorang pemain tengah”. Memang dia juga tetap merasa bangga jika dia dapat mencetak gol namun memberikan assist adalah sesuatu yang mungkin akan lebih sering dia perbuat ketimbang mencetak gol setelah pembicaraannya dengan Direktur Akademi Arsenal, Per Mertesacker.

Azeez awalnya lebih banyak beroperasi di tengah sebagai gelandang box-to-box atau nomor 8. Namun, di bawah arahan Mertesacker, dia diplot lebih ke belakang sebagai gelandang jangkar atau holding midfielder. Azeez menerima keputusan tersebut dengan tangan terbuka dan penampilannya di lapangan menunjukkan bahwa dia memang sangat cocok di posisi tersebut. Walau tidak jarang juga disamakan dengan sosok Patrick Vieira, Azeez mengaku bahwa dia mengambil Sergio Busquets, gelandang Barcelona, sebagai panutannya. “Saya pikir dia telah menjadi gelandang jangkar terbaik untuk waktu yang sangat lama. Dia seperti selalu mempunyai ruang gerak di sekelilingnya, dia selalu bermain dengan kepala tegak, satu langkah di depan. Saya juga ingin bermain sepertinya.”

Saat ini Azeez sudah tampil bersama timnas Inggris U18, namun Spanyol dan Nigeria sudah menunjukkan niat mereka untuk merekrut Azeez untuk bermain bersama mereka. Bahkan Balague didaulat secara khusus oleh Spanyol untuk membujuk Azeez untuk memilih membela Spanyol di timnas senior. Walau selalu membela Inggris di berbagai kategori umur, namun Azeez tampaknya belum menutup kemungkinan untuk dapat bermain untuk Spanyol maupun Nigeria. “Adalah sebuah kehormatan untuk bermain bagi timnas negara manapun dan saya masih membiarkan kesempatan itu terbuka.”

Apakah Azeez akan memilih untuk tetap mengenakan Inggris maupun kedua negara tadi memang hanya waktu yang akan menjawabnya, namun untuk sekarang paling tidak Azeez masih akan tetap mengenakan seragam Arsenal untuk beberapa tahun ke depan setelah menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama Arsenal di bulan September tahun lalu ketika dia tepat berusia 17 tahun selama 3 tahun dengan opsi 2 tahun perpanjangan sebelum akhir 2021/2022.

Leave a Reply