Menu

Merci Arsene, Adieu Wenger

Aku berbicara tentang seorang legenda. Pria Prancis yang datang dari Jepang, negeri sakura di Benua Asia nun jauh di sana. Ia datang ke Britania, negeri Ratu Elizabeth bertahta, untuk kemudian membuat cerita. Namun, semua tak pernah mudah kala menjadi seorang asing di tanah tempat jiwa-jiwa insular masih memegang teguh prinsipnya.

Mereka bertanya, “dia siapa?”

Kehadirannya memang diiringi oleh seribu bingung dan sejuta ragu. Tak mengherankan jika setiap pasang mata menatapnya dengan penuh tanda tanya. Wajar pula bila telinga-telinga belum terbiasa mendengar tentang siapa dirinya. Dimaafkan juga mulut-mulut yang masih salah melafalkan namanya.

Akan tetapi, segala pesimisme itu berhasil ia mentahkan dengan semangat optimisme dalam dadanya. Segala kegamangan ia sulap menjadi kegemilangan. Menghidupkan kembali gairah yang sempat terpendam. Menggoreskan namanya dengan tinta emas sejarah pada lintasan masa.

Pria Prancis itu punya caranya sendiri. Ia menolak beberapa tradisi dan menjaga sebagian yang lain. Baginya, semua harus berlandaskan sains. Demi membuat tim yang kaya akan sejarah kembali termotivasi dan berprestasi.

Arsene Wenger

Peringkat ketiga di musim pertama, double winner setahun kemudian. Ini hanyalah sedikit dampak dari bergantinya menu cemilan cokelat menjadi sayuran dan buah. ini adalah hasil dari efektifnya perubahan gaya permainan dari yang semula lebih mengandalkan fisik menjadi gaya permainan yang menekankan pada teknik, terutama operan. Tempo lambat ia ganti dengan tempo cepat dan menyerang.

Medali dan piala diperjuangkan setiap musim. Ia menciptakakan bintangnya sendiri, enggan membeli mereka yang terlanjur telah memiliki sinarnya sendiri. Menyulap seorang anak kemarin sore menjadi pesepak bola apik kelas wahid. Baginya, itu merupakan prestasi dan kebanggaan tersendiri.

Ia menjadikan seorang pria dengan paspor yang sama dengannya buas di depan gawang, setelah sebelumnya terlihat kalem-kalem saja di Turin. Ia mendidik seorang pria tinggi besar, dengan paspor yang juga sama dengannya, untuk menjadi pemimpin di lini tengah dengan mental baja tanpa takut akan siapapun yang dihadapi. Seorang anak muda dari Katalan ia boyong, ia jadikan sosok gelandang yang dicinta penggemar, meski di akhir cerita kita harus merelakannya pergi. Begitu juga dengan seorang penyerang dari Rotterdam yang sudah menganggapnya sebagai ayah, tetapi, pada akhirnya memilih pamit dan berpaling kepada sosok ‘ayah’ yang lain.

wengerrrrr

Namun, para prajurit boleh datang dan pergi silih berganti. Mereka fana, sedangkan sang profesor asal Prancis adalah ‘abadi’.

Rasa hormat semakin layak ditambatkan baginya kala sukses membawa klub yang ia tangani menjadi jawara di markas dua rival yang berbeda. Tahun 2002, pasukan berseragam kuning emasnya mempermalukan si merah dari utara. Mereka yang mengaku paling merah di Britania tak kuasa menahan geram saat melihat ada tamu yang menumpang untuk berpesta di rumahnya. Menjadikan teater impian bak neraka bagi para pemuja setan merah.

Dua tahun berselang, markas rival sekota menjadi destinasi pesta selanjutnya. Pria Prancis bersama pasukan tak terkalahkannya mengubah stadion yang biasanya tertutup bayang-bayang menjadi terang benderang. Kemilau surya yang terpancar dari wajah para punggawa jelas menyilaukan mata tetangga. Mereka berpesta memastikan gelar juara liga, sementara sang tuan rumah rela menyingkir sejenak.

Hanya ia yang bisa. Hanya ia yang sanggup mempersembahkan piala berwarnakan emas kepada mereka yang meyakini bahwa London itu merah. Pencapaian yang langka. Sampai saat ini belum ada yang bisa menandinginya.

Total 38 laga, 26 kali menang, 12 kali imbang. Kalah? Cuma di angan. Layaknya trofi Liga Champions Eropa dua tahun berselang. Mungkin, tak ada yang menyangka bahwa kegagalan merengkuh trofi berkuping besar tersebut adalah awal dari ‘bencana’ kekeringan prestasi pada dekade selanjutnya.

Ya, di awal kedatangannya, pria itu adalah seorang anomali, yang pada akhirnya, membawa kejayaan dan kebanggaan bagi klub sepak bola yang ia tangani pada dekade pertama kepemimpinannya. Sisanya? Ia menjadi layaknya pesakitan, sasaran amarah, hingga bahan guyonan.

wenger

Entah, sudah berapa banyak suara yang mendesaknya untuk legowo mundur dari tampuk kepemimpinan. Mereka gerah, mereka rindu juara. Sampai-sampai mereka (termasuk saya) suka lupa bahwa hampir tiap pekan mereka menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga di stadion yang berdiri kokoh nan megah, di mana sang profesor sepak bola punya andil dan kontribusi dalam pembangunannya, serta menjaga eksistensi dan gengsi klub tersebut tetap di jajaran empat besar yang terkuat. Pria Prancis tetap kokoh di singgasana kepelatihannya.

Ketika tiga gelar beruntun kompetisi sepak bola tertua di dunia sukses kembali ia rengkuh, dan mengokohkan namanya sebagai yang tersukses di sana, sempat membuat para penggemar kembali berdecak kagum. Muncul kembali pujian, terima kasih, dan haru biru. Akan tetapi, mereka tetap haus. Mereka rindu dengan trofi liga, yang kelihatannya lebih hangat untuk dipeluk.

Si tetangga berwarna biru semakin berisik mengaum. Si tetangga berwarna putih, yang rumahnya mereka ‘sewa’ untuk tempat berpesta di tahun 2004, semakin berusaha untuk keluar dari bayang-bayang statusnya yang hanya sebagai ‘hantu’ pengganggu. Taktik sepak bola semakin berkembang dan maju, sedangkan sang pria Prancis, seolah membuat timnya lambat melaju. Sang inovator itu, kini telah berubah status, walau jasanya tetap dikenang selalu.

20 April 2018. Sebuah hari yang dinanti akhirnya tiba. Sebuah kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya menyeruak. Sang profesor mengucapkan perpisahan. Namun, percayalah bahwa tetap ada rasa sedih itu kala harus menerima kenyataannya.

Karena kami percaya bahwa apapun yang terjadi, tim meriam London tak akan menjadi sebesar ini tanpa jasanya. Karena kami yakin bahwa sepak bola Inggris (dan juga Eropa) tidak akan menarik tanpa kehadirannya. Karena kami tahu bahwa di balik segala kelemahan, ia tetap seorang yang jenius. Hanya saja, ia seolah terlambat bertransformasi dan tetap teguh pada caranya sendiri, yang kadang tak efektif.

Bahagia dan sedih bercampur baur. Ya, segala kisah tentangnya akan segera berakhir. Mari menikmati saja yang yang tersaji di sisa musim. Jangan sampai menyesal karena apa yang telah dilindas oleh putaran waktu tak akan dapat diputar ulang.

Terima kasih telah memberikan segalanya untuk Arsenal FC, tuan Arsene Wenger. Sampai berjumpa lagi di momen-momen masa mendatang. Kami yakin bahwa benar dukungan dan cintamu untuk Arsenal FC adalah selamanya. Terima kasih untuk segala memori indah, tetapi ini jelas waktu yang tepat untuk berpisah.

aRSENE wENGER2

Selembut belaian badai saat kau palingkan arah, jejak langkahmu terbaca, inilah waktu yang tepat 'tuk berpisah (Foto: Instagram/@Arsenal)

  

Caption Foto adalah penggalan lirik dari lagu yang berjudul “Waktu yang Tepat untuk Berpisah” milik Sheila on 7.

 Penulis: Katondio Bayumitra Wedya | @katondiobw

back to top