Menu

Memahami Arsenal Lewat Statistik

Salah satu yang paling mengagetkan di pekan perdana Premier League musim ini adalah kekalahan 0-2 Arsenal atas West Ham United di Emirates. Arsenal yang terlihat sangat kuat saat pra musim dan seminggu sebelumnya menumbangkan Chelsea di Wembley malah jadi figuran dalam debut Slaven Bilic, Reece Oxford, dan Dimitri Payet di panggung Premier League. Meski kekalahan tersebut tak bisa dibenarkan, namun jika melihat statistiknya musim lalu Arsenal dan Arsene Wenger harusnya bisa mengerti mengapa mereka kalah.

Musim lalu West Ham United adalah klub kedua di Premier League setelah West Bromwich Albion yang paling sering mencetak gol lewat sundulan kepala. Maka gol pembuka Cheikhou Kouyate tak begitu mengagetkan sebenarnya, apalagi dari 36 gol yang bersarang ke gawang Arsenal di Premier League musim lalu 36% diantaranya berasal dari sundulan. Maka agak mengherankan mengapa barisan pertahanan Arsenal menerapkan high defensive line dalam mengantisipasi tendangan bebas Dimitri Payet saat itu. Ekses dari penerapan metode itu adalah membuat para pemain West Ham punya jarak lari yang cukup lumayan untuk menyambut tendangan bebas Payet dan kenyataannya memang demikian dimana Petr Cech terlambat memotong bola karena memang jaraknya yang terlalu jauh.

Dari statistik sederhana di atas seperti itu saja kita sudah dapat mengerti mengapa sebuah kejadian bisa terjadi dan atas dasar itu pula kita bisa menilai sesuatu dengan valid, dimana dalam hal ini adalah Arsenal. Dalam tulisan “Arsenal, being Arsenal” lalu juga sempat saya tuliskan bahwa Arsene Wenger adalah salah satu pelatih yang mengagungkan statistik. Data statistik sudah tidak dapat dipisahkan dari sepak bola, terlebih sekarang ini. Maka seyogianya statistik sudah harus dianggap lebih dari sekadar coretan di atas kertas semata, termasuk oleh para fans. Dalam buku luar biasanya, Inverting the Pyramid, Jonathan Wilson mengutip kata-kata salah penyair Romawi kuno, Virgil, “felix qui potuit rerum cognoscere causas” yang artinya beruntunglah ia yang mengerti penyebab dari segala sesuatu.

Giroud?

Mungkin secara aklamasi semua pundit setuju bahwa Arsenal harus beli penyerang baru untuk mengakhiri puasa gelar liga. Mulai dari Thierry Henry, Ray Parlour, hingga Harry Redknapp mengatakan satu-satunya penyerang murni Arsenal sekarang ini, Olivier Giroud, dianggap kurang tajam dan terlalu sering membuang peluang. Sebuah penilaian yang benar jika dilihat dari sudut pandang tersebut karena selama 3 musim pertama Giroud di Premier League, shot accuracy pria Prancis tak pernah melebihi 50%. Bahkan musim lalu di Premier League akurasi tendangan Giroud lebih buruk ketimbang Theo Walcott, Danny Welbeck, dan Santi Cazorla, apalagi dengan Alexis Sanchez. Maka membeli penyerang baru kelas satu nampaknya sebuah keharusan bagi Arsenal.

Saat lawan West Ham sendiri Giroud adalah pemain yang paling sering melakukan tendangan ke gawang dengan 5 kali percobaan. Namun hanya 2 dari percobaannya itu yang benar-benar mengarah ke gawang Adrian karena 2 lainnya melenceng dan satunya lagi berhasil diblok. Bandingkan dengan Sanchez yang meski hanya bermain sekitar 24 menit mampu melakukan 3 kali tembakan tanpa satu pun yang melenceng (2 on goal & 1 blocked).

 

Terlepas bahwa itu hanya dari satu pertandingan 90 menit, apa yang terjadi lawan West Ham membenarkan apa yang dianggap mereka yang berpandangan konvensional sebagai sebatas angka di atas kertas semata. Musim lalu dari total 70 tendangan Olivier Giroud di Premier League hanya 29 diantaranya yang benar-benar mengarah ke gawang. Alexis Sanchez? Dengan 8 penampilan lebih banyak dari Giroud, Sanchez sukses melepaskan 121 tembakan pada musim debutnya di Premier League dimana hanya 30 yang melenceng dari gawang (42 blocked). Maka jangan heran jika di pertandingan-pertandingan Arsenal berikutnya Anda melihat tendangan Giroud lebih sering meleset ketimbang Sanchez.

Wenger, Roberto Martinez, Michael Cox, & Kick and Rush

Arsene Wenger termasuk salah satu pelatih yang paling awal yang menggunakan data statistik untuk menilai seorang pemain. Pada akhir 80-an saat masih menjadi pelatih AS Monaco, Wenger menggunakan program komputer yang disebut Top Score buatan temannya untuk menilai performa pemainnya. Sekitar tahun 2002 Dennis Bergkamp sempat bertanya kepada Wenger mengapa dirinya tak pernah dimainkan secara penuh dan sering digantikan. Guna menjawabnya Wenger menunjukkan statistik pada Bergkamp yang menyatakan bahwa setelah 70 menit kecepatan dan jarak larinya berkurang yang maka dari itu pria Belanda sering diganti. Bergkamp lantas bisa mengerti dan belakangan ia menyebut Wenger sebagai profesor sepak bola.

Ada apa dengan Roberto Martinez? Well, dalam buku The Numbers Game-nya Chris Anderson dan David Sally yang luar biasa tersebut sedikit dibahas bagaimana Martinez bekerja. Setiap seusai pertandingan dengan komputer pribadinya di rumah, Martinez selalu menganalisa bagaimana performa timnya. Dengan Prozone (Sports Performance Analysis) Martinez menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari kekurangan pada anak asuhannya. Padahal di sisi lain masih banyak pelatih yang hanya sekadar memakai intuisi pribadi, melihat pemainnya di tempat latihan, dan meminta saran pada staff serta scout. Itu satu hal yang membuat Martinez satu langkah lebih maju daripada beberapa pelatih lain.

Namun sebenarnya saat masih dilatih David Moyes, Everton juga sudah memakai cara yang hampir sama. Steve Brown and Paul Graley menghabiskan waktu mereka untuk menganalisa dengan sangat detail berbagai macam hal mengenai pemain Everton sendiri juga lawan. Mereka mengkombinasikan antara apa yang bisa dilihat dengan kasat mata di lapangan dan saat latihan oleh para tim pelatih dengan data-data rinci yang sebagian berupa angka. Bahkan Brown dan Graley juga bekerja one-on-one dengan masing-masing pemain. Berbagai hal yang dilakukan keduanya menjadi acuan bagi Moyes dalam meramu skuatnya karena dari proses itulah pelatih asal Skotlandia itu tau kelemahan dan kelebihan timnya dan juga lawan yang akan dihadapi.

Selain Prozone, masih banyak juga sports data company lain yang sangat membantu sebuah tim sepak bola. Satu yang paling terkenal adalah Opta Sports yang basis utamanya di London. Lalu ada lagi Impire di Jerman, Infostrada di Belanda, serta Match Analysis dan StatDNA di Amerika Serikat. Data yang mereka punya bukan hanya berguna bagi tim pelatih, tapi juga entitas yang lain seperti pemain sepak bola itu sendiri, jurnalis, eksekutif, akademisi, perusahaan pembuat video game, hingga rumah taruhan.

Lalu, apa yang dilakukan Michael Cox dengan Zonal Marking miliknya menyadarkan semuanya bahwa seorang fans biasa juga berhak bicara soal taktik sepak bola asal punya pengetahuan dan pemahaman yang cukup. Pemuda Inggris tersebut juga sempat menulis preview singkat mengenai pertandingan Arsenal vs West Ham di www.arsenal.com beberapa waktu lalu. Dalam banyak tulisannya Cox hampir selalu mencantumkan berbagai statistik yang mengagumkan dan sangat berguna serta detail.

Sedangkan jika mundur puluhan tahun lalu ada nama Charles Reep yang secara tidak langsung menciptakan apa yang kita kenal dengan gaya bermain kick and rush. Pria kelahiran Cornwall tersebut bukanlah pemain maupun pelatih sepak bola, melainkan seorang akuntan. Sepanjang karirnya dia mencatat data lebih dari 2.200 pertandingan lalu diamati selama 8 jam per pertandingannya. Chris Anderson dan David Sally menyebut Reep sebagai first football analyst.

Cerita Arsene Wenger, Roberto Martinez, Michael Cox, dan Charles Reep tersebut semakin mempertegas bahwa angka statistik bukanlah hal sekunder dalam sepak bola. Namun meskipun begitu statistik harus dibaca dengan benar dan kontekstual. Dalam buku Die Fussball-Matrix, Christoph Biermann menjelaskan pada 2004 saat Wenger sedang mencari suksesor Patrick Vieira, pelatih Arsenal itu mengetahui bahwa ada pemuda Olympique Marseille bernama Mathieu Flamini yang berlari sejauh 14 km setiap pertandingannya. Meski begitu Wenger mencari tau juga apakah dalam jarak lari yang mencengangkan itu Flamini berlari ke arah yang benar atau tidak. Kesalahan membaca data statistik sempat dilakukan oleh Sir Alex Ferguson dan Florentino Perez saat menjual Jaap Stamp dan Claude Makelele. Sir Alex dan Perez membaca statistik Stamp dan Makelele secara sederhana dan yang kasatmata saja.

Arsenal Statistics

Sekali lagi, membaca statistik harus kontekstual dan tidak boleh sporadis. Meski Mikel Arteta punya akurasi umpan lebih tinggi ketimbang Mesut Ozil, bukan berarti Arteta lebih cocok dijadikan sebagai playmaker. Harus dilihat arah umpan serta dimana saat melepaskan umpannya. Apakah di daerah lawan, atau apakah di area permainan sendiri. Sebagai contoh, Manchester United musim lalu tercatat sebagai klub kedua setelah Manchester City yang paling sering melakukan passing di Premier League sebanyak 20.646 dimana tingkat akurasinya sebesar 86% (17.674). Sedangkan Arsenal yang dikenal dengan gaya bermain umpan-umpan pendek hanya 19.827 kali melakukan passing dengan akurasi 84%. Meski begitu salah jika menilai United lebih sering menguasai pertandingan ketimbang Arsenal karena dari 20.646 passing yang dilakukan anak asuhan Louis van Gaal itu 39,7% diantaranya ke belakang. Sedangkan hanya 34,3% dari keseluruhan passing Arsenal yang mengarah ke belakang.

Possession

Tak sedikit yang muak saat Arsenal gagal mencetak gol padahal unggul dalam ball possession, seperti laga pembuka lawan West Ham lalu dimana The Gunners menguasai bola sebesar 58%. Jika acuannya semua laga Premier league musim lalu, fans Arsenal rasanya tak perlu kaget karena klub yang menguasai ball possession persentase kemenangannya hanya sebesar 41%. Kalau melihat dari sisi Arsenal sendiri, apa yang tercatat lewat statistik juga menggambarkan kenyataannya. Kemenangan sensasional 2-0 atas Manchester City di Etihad dan 4-1 atas Liverpool di Emirates diraih saat Arsenal kalah dalam hal ball possession.

Khusus mengenai partai lawan West Ham, yang patut dipersoalkan bukan mengenai ball possession melainkan shot accuracy. Seperti yang kita tau bahwa saat lawan The Hammers akurasi tendangan Arsenal hanya 43%. Musim lalu dari 12 kemenangan di kandang, hanya di 4 pertandingan diantaranya saja shot accuracy Arsenal kurang dari 50% itu pun karena peluang yang dihasilkan lebih banyak. Maka terlalu berlebihan jika menilai Wengerball yang menekankan pada ball possession dan umpan-umpan pendek sudah usang karena sejatinya sebuah konsep selalu sempurna, hanya soal penterjemahannya saja yang beda di setiap laga. Bukankah setelah konsep bernama Tiki-taka yang dinilai sudah “tak berguna” di Piala Dunia 2014 mampu menjadikan nama Luis Enrique sejajar dengan Pep Guardiola setahun kemudian?

Arsene Wenger sendiri yang merupakan salah satu orang yang membuat Arsenal lebih besar seperti saat ini saja menilai bahwa data statistik sangatlah penting. Maka semua fans sepak bola secara umum atau para gooner secara khusus harusnya lebih aware lagi terhadap data statistik. Seperti kata mantan performance director Bolton Wanderers dan Chelsea, Mike Forde, “football is becoming clever”.

 

Oleh: Atfan Hidayat

Twitter : @atfanhidayat
Blog : notpolymath.wordpress.com

 

Nobar Seru Community Shield bersama Gooners Banten

 

Hari minggu (2/8) yang lalu merupakan hari yang ditunggu bagi para penggemar liga inggris khususnya para penggemar the gunners dan the blues di seluruh dunia. Di hari tersebut sebuah pertandingan besar yang mempertemukan jawara liga inggris 2014/2015, Chelsea dengan juara FA cup 2014/2015 Arsenal, duel sesama tim London memperebutkan sebuah trophy The FA Community Shield.
Atmosfer derby London pun tampaknya menular di kota Serang, komunitas yang bernama Arsenal Indonesia Supporter (AIS) Regional Serang mengadakan acara nonton bareng sekaligus silaturahmi yang dihadiri Gooners se-Banten dan juga fans Chelsea.

Bertempat di GOR Maulana Yusuf-Ciceri atmosfer Gor pun begitu riuh dengan chants chants yang dikumandangkan para fans arsenal dan Chelsea.

Para Gooners yang hadir diantaranya dari AIS Serang, AIS TANGERANG, AIS Rangkas, Gooners Tangkot, Gooners Tangbar, Gooners Tangsel, Gooners ciledug, Gooners Pandeglang, dan juga Gooners Cilegon.

Oleh: Komarscky (AIS Serang)

Road To #AISS2AJUARA1

Malam itu yaitu tepat pada tanggal 8 juli 2015 kita dari AISSRA Mengadakan Event yang bertajuk Road To #AISS2AJUARA1 ,Ya, kalimat itu buat kita AISSRA (Arsenal Indonesia Supporter Regional Sragen), adalah sebuah symbol untuk saat ini, dimana pada event tersebut kita dengan bangga menyambut kedatangan kembali liga terbaik di Dunia Yaitu Liga inggris.

Tidak Hanya itu saja, Dalam upaya mempererat tali silaturahmi antar sesama anggota AIS SRAGEN, ex-leader AIS SRA mengundang semua anggota AIS SRA untuk datang ke kediamannya di desa Gondang Kab.Sragen tanggal 8 Agustus kemarin. Acara tersebut selain bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi juga untuk ramah tamah dan sekedar sharing yang berguna untuk masing-masing anggota pada khususnya serta untuk kemajuan AIS SRA pada umumnya. Acara yang diadakan ini besifat tidak formal sehingga teman-teman bisa bersantai dan menikmati sabtu malam mereka dengan berkumpul dan bercanda untuk hal-hal yang positif.

Acara sedianya dimulai pada pukul 20.00 wib menurut undangan yang ada, tetapi mungkin karena kesibukan teman-teman dari AIS SRA maka mereka semua baru bisa berkumpul sekitar pukul 21.00 wib. Walaupun tidak semua teman-teman dari AIS SRA bisa datang karena berbagai alasan dan kegiatan masing-masing acara tersebut tetap berjalan lancar dan seru dengan berbagai kelucuan dan guyonan yang dilontarkan teman-teman yang hadir. Ada lebih dari 10 orang teman-teman dari AIS SRA yang hadir malam itu, walau tidak sampai berjumlah ratusan orang yang ada tetap saja suasana desa yang begitu tenang dan sunyi di malam hari sedikit dibisingkan dengan keberadaan teman-teman yang berkumpul sendau gurau dan penuh canda tawa.

Sebenarnya ada banyak acara yang ada di daftar malam itu, ada PES battle, Chants Clinic, bakar-bakar daging atau dalam istilah keren jaman sekarang barbeque-an, pembagian doorprize dari pak ex-leader dan masih banyak lagi. Setelah teman-teman sharing mengenai perkembangan Arsenal dan perkembangan AIS SRA kemudian ada yang langsung bermain PES untuk membuktikan siapa yang terbaik dalam memainkan game sepak bola besutan KONAMI ini. Seperti biasa dan sebelum-sebelumnya mas angga yang akrab dipanggil ope langsung nyetel dengan game yang satu ini karena memang merupakan permainan yang sering sekali dimainkan olehnya. Lawan pertamanya yaitu mas yudo yang terkenal tangguh dalam bermain futsal, tetapi tetap saja kalah tangguh dari mas ope dalam bermain PES, lalu ada mas anung melawan mas mencho yang seimbang dalam waktu pertandingan normal tetapi keberuntungan lebih berpihak pada mas anung di extra time, kemudian dikuti permainan PES yang dialkukan oleh teman-teman yang lain.

Ya disamping Itu ada acara lain yang menarik yaitu Chants Clinic, yang merupakan Ajang belajar Chants (Nyanyian,dukungan) untuk klub kami tercinta yaitu Arsenal FC, Tidak hanya itu,ada juga ajang Barbeque Bareng di depan rumah pak ex-leader. Dengan pengetahuan tentang bakar-bakaran yang seadanya teman-temanpun langsung mengawali dengan melumuri daging ayam dengan bumbu yang bisa dibilang dibuat secara asal-asalan (campuran saos dan sambal saja) kemudian dilumuri ke ayam yang untungnya sudah setengah matang yang telah disiapkan sebelumnya. Acara bakar-bakaran ini dipimpin langsung oleh mas yudo yang sekaligus merangkap menjadi chef dadakan di malam itu. Setelah semua daging dibakar dan dirasa sudah cukup matang, semua teman-teman AIS SRA berkumpul untuk menyantap daging ayam bakar alah chef mas yudo. Rasa dan warna tindak menjadi alasan bagi kami semua untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan, yang terpenting adalah kumpul bersama, makan bersama, kenyang bersama.

Setelah kenyang makan dan waktu juga sudah larut malam, kami semua ingin berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing, tetapi eits ada yang ketinggalan, pembagian doorprize Original dari Arsenal FC yang telah dijanjikan tuan rumah belum terlaksana. Akhirnya doorprize dibagikan dengan cara diundi dengan kocokan seperti yang dilakukan ibu-ibu arisan Waktu menujukkan hampir pukul 02.00 pagi dan kami semuapun berpamitan dan berterima kasih tas jamuan yang diberikan serta atas waktu berkumpul yang sangat berharga itu.Untuk kedepan,semua event dari AISSRA akan Bertajuk #AISS2AJUARA1 termasuk mengikuti turnamen futsal tim Umum yang ada di kota Sragen. Semoga dengan adanya acara-acara semacam ini AIS SRA akan menjadi kelompok supporter yang baik di Sragen khususnya serta secara nasional maupun internasional umumnya. #AISS2AJUARA1

Melalui Mini Gathering AIS Regional Baubau Mantapkan Program Kerja

Arsenal Indonesia Supporters (AIS) Regional Baubau yang kini beranjak dalam usianya yang 5 (lima) bulan akan terus mengepakkan sayap untuk terbang lebih tinggi dan akan terus mengekspresikan diri demi kecintaannya kepada Arsenal. Untuk mencapai impian tersebut tentu terselip banyak rintangan dan halangan ke depannya, tapi dengan semangat dan usaha tentunya akan bisa dicapai dengan kerja sama dan kerja keras. Sebagai langkah awal maka AIS Regional Baubau mengadakan Mini Gathering untuk pembahasan program kerja untuk periode tahun 2015.

Mini Gathering diadakan pada hari Minggu, 16 Agustus 2015, bertempat di pantai nirwana Baubau yang berjarak sekitar 10 km dari pusat kota. Pantai dengan pasir putih dengan kemilau airnya yang berwarna biru jernih dan ombak yang tenang membuat para pengunjung bebas bermain dan berenang di sekitaran pantai. Acara dimulai pada pukul 08.00 Wita yang dibuka langsung oleh Darmawan Samandi selaku koordinator AIS Baubau. Dalam sambutannya Darmawan mengatakan Mini Gathering ini diadakan untuk lebih menjalin rasa kekeluargaan sesama Gooners/Goonerettes, menciptakan keharmonisan, meningkatkan kerja sama dan tentunya sebagai media dalam pembahasan program kerja ke depannya.

Salah satu senior yaitu Wawan Tri Wahyudi menyampaikan sepata kata bahwa dengan Gathering ini mari kita tetap menerapkan falsafah orang Buton “Bholimo Karo Somanamo Lipu” yang artinya kurang lebih mengutamakan kepentingan bersama/umum dibanding kepentingan pribadi, jadi kesimpulannya dengan AIS ini mari kita mengutamakan kebersamaan dan kekeluargaan.

Acara cukup meriah dengan dihadiri sekitar 30 orang Gooners/Goonerettes termasuk sanak family yang dibawa ikut serta. Dalam pembahasan program kerja yang berlangsung sekitar satu jam maka disepakati untuk program kerja periode tahun 2015 yaitu kegiatan rutin setiap minggu yaitu nonton bareng (nonbar) dan fun futsal, untuk kegiatan non rutin disepakati akan diadakan kopdar minimal sekali sebulan untuk pembahasan dan evaluasi kinerja AIS, Mini Gathering, pembuatan data base anggota dan seragam futsal.

 

Program Bakti Sosial (Charity) dan event lainnya akan di agendakan untuk tahun ini, dimana pada bulan Ramadan lalu telah dilaksanakan kegiatan berbagi dengan anak yatim dan selanjutnya menjadi agenda utama yaitu kegiatan donor darah yang akan kita jalin kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cab. Baubau serta pihak lainnya. Akhir acara ditutup dengan foto bersama dirangkaikan dengan santap siang bersama.

 

Penulis: Muhammad Iqbal (@iqbalhalilintar)

Subscribe to this RSS feed