Menu

Merci Arsene, Adieu Wenger

Aku berbicara tentang seorang legenda. Pria Prancis yang datang dari Jepang, negeri sakura di Benua Asia nun jauh di sana. Ia datang ke Britania, negeri Ratu Elizabeth bertahta, untuk kemudian membuat cerita. Namun, semua tak pernah mudah kala menjadi seorang asing di tanah tempat jiwa-jiwa insular masih memegang teguh prinsipnya.

Mereka bertanya, “dia siapa?”

Kehadirannya memang diiringi oleh seribu bingung dan sejuta ragu. Tak mengherankan jika setiap pasang mata menatapnya dengan penuh tanda tanya. Wajar pula bila telinga-telinga belum terbiasa mendengar tentang siapa dirinya. Dimaafkan juga mulut-mulut yang masih salah melafalkan namanya.

Akan tetapi, segala pesimisme itu berhasil ia mentahkan dengan semangat optimisme dalam dadanya. Segala kegamangan ia sulap menjadi kegemilangan. Menghidupkan kembali gairah yang sempat terpendam. Menggoreskan namanya dengan tinta emas sejarah pada lintasan masa.

Pria Prancis itu punya caranya sendiri. Ia menolak beberapa tradisi dan menjaga sebagian yang lain. Baginya, semua harus berlandaskan sains. Demi membuat tim yang kaya akan sejarah kembali termotivasi dan berprestasi.

Arsene Wenger

Peringkat ketiga di musim pertama, double winner setahun kemudian. Ini hanyalah sedikit dampak dari bergantinya menu cemilan cokelat menjadi sayuran dan buah. ini adalah hasil dari efektifnya perubahan gaya permainan dari yang semula lebih mengandalkan fisik menjadi gaya permainan yang menekankan pada teknik, terutama operan. Tempo lambat ia ganti dengan tempo cepat dan menyerang.

Medali dan piala diperjuangkan setiap musim. Ia menciptakakan bintangnya sendiri, enggan membeli mereka yang terlanjur telah memiliki sinarnya sendiri. Menyulap seorang anak kemarin sore menjadi pesepak bola apik kelas wahid. Baginya, itu merupakan prestasi dan kebanggaan tersendiri.

Ia menjadikan seorang pria dengan paspor yang sama dengannya buas di depan gawang, setelah sebelumnya terlihat kalem-kalem saja di Turin. Ia mendidik seorang pria tinggi besar, dengan paspor yang juga sama dengannya, untuk menjadi pemimpin di lini tengah dengan mental baja tanpa takut akan siapapun yang dihadapi. Seorang anak muda dari Katalan ia boyong, ia jadikan sosok gelandang yang dicinta penggemar, meski di akhir cerita kita harus merelakannya pergi. Begitu juga dengan seorang penyerang dari Rotterdam yang sudah menganggapnya sebagai ayah, tetapi, pada akhirnya memilih pamit dan berpaling kepada sosok ‘ayah’ yang lain.

wengerrrrr

Namun, para prajurit boleh datang dan pergi silih berganti. Mereka fana, sedangkan sang profesor asal Prancis adalah ‘abadi’.

Rasa hormat semakin layak ditambatkan baginya kala sukses membawa klub yang ia tangani menjadi jawara di markas dua rival yang berbeda. Tahun 2002, pasukan berseragam kuning emasnya mempermalukan si merah dari utara. Mereka yang mengaku paling merah di Britania tak kuasa menahan geram saat melihat ada tamu yang menumpang untuk berpesta di rumahnya. Menjadikan teater impian bak neraka bagi para pemuja setan merah.

Dua tahun berselang, markas rival sekota menjadi destinasi pesta selanjutnya. Pria Prancis bersama pasukan tak terkalahkannya mengubah stadion yang biasanya tertutup bayang-bayang menjadi terang benderang. Kemilau surya yang terpancar dari wajah para punggawa jelas menyilaukan mata tetangga. Mereka berpesta memastikan gelar juara liga, sementara sang tuan rumah rela menyingkir sejenak.

Hanya ia yang bisa. Hanya ia yang sanggup mempersembahkan piala berwarnakan emas kepada mereka yang meyakini bahwa London itu merah. Pencapaian yang langka. Sampai saat ini belum ada yang bisa menandinginya.

Total 38 laga, 26 kali menang, 12 kali imbang. Kalah? Cuma di angan. Layaknya trofi Liga Champions Eropa dua tahun berselang. Mungkin, tak ada yang menyangka bahwa kegagalan merengkuh trofi berkuping besar tersebut adalah awal dari ‘bencana’ kekeringan prestasi pada dekade selanjutnya.

Ya, di awal kedatangannya, pria itu adalah seorang anomali, yang pada akhirnya, membawa kejayaan dan kebanggaan bagi klub sepak bola yang ia tangani pada dekade pertama kepemimpinannya. Sisanya? Ia menjadi layaknya pesakitan, sasaran amarah, hingga bahan guyonan.

wenger

Entah, sudah berapa banyak suara yang mendesaknya untuk legowo mundur dari tampuk kepemimpinan. Mereka gerah, mereka rindu juara. Sampai-sampai mereka (termasuk saya) suka lupa bahwa hampir tiap pekan mereka menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga di stadion yang berdiri kokoh nan megah, di mana sang profesor sepak bola punya andil dan kontribusi dalam pembangunannya, serta menjaga eksistensi dan gengsi klub tersebut tetap di jajaran empat besar yang terkuat. Pria Prancis tetap kokoh di singgasana kepelatihannya.

Ketika tiga gelar beruntun kompetisi sepak bola tertua di dunia sukses kembali ia rengkuh, dan mengokohkan namanya sebagai yang tersukses di sana, sempat membuat para penggemar kembali berdecak kagum. Muncul kembali pujian, terima kasih, dan haru biru. Akan tetapi, mereka tetap haus. Mereka rindu dengan trofi liga, yang kelihatannya lebih hangat untuk dipeluk.

Si tetangga berwarna biru semakin berisik mengaum. Si tetangga berwarna putih, yang rumahnya mereka ‘sewa’ untuk tempat berpesta di tahun 2004, semakin berusaha untuk keluar dari bayang-bayang statusnya yang hanya sebagai ‘hantu’ pengganggu. Taktik sepak bola semakin berkembang dan maju, sedangkan sang pria Prancis, seolah membuat timnya lambat melaju. Sang inovator itu, kini telah berubah status, walau jasanya tetap dikenang selalu.

20 April 2018. Sebuah hari yang dinanti akhirnya tiba. Sebuah kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya menyeruak. Sang profesor mengucapkan perpisahan. Namun, percayalah bahwa tetap ada rasa sedih itu kala harus menerima kenyataannya.

Karena kami percaya bahwa apapun yang terjadi, tim meriam London tak akan menjadi sebesar ini tanpa jasanya. Karena kami yakin bahwa sepak bola Inggris (dan juga Eropa) tidak akan menarik tanpa kehadirannya. Karena kami tahu bahwa di balik segala kelemahan, ia tetap seorang yang jenius. Hanya saja, ia seolah terlambat bertransformasi dan tetap teguh pada caranya sendiri, yang kadang tak efektif.

Bahagia dan sedih bercampur baur. Ya, segala kisah tentangnya akan segera berakhir. Mari menikmati saja yang yang tersaji di sisa musim. Jangan sampai menyesal karena apa yang telah dilindas oleh putaran waktu tak akan dapat diputar ulang.

Terima kasih telah memberikan segalanya untuk Arsenal FC, tuan Arsene Wenger. Sampai berjumpa lagi di momen-momen masa mendatang. Kami yakin bahwa benar dukungan dan cintamu untuk Arsenal FC adalah selamanya. Terima kasih untuk segala memori indah, tetapi ini jelas waktu yang tepat untuk berpisah.

aRSENE wENGER2

Selembut belaian badai saat kau palingkan arah, jejak langkahmu terbaca, inilah waktu yang tepat 'tuk berpisah (Foto: Instagram/@Arsenal)

  

Caption Foto adalah penggalan lirik dari lagu yang berjudul “Waktu yang Tepat untuk Berpisah” milik Sheila on 7.

 Penulis: Katondio Bayumitra Wedya | @katondiobw

Read more...

Bantai Klub Asal Swedia 3-0, Ini 7 Pemain Asal Swedia yang Pernah Bela Arsenal

Bertemunya Arsenal dengan Ostersunds FK, kesebelasan yang menduduki peringkat ke-5 Liga Sepak Bola Swedia (Allsvenskan) tahun 2017, dalam lanjutan babak 32 besar UEFA Europa League musim 2017/2018 (16/02/18) lalu mau tak mau mengingatkan kita kembali pada kenangan Arsenal dengan para pemainnya yang berasal dari Swedia. Sepanjang sejarah tim, memang belum ada pemain Arsenal yang berkaitan langsung dengang Ostersunds, tetapi sejak awal tahun 1990-an, Arsenal pernah tercatat beberapa kali diperkuat oleh pesepak bola dari Swedia. Beberapa di antaranya tercatat mampu memberikan memori manis nan bersejarah bagi klub, sedangkan yang lain mungkin bisa dibilang hanya 'sekedar mampir'. Siapa saja mereka? Mari kita bahas bersama!

1. Anders Limpar

Jika ditanya siapa pemain asal Swedia pertama yang bermain untuk Arsenal, maka jawabannya adalah pria bernama lengkap Anders Erik Limpar. Klub profesional pertamanya adalah klub Swedia bernama IF Brommapojkarna, dimana Limpar membela klub tersebut mulai dari rentang tahun 1981 hingga 1986. Setelah itu, gelandang kelahiran 24 September 1965 ini berpindah ke Örgryte IS, klub asal Swedia yang bermarkas di Gothenburg, Swedia yang dibelanya hingga tahun 1988. Bakat cemerlangnya tercium klub asal Swiss, Young Boys yang kemudian ia bela selama semusim sebelum memutuskan hijrah lagi ke Serie A membela klub bernama Cremonese selama semusim.

Anders-Limpar-008

Puncak karir dari pria yang lahir di Solna, Swedia ini adalah bersama tim meriam London. Arsenal yang kala itu diasuh oleh George Graham memboyongnya dari Cremonese pada tahun 1990 dengan mahar 1 juta Poundsterling. Di musim perdananya ia langsung memenangkan Liga Inggris (First Division) musim 1990/1991 bersama Arsenal.

Salah satu pertandingannya bersama Arsenal yang bisa jadi tidak akan mungkin ia lupakan adalah tentu laga debutnya di Liga Inggris. Tanggal 15 September 1990, kala itu Arsenal berhadapan dengan Chelsea di Highbury. Limpar bermain penuh selama 90 menit dan mencetak 1 gol, serta membukukan 3 assist. Kemudian, di pertandingan keduanya di liga, Arsenal sukses membekuk Manchester United di Old Trafford melalui gol tunggalnya. Selain karena ia mencetak gol, Limpar juga pastinya tidak akan melupakan laga itu karena itu merupakan salah satu laga terpanas yang pernah ia jalani.

Bagaimana tidak? Pada laga itu sempat terjadi cek cok berujung gesekan fisik antar pemain dan staf kedua tim. Pertandingan tersebut juga dinilai sebagai salah satu pertandingan terburuk sepanjang sejarah karena adegan perkelahian yang terjadi tidak sepatutnya disiarkan oleh televisi. Terlebih lagi, banyak anak-anak yang pastinya menonton pertandingan itu.

Selain gelar Liga Inggris 1990/1991, Limpar juga meraih penghargaan Guldbollen (penghargaan pesepak bola terbaik Swedia) tahun 1991. Limpar berada di Arsenal hingga tahun 1994. Di semua kompetisi, ia tercatat bermain sebanyak 116 laga dan mencetak 20 gol. Setelah itu ia pindah ke Everton, lalu juga Birmingham City sebelum akhirnya pulang kampung membela klub asal Swedia lainnya, AIK, Djurgardens IF, dan kembali pada IF Brommapojkarna. Pria yang bermain sebanyak 69 laga dan mencetak 6 gol untuk timnas Swedia semasa karir profesionalnya ini juga sempat berlabuh di Amerika Serikat membela Colorado Rapids.

2. Stefan Schwarz

Hans-Jürgen Stefan Schwarz lahir di kota yang sama dengan Zlatan Ibrahimovic, yakni Malmo. Seorang pesepak bola yang berayahkan seorang Jerman ini lahir pada 18 April 1969. Ia adalah pesepak bola kedua asal Swedia yang membela Arsenal. Bak sebuah perlombaan lari estafet, kepergian Anders Limpar pada tahun 1994, langsung disambut oleh kedatangannya di tahun yang sama. Ia diboyong The Gunners dari Benfica.

Stefan-Schwarz-808559

Namun, berbeda dengan Limpar, tidak begitu banyak cerita Schwarz di tim London merah. Ia hanya menjalani satu musim kompetisi bersama Arsenal dengan total memainkan 42 laga dan 3 gol. Salah satu kenangan pemain timnas Swedia yang bermain sebagai gelandang dan bek sayap ini bersama Arsenal yang paling mudah diingat adalah mungkin runner up UEFA Cup Winners' Cup musim 1994/1995. Stefan Schwarz dan Arsenal yang dipimpin oleh Tony Adams dan diarsiteki Stewart Houston (caretaker) dikalahkan oleh Real Zaragoza, 1-2 di partai final.

Setelah itu, ia berlabuh di Fiorentina, lalu juga Valencia, dan juga kembali ke Inggris bersama Sunderland, dimana ia mengakhiri karir profesionalnya di sana, bersama klub yang bermarkas di Stadium of Lights tersebut pada tahun 2003.

3. Freddie Ljungberg

Karl Fredrik "Freddie" Ljungberg adalah pesepak bola Swedia tersukses yang pernah bermain untuk Arsenal. Ia adalah bagian dari skuad The Invincibles, sekaligus salah satu pilar pentingnya. Pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini mengabdi untuk Arsenal dari tahun 1998-2007 setelah sebelumnya diboyong dari klub asal Swedia, Halmstads BK. Untuk ukuran gelandang yang pada akhirnya akan menjadi salah satu gelandang terbaik di EPL, harga belinya terhitung murah hanya sekitar 3 juta poundsterling pada masa itu.

 

Hal unik mengenai Ljungberg adalah ada cerita yang beredar bahwa dasar Wenger menilai Ljungberg bakal menjadi pemain top adalah berdasarkan pertandingan yang disiarkan oleh televisi. Kala itu, timnas Swedia yang diperkuatnya bermain melawan Inggris dan berhasil keluar sebagai pemenang. Arsene Wenger kepincut dengan gaya bermainnya.

 

Padahal, bagi seorang manajer tim sepak bola profesional, biasanya tidak cukup menilai performa seorang pemain hanya dari layar televisi. Biasanya, mereka harus menonton pertandingannya langsung untuk mengonfirmasi bahwa pemain yang hendak diboyong adalah benar berkualitas. Akan tetapi, untuk kasus Ljungberg, Wenger hanya baru melihat permainannya dari televisi saja dan langsung serius ingin mendatangkannya ke Arsenal.

Freddy-Ljungberg

Musim-musim Ljungberg bersama Arsenal jelas penuh kejayaan. Selain menjadi bagian dari tim yang tak terkalahkan pada musim English Premier League (EPL) musim 2003/2004, ia juga menjadi bagian dari tim yang meraih double winner tahun 2002. Khusus untuk gelar EPL musim 2001/2002, Ljungberg menjadi salah satu sosok penting dalam penguncian gelarnya.

Arsenal bertandang ke Old Trafford dengan penuh harap-harap cemas. Jika berhasil mengunci kemenangan atas sang tuan rumah, maka Arsenal berhak atas gelar EPL musim 2001/2002. Dan itu benar terjadi, dimana Arsenal menang 1-0 di akhir laga. Sylvain Wiltord adalah pencetak golnya tapi itu semua mungkin tidak akan terjadi jika tidak ada kontribusi dari Ljungberg.

Pesepak bola yang kala itu berambut merah menyambut umpan terobosan Wiltord, lalu setelah bersusah payah melepaskan diri dari kawalan para pemain belakang Manchester United, ia menendang bola, yang sayangnya, masih dapat dihadang Fabian Barthez. Bola hasil tepisan Barthez kembali mengarah kepada Wiltord dan ia langsung mengeksekusinya menjadi gol. Mereka berselebrasi pada momen itu dan juga pada akhir laga yang sekaligus menandakan gelar liga ke-12 Arsenal (yang ke-2 di era EPL).

Total ia mengoleksi 2 gelar EPL (2001/2002 dan 2003/2004) dan 3 gelar FA Cup (2002, 2003, dan 2005), serta 1 Charity Shield (1999) bersama Arsenal. Freddie Ljungberg adalah benar pria Swedia paling fenomenal dan berprestasi yang pernah dimiliki Arsenal.

4. Rami Shaaban

Sejauh ini hanya ada satu kiper asal Swedia yang pernah berkostum Arsenal dan ia adalah Rami Shaaban. Pria keturunan Mesir dan Finlandia ini didatangkan Arsenal dari klub bernama Djurgårdens IF yang ia bela pada rentang tahun 2000-2002. Diproyeksikan menjadi penerus David Seaman di bawah mistar gawang Arsenal, Shaaban nampaknya mengalami nasib yang kurang baik. Total ia hanya bermain sebanyak 5 laga di semua kompetisi, dengan rincian 3 laga di ajang EPL, 2 laga di UCL.

Cedera adalah yang menjadi momok bagi Shaaban. Di musim perdananya, sekitar bulan Desember 2002 ia mengalami cedera kaki yang cukup parah. Padahal, sebelumnya ia sempat bermain di ajang UCL kala melawan PSV Eindhoven dan AS Roma. Posisi Shaaban semakin terancam karena cedera parahnya tersebut, terlebih lagi Arsenal mendatangkan Jens Lehmann, kiper andalan Borussia Dortmund di awal musim 2003/2004.

maxresdefault

Fakta sejarah yang kita ketahui bersama adalah Jens Lehmann yang benar berjaya sebagai kiper utama Arsenal dan menjalani musim tak terkalahkan yang fenomenal tersebut. Bagaimana dengan Shaaban? Ia tetap terus berjuang pulih dari cederanya. Pada Januari tahun 2004, ia sempat dipinjamkan ke West Ham United tapi gagal menjalani satu laga sekalipun. Di akhir musim, ia dilepas permanen oleh Arsenal.

Setelah dari Arsenal, ia sempat bermain untuk Brighton & Hove Albion pada tahun 2005 lalu kembali menemukan kegemilangannya di klub asal Norwegia, Frederikstad FK. Semasa bermain untuk klub yang bermarkas di Frederikstad Stadion, Frederikstad ini pada rentang tahun 2006-2008 ia sempat dipanggil timnas Swedia dan memainkan 16 laga. Ia kemudian pindah ke Hammarby IF dan mengakhir karir sepak bola profesionalnya di sana pada akhir musim 2011/2012.

Pria penggemar kopi ini diketahui dekat dengan Freddie Ljungberg, kolega senegaranya selama masih di Arsenal. Beberapa orang kerap melihat mereka minum kopi bersama. Rami Shaaban nampaknya kangen dengan Arsenal. Terbukti, kala Arsenal dijamu Ostersunds FK yang berkesudahan 3-0 untuk kemenangan Arsenal, Shaaban menonton langsung pertandingan tersebut di stadion dan menyempatkan diri berfoto bareng Arsene Wenger dan Mohammed El Neny.

5. Sebastian Larsson

Kalau yang satu ini berasal dari tim U-18 Arsenal. Sebastian Bengt Ulf Larsson adalah nama lengkapnya. Pemain yang mampu beroperasi di sisi tengah maupun sayap ini diangkut dari klub lokal Swedia IFK Eskilstuna pada tahun 2001. Di tahun 2004, ia berkesempatan menjalani debut profesionalnya bersama tim utama Arsenal. Akan tetapi, sungguh disayangkan hingga tahun 2007, ia sulit mendapatkan tempat di tim utama dan dilepas permanen ke Birmingham City, yang sempat meminjamnya selama semusim sebelumnya.

Sebastian Larsson

Sebastian Larsson memang pada akhirnya cukup laris di kalangan tim papan tengah EPL karena setelah membela Birmingham City dari tahun 2007 hingga 2011, ia langsung dikontrak oleh Sunderland selama 5 musim ke depan. Pada musim 2017/2018 ia memulai petualangannya bersama Hull City. Fakta menariknya adalah ia selalu menjadi andalan bagi tim yang ia bela dan juga untuk timnas Swedia, terutama untuk spesialisasi tendangan bebas dan sepak pojok.

6. Kristoffer Olsson

Nyaris setali 3 uang dengan Sebastian Larsson. Berasal dari tim U-18 Arsenal setelah sebelumnya diangkut dari klub Swedia IFK Norrkoping, Kristoffer Olsson juga gagal menembus tim utama Arsenal. Kalau Larsson sempat memiliki 3 laga EPL bersama Arsenal, maka Olsson tidak sama sekali. Pada tahun 2014 ia sempat dipinjamkan ke klub Denmark FC Midtjylland, lalu kemudian dipermanenkan pada akhir musim.

Olsson-Scout-Report

Kini ia membela AIK, klub asal Swedia. Mungkin gooners Indonesia yang paling mengingat pemain berposisi gelandang ini karena pada masa pra musim tahun 2013, ia mencetak gol pertama Arsenal ke gawang tim Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno. Jasa Olsson untuk tim utama Arsenal di ajang resmi adalah kala masuk menggantikan Isaac Hayden di lanjutan Piala Liga menghadapi West Bromwich Albion. Ia mencetak gol dari titik putih kala Arsenal menundukkan sang tuan rumah lewat babak adu tendangan penalti yang berkesudahan 3-4.

7. Kim Källström

Pemain yang satu ini sebenarnya bukanlah pemain yang buruk. Hampir di semua klub yang pernah ia bela, ia pasti selalu menjadi pemain inti, gelandang andalan. Kim Källström menemui puncak karirnya bersama Lyon pada rentang tahun 2006-2012. Ia lalu bermain untuk Spartak Moscow, dan di tahun 2014, Arsenal meliriknya.

Ia didatangkan pada transfer musim dingin tahun 2014 dengan status pinjaman. Tujuan Arsenal kala itu adalah menjadikannya pelapis bagi pemain-pemain gelandang Arsenal yang dibekap cedera. Wenger sebenarnya juga tak salah-salah amat menunjuknya karena Källström ini gelandang serba bisa, dimana ia dapat bermain di tengah, maupun melebar. Ia juga dapat bermain agak ke dalam, maupun lebih menyerang.

Kallstrom

Akan tetapi, sebuah kabar menyedihkan beredar hanya beberapa hari selang bursa transfer musim dingin ditutup. Kim Källström dikabarkan langsung cedera. Belum main padahal tapi kok langsung cedera? Bagaimana bisa?

Hal itu dibeberkan langsung oleh Källström dalam sebuah wawancara dengan radio swasta Swedia, Sveriges Radio. Dalam wawancara tersebut ia bercerita bahwa ketika menjalani tes X-Ray di Arsenal, dokter menunjukkan bahwa ia mengalami masalah di punggungnya. Akibat itu, ia harus menepi selama 4-6 pekan.

Pada akhirnya, Källström tak banyak bermain untuk Arsenal, tetapi ia bukannya tanpa jasa sama sekali. Tendangan penalti yang sukses ia lesakkan ke gawang Wigan Athletic menjadi salah satu jasa pentingnya untuk The Gunners. Berkat itu, Arsenal mampu lolos ke final dan menjadi juara. Sebuah gelar juara yang berharga, gelar FA Cup 2014, yang amat dinanti-nanti selama 9 tahun masa paceklik gelar Arsenal.

Penulis: Katondio Bayumitra Wedya | @katondiobw

Read more...

Tak Panik, Kunci Kemenangan Arsenal

Arsene Wenger mengungkapkan bahwa salah satu kunci kemenangan timnya di Community Shield adalah selalu tenang dan tak panik melawan Chelsea.

The Gunners sempat tertinggal lebih dahulu pada pertandingan di Wembley tersebut setelah Victor Moses mencetak gol di awal babak kedua. Arsenal sendiri kerap kesulitan menembus pertahanan The Blues karena performa solid dari David Luiz cs di lini belakang.

Namun kesabaran mereka akhirnya berbuah hasil. Di awal oleh pelanggaran keras Pedro kepada Mohamed Elneny yang berbuah kartu merah, The Gunners mencetak gol penyama kedudukan delapan menit sebelum pertandingan berakhir lewat sundulan Sea Kolasinac memanfaatkan umpan tendangan bebas Granit Xhaka.

Usai pertandingan, Wenger mengatakan bahwa tak adanya kepanikan di permainan mereka meskipun tertinggal menjadi kunci mereka bangkit untuk kemudian menyamakan kedudukan.

"Saya sangat senang karena kami memenangkan piala. Kualitas permainan sangat bagus dan kedua tim benar-benar memberikan segalanya. Kedua tim bermain dengan banyak intensitas dan kualitas," ujarnya.

"Bahkan saat kami tertinggal 0-1, kami tak panik dan tetap mengontrol permainan kami untuk akhirnya bangkit," sambungnya.

Arsenal sendiri pada akhirnya menjadi juara setelah dua algojo penalti Chelsea, Thibaut Courtois dan Alvaro Morata gagal menjalankan tugasnya dengan baik.

Sumber: bola.net

Read more...

Wenger: Tidak Ada Laga Persahabatan Arsenal vs Chelsea

Arsenal akan menghadapi Chelsea pada laga uji coba pramusim di Beijing National Stadium, Sabtu (22/7) petang WIB. Meski hanya bertitel laga persahabatan, bagi Arsene Wenger laga ini akan berjalan sulit.

Menurut Wenger, laga antara Arsenal melawan Chelsea akan tetap berjalan sengit. Bahkan, ia menilai jika perjumpaan kedua tim tidak pernah benar-benar bisa disebut sebagai sebuah laga persahabatan.

"Sulit untuk diprediksi, tapi ini adalah laga persahabatan antara Chelsea dan Arsenal. Meski itu tidak pernah berarti benar-benar persahabatan," ucap Wenger dikutip dari Soccerway.

Arsenal sendiri menutup musim kompetisi 2016/17 dengan berjumpa Chelsea di Final Piala FA. Pada laga yang berlangsung bulan Mei lalu tersebut, The Gunners menang dengan skor 2-1 lewat sepasang gol Alexis Sanchez dan Aaron Ramsey.

Bagi Wenger, perjumpaan dengan Chelsea selalu membawa sebuah pertaruhan besar. Kedua tim ingin tampil lebih superior dibandingkan lawannya. Apalagi, mereka juga memperebutkan gengsi sebagai tim terbaik di London.

"Selalu ada keinginan untuk lebih superior. Kami melawan mereka di Piala FA, kami juga akan memainkannya di Community Shield melawan mereka pada awal musim," tandas Wenger.

Sumber: bola.net

Read more...
Subscribe to this RSS feed