Menu

Arsene Wenger Dan Hobinya Yang Tidak Lazim

Berbicara tentang hobi, berbicara tentang sebuah aktivitas yang dilakukan secara suka cita, entah dilakukan secara individu maupun kolektif.

Setiap orang mempunyai hobinya masing-masing, begitupun Arsene Wenger, pria asal Perancis yang tahun ini menginjak umur ke-65 nya. Sekilas beliau tampak lebih terlihat seperti CEO Apple alih-alih seperti manajer sepak bola.

Di saat pria sebaya yang lain sedang menimang cucu-cucu nya yang sangat menggemaskan di atas kursi goyang sembari menunggu kedatangan malaikat maut, Wenger berbeda. Sebagai manajer Arsenal yang hobinya menjual seorang kapten. Wenger tampak terlihat seperti Si tua Carl Fredrickson dalam film "UP"

Sebagaimana kita tahu kapten mempunyai peran yang begitu vital dan krusial dalam sebuah tim sepak bola, sebagai pemimpin di lapangan dan sebagai penerjemah keinginan pelatih. Pengkultusan seorang kapten tidak hanya di tilik dari kapasitas permainan di dalam lapangan, tetapi usia, senioritas, sifat, dan sikap pun menjadi faktor pendukung.

Di Arsenal ada sebuah anekdot 'Wenger's Captain'. Siapapun yang ditunjuk sebagai kapten oleh Arsene Wenger akan berakhir dengan angkat kaki dari Ashburton Grove. Berikut akan saya runut siapa saja yang hengkang dari Arsenal saat menjabat sebagai kapten.

1. Patrick Vieira

Salah satu pemain yang dicintai oleh fans Arsenal. Versatile, bulldozer, and a great leader. Menggantikan peran Tony Adams di tahun 2002. Pencapaian terbaiknya sudah tentu sebagai kapten di era Invicible. Di medio 2005 di transfer ke Juventus seharga £13 Juta karena isu age policy yang diterapkan di Arsenal.

2. Thierry Henry

Ban kapten Arsenal masih mencari mangsanya. Sepeninggalnya Vieira, Henry dikultuskan sebagai kapten oleh Wenger. 254 penampilan dengan 174 gol tentu bukan pencapaian yang mudah. Namun, saat baru 2 musim menjadi kapten Henry memutuskan untuk mencari tambatan hati baru, yaitu Barcelona. Dalih nya beragam, sama seperti wanita yang meminta putus pacarnya dengan alasan jenuh. Mulai dari cidera, pemain muda dan tentunya adalah 'Big Ear'.

3. William Gallas

Baru 1 musim di Arsenal dan sudah ditunjuk jadi kapten. Saya tidak tahu apa alasan Wenger memilih Gallas sebagai kapten. Mungkin di suatu malam minggu yang terang dipusat kota Bordeaux, Gallas mentraktir Wenger satu krat Monseigneur wine di sebuah restoran mewah dengan tujuan agar ditunjuk sebagai kapten. Wenger pun setuju dengan tawaran tersebut. Penawaran tersebut hanya berlangsung 1 musim saja, Wenger lebih tertarik dengan tawaran churros dengan coklat hangat yang meleleh dari Fabregas. Tidak, saya bercanda. Wenger melepas jabatan kapten dari Gallas karena perilakunya yang buruk baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

4. Cesc Fabregas

Dikultuskan sebagai kapten saat berusia 21 tahun, di gadang-gadang sebagai The Next Tony Adams. Tapi, apadaya sebagai seorang perantau, Fabregas merasa homesick dan rasa kangen akan Catalunya tidak terbendung. Akhirnya Fabregas resmi pindah ke Barcelona Agustus 2011 silam.

5. Robin Van Persie

Serial-killer Arsenal captain masih berlanjut. Setelah Fabregas pergi, Wenger menunjuk Van Persie yang mempunyai kekuatan indigo, yaitu bisa berbicara dengan 'little boy inside him'. Baru 1 musim berjalan little boy yang ada dalam diri Van Persie berteriak "Manchester United". Karena Wenger tidak mau disantet akhirnya beliau melepas Van Persie dengan berat hati ke Manchester United dengan mahar £24 Juta.

6. Thomas Vermaelen

Saya tidak akan mengejek pahlawan kemenangan kontra Newcastle. Kepergian Vermaelen tentu beralasan kuat. Ketatnya persaingan di lini belakang Arsenal dan sudah cocoknya antara Mertesacker-Koscielny, ditambah kedatangan Calum Chambers tentu mengancam posisi Vermaelen. Jika tidak mendapatkan waktu bermain yang layak, posisinya di timnas Belgia akan tergeser. Good luck, Capt!

* * *

Jika kita menarik benang merah dari hobi Monsieur Arsene Wenger yang tidak lazim ini, terdapat beberapa kesamaan diantara Eks Kapten Arsenal tersebut, yaitu dijual saat usia mereka hampir menginjak usia 30, kecuali Fabregas.

Melepas Henry di usia 29 tahun, Vieira 29 tahun, Van Persie 29 tahun, Gallas 32 tahun, Fabregas 24 tahun dan Vermaelen 28 tahun. Menurut Peter Taylor, tangan kanan Brian Clough si mahaguru transfer dalam bukunya With Clough by Taylor mengatakan bahwa cahaya para pesepakbola Divisi Pertama secara rata-rata mulai memudar saat mereka menginjak usia tiga puluh tahun. Hal ini tampaknya diterapkan oleh Wenger di Arsenal. Ia percaya bahwa pemain mencapai puncak performa mereka pada awal usia 30an.

Wenger berusaha mengadaptasi pakem transfer Brian Clough tersebut. Sebagai ekonom terdidik, beliau lebih percaya data ketimbang mitos-mitos di dalam sepakbola. Ia memanfaatkan statistik dalam mengevaluasi pemain sehingga dapat mengetahui pemain mana yang performanya menurun sehingga siap digantikan atau bahkan dimasukkan kedalam daftar transfer. Ketika Dennis Bergkamp mulai memasuki usia 30an, Wenger seringkali menggantikannya menjelang akhir laga dan Wenger hanya perlu menunjukkan datum statistik pertandingan dan mengatakan: "Lihat Dennis, setelah 70 menit kau mulai kurang banyak berlari, dan kecepatanmu pun menurun." Menyadur dari Taylor dalam bukunya, 'Anda harus mampu menjual pada waktu yang tepat'.

Hobi Wenger menjual pemain Eks Kapten tentu mempunyai alasan yang kuat. Sebagai manajer sepakbola tugas Wenger tidak hanya melatih, membeli, dan menjual pemain, tetapi juga mengatur neraca keuangan klub, memperhitungkan gaji pemain, membayar hutang operasional klub dan tetek bengek lainnya. Mengingat kepindahan Arsenal ke Emirates Stadion yang seharga £390 juta membuat Wenger harus bijaksana dalam memperhitungkan pengeluaran.

Wenger mungkin adalah salah satu dari Brian Clough yang lainnya, yang bijaksana dalam mengoperasikan sebuah klub sepakbola. Untuk dapat bertahan di lingkungan sepakbola modern dengan segala industrialisasinya, Wenger bersama Arsenal perlahan-lahan meniti tangga kemenangan tanpa harus perlu menghambur-hamburkan uang untuk pembelian pemain seperti Chelsea dan PSG.

Tapi, mengingat hutang Emirates Stadion sudah lunas, boleh lah beli 1 gelandang bertahan dan 1 striker.

Yang Terhormat Professor Monsieur Arsene Wenger tidak kah hati anda tergerak untuk menjadikan Diaby sebagai kapten?

Arsenal, Kakek Tua dan Anak Asuhnya: Sebuah Cerita

Suatu hari di Kota London, tidak jauh dari Islington. Tepatnya di Desa Arsenal. Terdapat sebuah Panti Asuhan bernama Ashburton Grove Orphanage. Orphanage merupakan tempat berkumpulnya anak-anak yang sudah kehilangan orangtua nya. Tinggal lah seorang kakek tua bernama Arsene Wenger serta anak-anak asuh nya yang lugu. Mereka adalah Cole, Clichy, Robin dan Fabregas. Sejak kecil mereka dirawat dan diasuh oleh perawat Wenger. Wenger memperlakukan anak-anak asuhnya sama seperti anaknya sendiri.

Walau begitu, mereka hidup dalam kondisi serba pas-pasan. Agar anak-anak asuh nya tetap hidup, Wenger pun memutuskan untuk membuka online shop di Instagram. Dari 4 anak asuhnya, Cole merupakan yang paling tua. Karena umurnya yang jauh diatas anak-anak lainnya menjadikan Cole semena-semana. Suatu hari Cole protes kepada Wenger karena uang jajan nya sama seperti anak-anak lainnya padahal dia lebih tua dari yang lainnya, dia ingin uang jajannya lebih banyak. Wenger pun menjelaskan bahwa ia harus adil kepada semua anak. Karena kemauannya tidak dituruti akhirnya Cole keluar dari ruangan perawat Wenger.

Di medio 2006, di suatu pagi. Datanglah seorang pengusaha kaya raya asal Russia, bernama Abramovich. Dia mengatakan mendengar desas-desus bahwa di Desa Arsenal terdapat Panti Asuhan yang berisi anak-anak multi talenta yang bisa dijadikan pekerja. Dia ingin menjadikan anak asuh Wenger sebagai anak angkatnya. Abramovich juga mengiming-imingi harta yang berlimpah kepada Wenger dan berjanji akan merawat anak tersebut dengan baik. Namun, Wenger menolaknya. Akhirnya pengusaha tersebut pulang.

Ternyata Cole menguping percakapan tersebut. Dia membayangkan kehidupan yang mewah bersama Abramovich. Cole bosan hidup pas-pasan, dia bosan mengkonsumsi sereal dan teh tiap hari. Logika dan emosi nya bertarung. Di sisi lain Cole menghormati Wenger karena dia yang merawat dan mendidik Cole hingga sekarang. Akhirnya Cole memutuskan untuk hengkang dari Panti Asuhan Ashbutron Grove. Untung tak dapat diraih, sial tak dapat dihindari. Wenger hanya bisa pasrah atas keputusan Cole, Akhirnya Cole pergi dan mendapatkan kemewahan yang tidak dia dapatkan di panti asuhan Ashburton Grove.

Di tahun 2008, Ashburton Grove Orphanage kembali mendapatkan 2 orang anak yang kehilangan orang tuanya. Bernama Ramsey dari Cardiff Agency dan Nasri dari Marseille Agency. Wenger dan anak-anak asuh lainnya merasa bahagia karena kedatangan keluarga baru.

Beberapa tahun setelah kepergian Cole, Panti Asuhan Ashburton Grove kedatangan seorang uztadz dari Abu Dhabi bernama Syeikh Mansour. Dia ingin mengadopsi anak karena istrinya mandul. Mansour tertarik dengan Clichy karena mempunyai sedikit kemiripan dengannya. Sama halnya dengan Abramovich, Syeikh Mansour menjanjikan kemewahan tanpa batas kepada Clichy. Wenger yang sudah tua renta hanya bisa pasrah melihat anak asuh nya dirayu. Namun, Clichy menolak tawaran tersebut. Ia tidak butuh uang yang melimpah, ia hanya butuh kasih sayang. Akhirnya si uztadz pun pergi.

Saat medio 2011, Wenger depresi karena online shop Instagram nya bangkrut karena ditipu oleh konsumen. Hal ini dimanfaatkan oleh Syeikh Mansour. Dia kembali lagi ke Panti Asuhan Ashburton Grove untuk membawa Clichy. Karena takut hidup miskin, Clichy akhirnya menyetujui untuk ikut bersama Syeikh Mansour. Wenger kembali kehilangan anak asuhnya, Panti Asuhan semakin sepi. Hanya berisikan Nasri, Robin dan Fabregas.

Masih di medio yang sama, Fabregas dikunjungi oleh seseorang yang mengaku orangtua nya yang bernama, Pep Guardiola. Pep Guardiola merupakan chef terkenal yang mempunyai resep mocktail terenak diseluruh dataran Iberia bernama Tiki-Taka. Dia mempunyai restoran terkenal di pelosok Katalan bernama La Barcelona Tassotera Bar & Bistro.

Fabregas sangat gembira bisa kembali ke Barcelona, kota asalnya. Tapi, di lubuk hati nya yang paling dalam, dia tidak mau meninggalkan seseorang yang sudah merawatnya hingga dewasa sekarang. Karena tekatnya untuk kembali ke kampung halaman sangat kuat, Fabregas akhirnya pergi meninggalkan desa Arsenal dengan berat hati. Sebelum pergi Fabregas mengatakan bahwa jika ia kembali lagi ke Inggris, Ashburton Grove akan selalu menjadi tujuan utamanya.

Beberapa hari setelah kepergian Fabregas, Syeikh Mansour datang kembali ke desa Arsenal untuk mengakuisisi hak atas anak asuh Arsene Wenger. Karena Nasri masih labil dan dihasut oleh Clichy, dengan mudahnya Syeikh Mansour mengambil hati Nasri dengan iming-iming uang yang tidak terbatas sampai tujuh turunan.

Robin yang tadinya tidak berniat untuk meninggalkan Ashburton Grove diam-diam berkenalan dengan pengusaha permen karet asal Skoltlandia, bernama Alex Ferguson. Karena sosok yang begitu karismatik dan bijaksana, Robin setuju untuk bergabung dan bekerja di Mancheter Gum Factory. Wenger dihantui ketakutan akan masa tua nya yang sepi tanpa ditemani orang yang mencintainya.

Paska ditinggal oleh anak-anak asuhnya, semakin banyak anak-anak yang ingin tinggal di Panti Asuhan Ashburton Grove. Diantaranya, Podolski, dia adalah anak jalanan yang dibawa oleh Koln Agency. Lalu ada Giroud, pengamen kecil yang ditemukan Wenger saat sedang berlibur di pinggiran kota Chambery, Perancis. Ozil, anak malang yang diterlantarkan oleh Madrid Agency.

Karena terbiasa ditinggal pergi oleh anak asuh nya, Wenger sadar bahwa didalam kehidupan orang-orang akan datang pergi, tetapi kenangan akan selalu terpatri di dalam hati. AKhirnya Panti Asuhan Ashburton Grove berkembang pesat dan mendapat penghargaan sebagai Panti Asuhan terbaik Se-Inggris Raya. Wenger dan anak-anak asuhnya pun hidup dengan bahagia.

Jika Arsenal Seorang Manusia, Maka Dia Adalah Seorang Hipster

One nil to the Arsenal! One nil to the Arsenal. Chant tersebut terdengar membahana, riuh, padu di White Hart Lane hingga di tempat-tempat penonton layar kaca setelah tendangan spektakuler Tomas "Little Mozart" Rosicky menghujam jala Hugo Lloris. Magnificent strike!

Seperti yang dikatakan dalam twitnya bang Benny Handoko di @benhan, "Arsenal bermain langsung masuk gigi empat. Attitude seperti ini yang diperlukan hingga akhir musim. 12 pertandingan sisa.". Sahih adanya apa yang dikatakannya, namun paska gol cepat di menit ke-2, Arsenal langsung turun mesin seperti kendaraan bermotor yang dipaksa masuk ke gigi 4 langsung tanpa harus melewati gigi 1, 2 dan 3.

Penulis berpikir Arsenal akan menang telak. Namun Tuhan berkata lain. Beliau tidak sependapat dengan penulis. Sejatinya, penulis juga kurang akrab dengan Tuhan. Arsenal ditakdirkan hanya menang 1-0. Tipikal Arsenal, selalu kehilangan momentum secara tiba-tiba. Disaat sebuah tim diharuskan menjaga performa di saat pertandingan berjalan, Arsenal sebaliknya. Sepertinya Arsenal mengidap bipolar disorder.

Berbeda dengan tim-tim besar lainnya. Disaat Chelsea, Manchester City dan Liverpool dengan kejamnya mengospek Sp*rs, maka Arsenal mempunyai jalan sendiri untuk mengospek Sp*rs dengan cara yang elegan. Jika Arsenal dianalogikan seperti manusia, maka Arsenal adalah seorang hipster. Jika tim-tim lain menyukai Taylor Swift, Lorde dan Ed Sheeran, maka Arsenal lebih menyukai Camera Obscura, Zee Avi dan Savoir Adore. Jika tim-tim lain menyukai film-film Hollywood, maka Arsenal lebih menyukai The Serbian Film.

woj kos per tottenham

2 menit pertama pertandingan adalah milik Arsenal, sisanya Sp*rs mengambil alih jalannya pertandingan sampai full time. Bahkan mereka berhasil mendapatkan 65% penguasaan bola. Setelah itu Arsenal lebih menerapkan counter attack. Hanya ada beberapa peluang emas yang seharusnya bisa dikonversikan menjadi gol. Ada yang aneh dengan strategi Sp*rs tadi malam, Tim Sherwood menerapkan high defensive line sehingga ketika Arsenal melakukan serangan balik yang cepat, pemain bertahan Sp*rs kocar-kacir. Bunuh diri. Ada sebuah momen epik dimana Tim Sherwood melempar vest nya setelah Chamberlain lolos dari jebakan offside dan melakukan solo run sampai one on one dengan Lloris, namun sayang, bola lob Chambelain masih melebar dari gawang. Sherwood tampak terlihat begitu marah, entah karena bek-bek Sp*rs yang katro atau karena Chamberlain gagal mencetak gol ke-2 untuk Arsenal. Tentu fans Sp*rs masih ingat kalau Tim Sherwood merupakan fans Arsenal, bukan ?

Sebenarnya Sp*rs medapatkan seabrek-abrek peluang daripada Arsenal, beruntunglah Arsenal mempunyai 2 pemain bertahan yang solid. Mertesacker dan Koscielny, pantas dinobatkan sebagai man of the match di pertandingan tadi malem. Selama 90 menit mereka berjibaku dengan pemain-pemain Sp*rs. Mereka begitu disiplin. Overlap saat diperlukan, track back saat dibutuhkan. Terlebih, performa Sczcesny yang semakin baik membuat Adebayor, Erikksen, dan Soldado harus bersusah payah memasukan bola ke gawang Arsenal. Hasilnya ? Nihil.

Olivier Giroud ? Seperti biasa, bagai singa yang kehilangan taringnya. Selalu hilang saat pertandingan krusial dan muncul kembali saat pertandingan melawan tim-tim semenjana, sering kehilangan bola dengan mudah, kurangnya komunikasi dengan playmaker sehingga menyebabkan terjadinya miskomunikasi. Wenger harusnya paham bahwa Giroud membutuhkan kompetitor yang berkualitas. Giroud memang striker hebat, link up play nya diatas rata-rata. Setidaknya, skema gol tunggal kemarin berawal dari Giroud yang menghalau bola blunder lalu dilanjutkan oleh Chamberlain dan Rosicky.

Derby London Utara akan selalu panas seiring berkembangnya liga inggris, berapapun hasilnya, siapapun yang menang, siapapun yang keracunan lasagna. Kemenangan tadi malam sangat vital bagi Arsenal untuk tetap bersaing dalam perebutan titel juara. Saat EPL menyisakan 8 laga lagi, tidak ada yang peduli dengan skor, win is a win. Kesimpulan dari derby London Utara tadi malam adalah North London is red and always be red!

Ohiya, sepertinya kita akan merayakan St Totteringham Day lebih awal.

INGIN MENULIS BUAT KAMI?

Kirimkan tulisan mengenai Arsenal dan seputarnya melalui surel ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

It's Always Darkest Before Dawn

Kekalahan 5-1 dari Liverpool di Anfield Road pekan lalu benar-benar menohok batin supporter Arsenal. Liverpool berhasil membuat Arsenal seperti sebuah klub pesakitan. Bagaimana mungkin klub yang sedang kedinginan dipuncak klasemen ini dengan mudahnya kemasukan 4 gol dalam 20 menit. Ya, 4 gol dalam 20 menit. Tentu supporter Arsenal bertanya-tanya dalam benaknya. Apa yang salah dengan performa Arsenal pekan lalu kemarin ? Berbagai jawaban mulai di kemukakan oleh banyak orang, dari pandir hingga pundit. Ada yang mengatakan Ozil terlalu malas, tidak adanya gelandang box to box seperti Aaron Ramsey, jatuhnya mental pemain Arsenal karena gol Martin Skrtel yang berbau offside. Jawaban dari A sampai Z yang akhirnya menuju ke satu orang, orang yang selalu dikambing hitam kan saat Arsenal kalah, Arsene Wenger. Tapi satu hal yang pasti. Liverpool bermain lebih baik dari Arsenal pekan lalu, baik dari segi mental pemain, kreativitas permainan, hingga dari segi strategi.

Gol pertama Skrtel merupakan gol pembeda bagi 2 tim yang sedang bertanding. Bagi Liverpool gol tersebut tentu akan menjadi pemicu moral rising bagi para punggawa The Reds. Di sisi lain, gol Skrtel merupakan awal dari hancurnya mental pemain Arsenal sehingga menyebabkan bola Incyte tersebut kembali bersarang di jala Sczcesny sebanyak 4 kali. Brendan Rogers benar-benar belajar dari kekalahan sebelumnya. Tight marking ala Rogers benar-benar membuat Mesut Ozil tak bisa menggunakan mantranya untuk memberikan umpan-umpan magis kepada Olivier Giroud. Jack Wilshere yang biasa nya selalu tampil impresif dibuat tak berdaya oleh Phillipe Coutinho. Arsenal yang menggunakan high defensive line benar-benar tak berdaya dengan counter attack yang diperagakan oleh Liverpool. Gol 3, 4 dan 5 merupakan bukti konkrit berhasilnya strategi counter attack Brendan Rogers. Mertesacker dan Koscielny dibuat seperti manekin mengenakan kostum Arsenal yang dipajang di The Armoury oleh Sterling dan Sturridge.

Kekalahan telak atas Liverpool kemarin tentu merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Arsene Wenger dan Steve Bould agar saat menjamu Manchester United kamis nanti, mereka bisa melihat simpul di senyuman Gooners/Gooneretes. Tapi, jika kita menilik kekalahan kontra Liverpool pekan lalu, banyak poin-poin positif yang bisa dipetik. Setidaknya tidak ada lagi yang membicarakan rekor cleansheet Mertesacker-Koscielny lagi, setidaknya kita tahu pemain seperti apa yang Arsenal butuhkan saat jendela transfer musim panas nanti, setidaknya kita harus memberikan apresiasi kepada away boys karena dedikasinya yang mendukung dan bernyanyi tanpa henti hingga full time. Massive respect!. setidaknya kita harus memberikan apresiasi kepada away boys karena dedikasinya yang mendukung dan bernyanyi tanpa henti hingga full time. Massive respect!.Tampaknya mereka sudah paham betul firman Dennis Bergkamp "when you start supporting football club, you don't support it because of the trophies, or a player, or history. You support it because you found yourself somewhere there, found a place where you belong,"

Musim ini Arsenal tahu benar bagaimana cara nya bangkit dari kekalahan. Baru mengalami 4 kekalahan di liga domestik merupakan bukti nyata bahwa Arsenal sudah berubah. Mereka sepertinya sadar bahwa kekalahan merupakan hal yang sahih dalam sebuah pertandingan dan mereka harus sesegera mungkin bangkit dan bersiap menghadapi laga selanjutnya.

Ingat agustus silam, ketika kekalahan pertama kontra Aston Villa ? Banyak yang meremehkan, mencibir hingga bersumpah bahwa Arsenal tidak akan masuk jajaran klub yang memperebutkan gelar juara. Tapi, Arsenal meresponnya dengan hasil yang impresif. 9 laga selanjutnya Arsenal berhasil meraih 8 kemenangan dan 1 seri. Lalu, saat pasca kalah dari United, Arsenal kembali membungkam prediksi para pandir dengan hasil positif. Dari 13 laga Arsenal berhasil memetik 9 kemenangan 1 kekalahan dan 3 seri. Jika di urut hasil laga Arsenal sampai pekan ke-25, akan seperti ini: LWWWWWDWWW LWWWDLDWWWWWWDL. Dari 13 laga Arsenal berhasil memetik 9 kemenangan 1 kekalahan dan 3 seri. Jika di urut hasil laga Arsenal sampai pekan ke-25, akan seperti ini: LWWWWWDWWW LWWWDLDWWWWWWDL. Jika ditarik kesimpulannya, kekalahan yang dialami Arsenal mempunyai jarak yang cukup jauh dengan kekalahan lainnya. Ini membuktikan bahwa Arsenal sudah mengerti bagaimana merespon kekalahan dengan baik. Kondisi seperti ini tentu tidak terlihat selama 2 musim terakhir dalam diri Arsenal.

Kekalahan telak kontra Liverpool ini benar-benar diluar dugaan. Ibarat diajak terbang tinggi ke langit, lalu secara tiba-tiba dijatuhkan ke muka bumi, Sakit! Hasil buruk ini tentu mengakibatkan efek domino di kubu Arsenal, baik internal maupun eksternal. Mulai dari tingkat kepercayaan fans yang menurun, moral dan mental pemain yang terjun bebas, hingga meningkatnya kepercayaan diri tim-tim yang akan bertemu dengan Arsenal selanjutnya.

Tantangan yang sebenarnya baru akan dihadapi Arsenal hingga April nanti. Diawali dengan menjamu tim yang baru ditahan imbang oleh Fulham, tim papan paling bawah. Yaitu, Manchester United. Sahih saja jika kalian gembira dengan hasil imbang United kontra Fulham. Tapi, United yang melawan Fulham akan berbanding terbalik dengan United yang akan melawan Arsenal. Selanjutnya Arsenal bertemu dengan Liverpool (lagi) di ronde 5 FA Cup. Bertemu Bayern Múnchen di fase penyisihan Champions League. Lalu bertemu Tottenham, Manchester City, Chelsea dan Everton secara beruntun. Adakah tim lain yang mendapatkan jadwal lebih padat dari Arsenal ? Jika ada, tolong beritahu saya.

Anda tahu Veni, Vidi, Vici ?kalimat terkenal yang digunakan dalam pesan Julius Caesar kepada senat romawi atas kemenangan Pharnaces II dari Pontus dalam pertarungan Zela merupakan kalimat yang cocok untuk Arsenal sekarang. Jika kalimat yang berarti "saya datang, saya bermain dan saya menang," ini ditanamkan dalam benak setiap pemain, bukan tidak mungkin Arsenal melepas dahaganya selama 9 tahun ini. Tentu ini merupakan impian semua Gooners diseluruh dunia, bukan ?

Sembilan tahun sudah Arsenal tidak mencicipi gelar apapun, label klub 9 tahun tanpa gelar disematkan kepada Arsenal oleh fans lain. Akan tiba saatnya, kita sebagai gooners merasakan apa yang dirasakan fans klub lain, yaitu melihat Arsenal mengangkat trofi setinggi-tingginya. Toh, tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas umatnya, bukan ?

Mengutip sebuah kalimat dari bait lagu Florence feat The Machine.

"It's always darkest before the dawn"

nb: Tulisan ini tidak akan pernah ada jika di era The Invicibles :p

INGIN MENULIS BUAT KAMI?

Kirimkan tulisan mengenai Arsenal dan seputarnya melalui surel ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Subscribe to this RSS feed