Menu

Bantai Klub Asal Swedia 3-0, Ini 7 Pemain Asal Swedia yang Pernah Bela Arsenal

Arsenal vs  Ostersunds Arsenal vs Ostersunds Arsenal.com

Bertemunya Arsenal dengan Ostersunds FK, kesebelasan yang menduduki peringkat ke-5 Liga Sepak Bola Swedia (Allsvenskan) tahun 2017, dalam lanjutan babak 32 besar UEFA Europa League musim 2017/2018 (16/02/18) lalu mau tak mau mengingatkan kita kembali pada kenangan Arsenal dengan para pemainnya yang berasal dari Swedia. Sepanjang sejarah tim, memang belum ada pemain Arsenal yang berkaitan langsung dengang Ostersunds, tetapi sejak awal tahun 1990-an, Arsenal pernah tercatat beberapa kali diperkuat oleh pesepak bola dari Swedia. Beberapa di antaranya tercatat mampu memberikan memori manis nan bersejarah bagi klub, sedangkan yang lain mungkin bisa dibilang hanya 'sekedar mampir'. Siapa saja mereka? Mari kita bahas bersama!

1. Anders Limpar

Jika ditanya siapa pemain asal Swedia pertama yang bermain untuk Arsenal, maka jawabannya adalah pria bernama lengkap Anders Erik Limpar. Klub profesional pertamanya adalah klub Swedia bernama IF Brommapojkarna, dimana Limpar membela klub tersebut mulai dari rentang tahun 1981 hingga 1986. Setelah itu, gelandang kelahiran 24 September 1965 ini berpindah ke Örgryte IS, klub asal Swedia yang bermarkas di Gothenburg, Swedia yang dibelanya hingga tahun 1988. Bakat cemerlangnya tercium klub asal Swiss, Young Boys yang kemudian ia bela selama semusim sebelum memutuskan hijrah lagi ke Serie A membela klub bernama Cremonese selama semusim.

Anders-Limpar-008

Puncak karir dari pria yang lahir di Solna, Swedia ini adalah bersama tim meriam London. Arsenal yang kala itu diasuh oleh George Graham memboyongnya dari Cremonese pada tahun 1990 dengan mahar 1 juta Poundsterling. Di musim perdananya ia langsung memenangkan Liga Inggris (First Division) musim 1990/1991 bersama Arsenal.

Salah satu pertandingannya bersama Arsenal yang bisa jadi tidak akan mungkin ia lupakan adalah tentu laga debutnya di Liga Inggris. Tanggal 15 September 1990, kala itu Arsenal berhadapan dengan Chelsea di Highbury. Limpar bermain penuh selama 90 menit dan mencetak 1 gol, serta membukukan 3 assist. Kemudian, di pertandingan keduanya di liga, Arsenal sukses membekuk Manchester United di Old Trafford melalui gol tunggalnya. Selain karena ia mencetak gol, Limpar juga pastinya tidak akan melupakan laga itu karena itu merupakan salah satu laga terpanas yang pernah ia jalani.

Bagaimana tidak? Pada laga itu sempat terjadi cek cok berujung gesekan fisik antar pemain dan staf kedua tim. Pertandingan tersebut juga dinilai sebagai salah satu pertandingan terburuk sepanjang sejarah karena adegan perkelahian yang terjadi tidak sepatutnya disiarkan oleh televisi. Terlebih lagi, banyak anak-anak yang pastinya menonton pertandingan itu.

Selain gelar Liga Inggris 1990/1991, Limpar juga meraih penghargaan Guldbollen (penghargaan pesepak bola terbaik Swedia) tahun 1991. Limpar berada di Arsenal hingga tahun 1994. Di semua kompetisi, ia tercatat bermain sebanyak 116 laga dan mencetak 20 gol. Setelah itu ia pindah ke Everton, lalu juga Birmingham City sebelum akhirnya pulang kampung membela klub asal Swedia lainnya, AIK, Djurgardens IF, dan kembali pada IF Brommapojkarna. Pria yang bermain sebanyak 69 laga dan mencetak 6 gol untuk timnas Swedia semasa karir profesionalnya ini juga sempat berlabuh di Amerika Serikat membela Colorado Rapids.

2. Stefan Schwarz

Hans-Jürgen Stefan Schwarz lahir di kota yang sama dengan Zlatan Ibrahimovic, yakni Malmo. Seorang pesepak bola yang berayahkan seorang Jerman ini lahir pada 18 April 1969. Ia adalah pesepak bola kedua asal Swedia yang membela Arsenal. Bak sebuah perlombaan lari estafet, kepergian Anders Limpar pada tahun 1994, langsung disambut oleh kedatangannya di tahun yang sama. Ia diboyong The Gunners dari Benfica.

Stefan-Schwarz-808559

Namun, berbeda dengan Limpar, tidak begitu banyak cerita Schwarz di tim London merah. Ia hanya menjalani satu musim kompetisi bersama Arsenal dengan total memainkan 42 laga dan 3 gol. Salah satu kenangan pemain timnas Swedia yang bermain sebagai gelandang dan bek sayap ini bersama Arsenal yang paling mudah diingat adalah mungkin runner up UEFA Cup Winners' Cup musim 1994/1995. Stefan Schwarz dan Arsenal yang dipimpin oleh Tony Adams dan diarsiteki Stewart Houston (caretaker) dikalahkan oleh Real Zaragoza, 1-2 di partai final.

Setelah itu, ia berlabuh di Fiorentina, lalu juga Valencia, dan juga kembali ke Inggris bersama Sunderland, dimana ia mengakhiri karir profesionalnya di sana, bersama klub yang bermarkas di Stadium of Lights tersebut pada tahun 2003.

3. Freddie Ljungberg

Karl Fredrik "Freddie" Ljungberg adalah pesepak bola Swedia tersukses yang pernah bermain untuk Arsenal. Ia adalah bagian dari skuad The Invincibles, sekaligus salah satu pilar pentingnya. Pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini mengabdi untuk Arsenal dari tahun 1998-2007 setelah sebelumnya diboyong dari klub asal Swedia, Halmstads BK. Untuk ukuran gelandang yang pada akhirnya akan menjadi salah satu gelandang terbaik di EPL, harga belinya terhitung murah hanya sekitar 3 juta poundsterling pada masa itu.

 

Hal unik mengenai Ljungberg adalah ada cerita yang beredar bahwa dasar Wenger menilai Ljungberg bakal menjadi pemain top adalah berdasarkan pertandingan yang disiarkan oleh televisi. Kala itu, timnas Swedia yang diperkuatnya bermain melawan Inggris dan berhasil keluar sebagai pemenang. Arsene Wenger kepincut dengan gaya bermainnya.

 

Padahal, bagi seorang manajer tim sepak bola profesional, biasanya tidak cukup menilai performa seorang pemain hanya dari layar televisi. Biasanya, mereka harus menonton pertandingannya langsung untuk mengonfirmasi bahwa pemain yang hendak diboyong adalah benar berkualitas. Akan tetapi, untuk kasus Ljungberg, Wenger hanya baru melihat permainannya dari televisi saja dan langsung serius ingin mendatangkannya ke Arsenal.

Freddy-Ljungberg

Musim-musim Ljungberg bersama Arsenal jelas penuh kejayaan. Selain menjadi bagian dari tim yang tak terkalahkan pada musim English Premier League (EPL) musim 2003/2004, ia juga menjadi bagian dari tim yang meraih double winner tahun 2002. Khusus untuk gelar EPL musim 2001/2002, Ljungberg menjadi salah satu sosok penting dalam penguncian gelarnya.

Arsenal bertandang ke Old Trafford dengan penuh harap-harap cemas. Jika berhasil mengunci kemenangan atas sang tuan rumah, maka Arsenal berhak atas gelar EPL musim 2001/2002. Dan itu benar terjadi, dimana Arsenal menang 1-0 di akhir laga. Sylvain Wiltord adalah pencetak golnya tapi itu semua mungkin tidak akan terjadi jika tidak ada kontribusi dari Ljungberg.

Pesepak bola yang kala itu berambut merah menyambut umpan terobosan Wiltord, lalu setelah bersusah payah melepaskan diri dari kawalan para pemain belakang Manchester United, ia menendang bola, yang sayangnya, masih dapat dihadang Fabian Barthez. Bola hasil tepisan Barthez kembali mengarah kepada Wiltord dan ia langsung mengeksekusinya menjadi gol. Mereka berselebrasi pada momen itu dan juga pada akhir laga yang sekaligus menandakan gelar liga ke-12 Arsenal (yang ke-2 di era EPL).

Total ia mengoleksi 2 gelar EPL (2001/2002 dan 2003/2004) dan 3 gelar FA Cup (2002, 2003, dan 2005), serta 1 Charity Shield (1999) bersama Arsenal. Freddie Ljungberg adalah benar pria Swedia paling fenomenal dan berprestasi yang pernah dimiliki Arsenal.

4. Rami Shaaban

Sejauh ini hanya ada satu kiper asal Swedia yang pernah berkostum Arsenal dan ia adalah Rami Shaaban. Pria keturunan Mesir dan Finlandia ini didatangkan Arsenal dari klub bernama Djurgårdens IF yang ia bela pada rentang tahun 2000-2002. Diproyeksikan menjadi penerus David Seaman di bawah mistar gawang Arsenal, Shaaban nampaknya mengalami nasib yang kurang baik. Total ia hanya bermain sebanyak 5 laga di semua kompetisi, dengan rincian 3 laga di ajang EPL, 2 laga di UCL.

Cedera adalah yang menjadi momok bagi Shaaban. Di musim perdananya, sekitar bulan Desember 2002 ia mengalami cedera kaki yang cukup parah. Padahal, sebelumnya ia sempat bermain di ajang UCL kala melawan PSV Eindhoven dan AS Roma. Posisi Shaaban semakin terancam karena cedera parahnya tersebut, terlebih lagi Arsenal mendatangkan Jens Lehmann, kiper andalan Borussia Dortmund di awal musim 2003/2004.

maxresdefault

Fakta sejarah yang kita ketahui bersama adalah Jens Lehmann yang benar berjaya sebagai kiper utama Arsenal dan menjalani musim tak terkalahkan yang fenomenal tersebut. Bagaimana dengan Shaaban? Ia tetap terus berjuang pulih dari cederanya. Pada Januari tahun 2004, ia sempat dipinjamkan ke West Ham United tapi gagal menjalani satu laga sekalipun. Di akhir musim, ia dilepas permanen oleh Arsenal.

Setelah dari Arsenal, ia sempat bermain untuk Brighton & Hove Albion pada tahun 2005 lalu kembali menemukan kegemilangannya di klub asal Norwegia, Frederikstad FK. Semasa bermain untuk klub yang bermarkas di Frederikstad Stadion, Frederikstad ini pada rentang tahun 2006-2008 ia sempat dipanggil timnas Swedia dan memainkan 16 laga. Ia kemudian pindah ke Hammarby IF dan mengakhir karir sepak bola profesionalnya di sana pada akhir musim 2011/2012.

Pria penggemar kopi ini diketahui dekat dengan Freddie Ljungberg, kolega senegaranya selama masih di Arsenal. Beberapa orang kerap melihat mereka minum kopi bersama. Rami Shaaban nampaknya kangen dengan Arsenal. Terbukti, kala Arsenal dijamu Ostersunds FK yang berkesudahan 3-0 untuk kemenangan Arsenal, Shaaban menonton langsung pertandingan tersebut di stadion dan menyempatkan diri berfoto bareng Arsene Wenger dan Mohammed El Neny.

5. Sebastian Larsson

Kalau yang satu ini berasal dari tim U-18 Arsenal. Sebastian Bengt Ulf Larsson adalah nama lengkapnya. Pemain yang mampu beroperasi di sisi tengah maupun sayap ini diangkut dari klub lokal Swedia IFK Eskilstuna pada tahun 2001. Di tahun 2004, ia berkesempatan menjalani debut profesionalnya bersama tim utama Arsenal. Akan tetapi, sungguh disayangkan hingga tahun 2007, ia sulit mendapatkan tempat di tim utama dan dilepas permanen ke Birmingham City, yang sempat meminjamnya selama semusim sebelumnya.

Sebastian Larsson

Sebastian Larsson memang pada akhirnya cukup laris di kalangan tim papan tengah EPL karena setelah membela Birmingham City dari tahun 2007 hingga 2011, ia langsung dikontrak oleh Sunderland selama 5 musim ke depan. Pada musim 2017/2018 ia memulai petualangannya bersama Hull City. Fakta menariknya adalah ia selalu menjadi andalan bagi tim yang ia bela dan juga untuk timnas Swedia, terutama untuk spesialisasi tendangan bebas dan sepak pojok.

6. Kristoffer Olsson

Nyaris setali 3 uang dengan Sebastian Larsson. Berasal dari tim U-18 Arsenal setelah sebelumnya diangkut dari klub Swedia IFK Norrkoping, Kristoffer Olsson juga gagal menembus tim utama Arsenal. Kalau Larsson sempat memiliki 3 laga EPL bersama Arsenal, maka Olsson tidak sama sekali. Pada tahun 2014 ia sempat dipinjamkan ke klub Denmark FC Midtjylland, lalu kemudian dipermanenkan pada akhir musim.

Olsson-Scout-Report

Kini ia membela AIK, klub asal Swedia. Mungkin gooners Indonesia yang paling mengingat pemain berposisi gelandang ini karena pada masa pra musim tahun 2013, ia mencetak gol pertama Arsenal ke gawang tim Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno. Jasa Olsson untuk tim utama Arsenal di ajang resmi adalah kala masuk menggantikan Isaac Hayden di lanjutan Piala Liga menghadapi West Bromwich Albion. Ia mencetak gol dari titik putih kala Arsenal menundukkan sang tuan rumah lewat babak adu tendangan penalti yang berkesudahan 3-4.

7. Kim Källström

Pemain yang satu ini sebenarnya bukanlah pemain yang buruk. Hampir di semua klub yang pernah ia bela, ia pasti selalu menjadi pemain inti, gelandang andalan. Kim Källström menemui puncak karirnya bersama Lyon pada rentang tahun 2006-2012. Ia lalu bermain untuk Spartak Moscow, dan di tahun 2014, Arsenal meliriknya.

Ia didatangkan pada transfer musim dingin tahun 2014 dengan status pinjaman. Tujuan Arsenal kala itu adalah menjadikannya pelapis bagi pemain-pemain gelandang Arsenal yang dibekap cedera. Wenger sebenarnya juga tak salah-salah amat menunjuknya karena Källström ini gelandang serba bisa, dimana ia dapat bermain di tengah, maupun melebar. Ia juga dapat bermain agak ke dalam, maupun lebih menyerang.

Kallstrom

Akan tetapi, sebuah kabar menyedihkan beredar hanya beberapa hari selang bursa transfer musim dingin ditutup. Kim Källström dikabarkan langsung cedera. Belum main padahal tapi kok langsung cedera? Bagaimana bisa?

Hal itu dibeberkan langsung oleh Källström dalam sebuah wawancara dengan radio swasta Swedia, Sveriges Radio. Dalam wawancara tersebut ia bercerita bahwa ketika menjalani tes X-Ray di Arsenal, dokter menunjukkan bahwa ia mengalami masalah di punggungnya. Akibat itu, ia harus menepi selama 4-6 pekan.

Pada akhirnya, Källström tak banyak bermain untuk Arsenal, tetapi ia bukannya tanpa jasa sama sekali. Tendangan penalti yang sukses ia lesakkan ke gawang Wigan Athletic menjadi salah satu jasa pentingnya untuk The Gunners. Berkat itu, Arsenal mampu lolos ke final dan menjadi juara. Sebuah gelar juara yang berharga, gelar FA Cup 2014, yang amat dinanti-nanti selama 9 tahun masa paceklik gelar Arsenal.

Penulis: Katondio Bayumitra Wedya | @katondiobw

back to top