Menu

'Dat Guy' Es Un CRACK!

''I’m Dat Guy. I’m Dat Guy'' Ujar Welbeck, mantan penyerang Manchester United, secara berluang-ulang sembari senyum sumringah menghiasi raut wajahnya. Itu dimuat dari salah satu media sosial, Vine, yang dikutip oleh @squawka ini. Selengkapnya bisa klik link berikut: https://vine.co/v/MlJLb2PBxve. Di sana, di link tersebut maksudnya, Welbeck berujar laiknya sesosok makhluk yang ada di film yang baru-baru saja rilis, Guardians Of The Galaxy, yang bernama Groot. Somehow, tokoh yang bernama Groot itu, hanya mengucapkan tiga kata secara berulang-ulang di dalam film tersebut. I am Groot, I am Groot. Begitu seterusnya tanpa rasa bosan sedikitpun. Entah autis ataupun entah ia hanya bisa mengucapkan tiga kata itu. Tapi teman dekatnya, Rocket, adalah satu-satunya makhluk yang mengetahui apa arti di setiap “I am Groot” yang diucapkan temannya itu. Pada akhirnya, Groot sangatlah berjasa kepada temannya yang hampir musnah dalam kecelakaan pesawat walau ia hanyalah sesosok figuran dalam film itu. Apakah itu ada dalam diri Welbeck? Menjadi penyelamat rekan-rekannya di situasi yang notabene genting, lantaran krisis pada lini depan klub sepeninggalan Giroud yang cedera? Menarik untuk disaksikan nan dinantikan dengan saksama.

‘’I’m Dat Guy’’

Tenang, itu hanyalah sekelumit intermezzo di awal perjalanan kita yang panjang ini. Analogi saya kebetulan mengacu kepada film tersebut.

Kembali lagi. “I’m Dat Guy. I’m Dat Guy” sempat mem-boooming di media sosial terkait resminya Welbeck bergabung ke Arsenal dari Manchester United. “I’m dat guy” sendiri, jika di-Indonesia-kan kira-kira mirip seperti ini,”Akulah orangnya.” Sejumlah pertanyaan pun timbul kenapa hal tersebut bermula. Yap. Itu berawal dari kutipan seseorang, yakni Ravel Morrison atau @morrisonravel. Mantan pemain dari akademi Manchester United yang juga seangkatan dengan Welbeck itu, adalah pernah melontarkan tweet “welbz is dat gay”. Atau tepatnya bisa dilihat pada gambar berikut:

1

Tweet itu terlontar lantaran pertanggal tweet itu dimuat, 14 Februari 2013, Welbeck mencetak gol pembuka ke gawang Real Madrid di Santiago Bernabeu, kandang Real Madrid. Ia adalah orang Inggris pertama yang melakukannya sejak Alan Smith melakukannya bagi Leeds United di tahun 2001 dengan berkesudahan 3-2 (via: http://www.uefa.com/uefachampionsleague/season=2000/matches/round=1485/match=66344/index.html). Pemain Arsenal yang terakhir kali melakukan hal yang sama adalah Thierry Henry di tahun 2006 dengan berkesudahan 0-1 (via: http://www.uefa.com/uefachampionsleague/season=2005/matches/round=2202/match=1102845/index.html). Entah kebetulan ataupun bukan, Thierry Henry merupakan idola Welbeck sejak usia belia (via: http://www.sport.co.uk/football/prodigious-united-talent-hails-arsenal-legend/23110). Tak heran bahwa ia kadang-kadang mengikuti style dari sang role-modelnya tersebut. Tulisan dari @UntoldArsenal pun menyuguhkan sebuah persamaan antara Welbeck dan Henry. Selengkapnya bisa cek link berikut: http://t.co/bcxsonNF4l.

Terkait masalah ‘Dat Guy’ yang pernah dilontarkan oleh Ravel Morrison, Welbeck dengan gamblang mengakui dan meng-amin-i apa yang disebutkan oleh Ravel Morrison itu. Dilansir @squawka, ada sebuah tulisan dan interview khusus mengenai semua pengakuan itu. Selengkapnya bisa klik link berikut: http://www.squawka.com/news/danny-welbeck-reveals-why-hes-dat-guy-for-man-united/166026. Tulisan buatan Tyrone Webb-McGarthland terbitan 17 Agustus 2014 itu, adalah terdapat kutipan menarik yang sedikit bisa dipetik perihal ‘Dat Guy’ sesungguhnya. Adapun dapat dilihat di gambar berikut:

5

Ternyata, ‘Dat Guy’ yang ada di interview dan di Vine itu, merupakan interview FAQ dari Nike di twitter, lengkapnya klik link berikut: http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-2740389/Danny-Welbeck-ultimate-team-players-Arsene-Wenger-finish-job-Sir-Alex-Ferguson-started.html#v-3749471277001. Apapun itu, saya yakin pernyataan tersebut adalah sebuah keyakinan dalam diri untuk meresponnya kepada orang lain. Kendati demikian, kembali lagi ke persoalan, is Welbeck really dat guy? Apakah Welbeck adalah orangnya, yang benar-benar dibutuhkan dalam tim Arsenal ini? Atau kah ‘Dat Guy’ hanya sekadar ‘Dat Guy’ belaka?

Fakta – Fakta Unik

Mengakar dari pertanyaan-pertanyaaan tersebut, tak adil rasanya jikalau tidak menyisipkan fakta-fakta unik yang ada agar kemudian sedikit-sedikit menyimpulkan apa jawaban yang sesuai dari berbagai pernyataan itu benar atau salah. Adapun sbb:

Conversion rate

Striker, striker, dan striker. Sepeninggalan Van Persie ke Manchester United, hal itu terus menggema hingga kini seiring belum adanya yang menyamai torehan Van Persie selama ia di Arsenal. Kendati Giroud merupakan top skor klub pada musim lalu, hasrat akan terhadap hausnya akan striker maut laiknya Van Persie terus meradang dari fans. Kendalanya adalah tak lain tak bukan, conversion rate.

Seiring datangnya Welbeck ke Arsenal, harapan itu ada. Menurut @squawka, Welbeck memiliki chance conversion rate yang lebih baik (25%) musim lalu di EPL, mengungguli Giroud (18.2%) dan Walcott (17.2%). Sebuah improvement yang significant mengingat kedua pemain Arsenal tadi tengah dilanda cedera.

Home-grown

Fakta yang satu ini juga mempengaruhi alasan kuat kenapa Arsenal memboyongnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa home-grown (seterusnya disingkat HG) merupakan salah satu indikator dalam EPL agar club memberi kesempatan kepada pemain muda untuk berkembang. Dan juga agar club tetap sehat sehingga terhindar dari yang namanya sanksi FFP (Financial Fair Play). HG sendiri bisa diibaratkan sebagai jenjang karir dalam perusahaan. Jika orang itu berkompeten dalam bidangnya, maka tak heran orang itu akan terus naik pangkat. Bedanya, dalam sepakbola, mereka direkrut ataupun mendaftarkan diri sebagai pemain untuk akademi club di usia belia.

HG sendiri sudah secara lengkap dipaparkan oleh @premierleague. Selengkapnya bisa klik: http://www.premierleague.com/en-gb/news/features/home-grown-quota-for-premier-league.html. Ada tiga poin penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, 8 HG mesti ada di dalam EPL skuad. Kedua, masing-masing klub memiliki 25 pemain di Liga. Ketiga, U-21 bisa mengisi skuad inti.

Welbeck adalah menambah daftar HG di Arsenal mengingat kita sudah memiliki pemain-pemain semacam Szcesny, Wilshere, Chamberlain, dll. Selengkapnya dapat dilihat dari gambar @indocannon ini:

2

Mengingat Welbeck adalah produk akademi, ini merupakan lanjutan dari tradisi The Arsenal Way dalam mengembangkan produk akademi. Meski dahulu sempat menuai kritik lantaran Arsenal sepi pemain lokal, namun sekarang berubah drastis. Sebuah gebrakan muncul untuk memajukan sepakbola Inggris itu sendiri.

Blueprint

Berdasar dari aturan-aturan HG yang telah ditetapkan EPL, tak lepas dari yang namanya blueprint yang dibangun klub. Atau bisa dibilang juga sebagai proyek jangka panjang. The British Core adalah proyeknya. Saya tidak akan mengupas lebih dalam tentang itu karena @indocannon telah melakukannya. Selengkapnya bisa klik: bit.ly/12V28uYdan http://bit.ly/19ijP9n. Terhitung sudah 9 pemain (jika anda mencantumkan Jenkinson) British aka Britania Raya yang telah termasuk di dalam proyek British Core itu. Mereka pun rata-rata umurnya masih dikatakan muda dalam usia pesepakbola yakni dibawah 25 tahun. Arsene Wenger diyakini ingin kembali membangun kekuatan timnas Inggris secara tidak langsung. Dengan cara ini lah salah satunya. Betapa kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada timnas Inggris di masa yang akan datang.

Bargain

Dengan mahar senilai £16m yang Arsenal bayar memboyong Danny Welbeck dari Manchester United. Pemain berusia 23 tahun itu sontak dikaitkan dengan rekrutan anyar Liverpool, Mario Balotelli dari AC Milan. Bagaimana tidak, mereka berdua diboyong ke klubnya masing-masing, dengan harga yang sama. Jujur, £16m untuk seseorang berusia 23 tahun adalah bargain. Absolute bargain. Mengingat Arsenal telah belanja 4 pemain sebelum Welbeck. Di jendela transfer musim panas kemarin, total Arsenal telah mengucurkan dana sebesar €80m+ untuk memboyong 5 pemain. Kedua setelah Manchester United yang menduduki peringkat pertama. Selengkapnya bisa lihat di gambar berikut (via: @football__tweet):

3

   

Manchester United secara jor-joran menggelontorkan dana demi memperbaiki image mereka yang menjadi brand sepakbola nomor satu di dunia. Semua orang mengakui akan hal itu. Mereka pun berpeluang tidak tersangkut dari jeratan FFP karenanya. Hal itu seperti yang dijelaskan @benhan dalam tulisannya berikut: http://benhan8.wordpress.com/2012/08/30/model-finansial-arsenal-dan-mengapa-fans-perlu-memahaminya/. Berhubung ini adalah situs Arsenal, saya menolak untuk mendalami lebih lanjut apa yang terjadi pada Manchester United.

Kembali lagi kepada komparasi antara Welbeck dan Balotelli. Seperti yang telah disebutkan bahwa conversion rate Welbeck musim lalu adalah 25% dimana ia menyarangkan 9 gol dari 36 tembakan. Sementara Balotelli, 13.3% dimana menyarangkan 14 gol dari 105 tembakan (via: @MatchOfTheDave). Menarik di akhir musim untuk menentukan pada akhirnya siapa yang ‘flop’ siapa yang bukan.

The React

Pertanyaan terbesar bukanlah itu semata. Adalah kenapa Manchester United rela melepasnya? Apakah karena peminjaman Falcao? Atau hanyalah panic-buying semata? Falcao ke Manchester United dengan status pinjaman merupakan hal yang tidak biasa. Bagaimana tidak, di sisi lain, Gonzalo Higuain, penyerang Napoli, emosi kepada petinggi klub lantaran tak bisa melaju ke fase grup Liga Champions.

Falcao yang musim 2014/2015 seharusnya bermain di Liga Champions karena AS Monaco mendapatkan satu tiket, justru memilih Manchester United yang tidak mengikuti kompetisi terbesar di muka bumi itu. It’s none of our bussines.

Yang jelas, kepergian Welbeck ke salah satu rivalnya merupakan salah satu kemunduran. Seperti diketahui, ia adalah produk akademi. Manchester United bangga dengan produk akademinya apalagi mereka sering menjunjungnya dalam ‘Class Of 92’. Film dokumenter itu berisi pemain-pemain akademi mereka yang meraih masa jayanya di masa lalu. Sebut saja David Beckham dan Ryan Giggs.

Namun, setelah kejadian Welbeck kemarin, banyak sudah reaksi bermunculan akan hal itu. Salah satunya adalah mantan asisten manajer Manchester United, Mhike Plagen. Secara garis besar ia menyayangkan bahwa kepergian Welbeck adalah sinyal buruk perubahan filosofi klub yang berujung tidak sehat. Ia menambahkan bahwa Sir Alex Ferguson, mantan pelatih Manchester United, menaruh yakin pada diri Welbeck. Membeli Van Persie untuk memberi peluang pada Welbeck. Tapi, setelah pensiun, Moyes, penerus Ferguson, kurang memberikannya kepada Welbeck. Ini disinyalir menjadi puncak rasa kekecawaan itu.

Big game player

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Giroud angin-anginan. Kadang lagi bagus, bagus bener, kadang lagi jelek, jelek bener performanya. Sudah tercatat bahwa Giroud masih terbilang mandul dalam membobol gawang-gawang tim-tim yang notabene besar seperti Manchester United dan Chelsea. Jika dibandingkan dengan Welbeck, 180°. Seperti yang dipaparkan sebelumnya, Welbeck telah membobol gawang Madrid di kandangnya sendiri. Adapun contoh lain, Welbeck telah membobol gawang Arsenal dalam lawatan Kandang maupun tandang di musim 2011/2012. Ini tinggal masalah waktu. Harapan itu ada.      

No injury-prone

Kendati dikabarkan tengah cedera ankle dalam sesi latihan bersama skuad timnas Inggris kemarin, Welbeck bukanlah seorang injury-prone. Jika dibandingkan dengan Robin Van Persie, penyerang Manchester United, catatan cedera Welbeck tidak lebih parah dari Van Persie. Seperti diketahui, Van Persie selama 7 tahun membela panji Arsenal, ia kerap kali mengalami cedera. Hanya saja, di musim terakhirnya bersama The Gunners, julukan Arsenal, ia menjalankan semusim tanpa cedera dan menjadi top skor di musim 2011/2012.

Namun, sekarang, Van Persie masih berkutat dalam cederanya meski pekan lalu menjadi starter dalam laga Manchester United kontra Burnley. Welbeck tidak separah Van Persie. Cedera terakhirnya adalah bersama timnas Inggris kemarin dan saat pre-season karena cedera lutut. Mungkin hanya Giroud yang punya riwayat cedera yang minim meski sekarang tengah dilanda cedera hingga akhir tahun 2014.

Versatile & great link-up

Kurun waktu dua kali jendela transfer ke belakang, Arsene Wenger, manajer Arsenal, memboyong pemain versatile alias serba guna. Sebut saja Kallstrom. Pemain pinjaman dari CSKA Moscow ini, sempat ditempatkan di posisi DMF dan CMF. Pun demikian Ozil. Ozil kadang-kadang dimainkan ke flank, kadang-kadang AMF. Untuk transfer kali ini kita bisa lihat pada diri Chambers. RB dan CB pernah ia lakoni.

Welbeck diharapkan demikian. Ia juga diharapkan cepat beradaptasi dengan gaya main Arsenal. Jika semua itu tercapai, bukan tak mungkin kita menemukan Giroud baru yang lebih mobile. Welbeck telah mencicipi posisi CF dan SS. Dengan kondisi lini tengah Arsenal yang kaya kreasi, great link-up dengan sendirinya akan muncul ke permukaan. Penjelasan tentang link-up play lebih lanjut dapat dilihat dari tulisan saya sebelumnya berikut: disq.us/8j7o0l

23 & a winner

Dengan skuad yang bervariasi dari a-z, skuad Arsenal pun hanya menyisakan nomor punggung 5,23,25,29. Tidak seperti Monreal yang merelakan no.17 nya dilepas menjadi no.18 demi Alexis Sanchez, rekrutan anyar Arsenal, Welbeck lebih memilih nomor 23. Banyak dari gunners menyebut ia adalah titisan LORD Bendtner, mantan pemain Arsenal yang kini merumput di Wolfsbug. Sebelum itu pun, Welbeck sudah menjadi banter di dunia maya. LORD Welbeck adalah salah satunya. Entah darimana hal itu bermula saya kurang paham.

Terlepas dari semua itu, poin yang ingin saya petik sebenarnya adalah umurnya bukan nomor punggungnya. 23 adalah umur dari Welbeck. Ia masih bisa berkembang dengan usia segitu. Ia juga adalah seorang juara. Ada fakta unik yang menyebutkan bahwa Welbeck adalah satu-satunya pemain di Arsenal saat ini yang pernah ‘mencicipi’ trofi Premier League. Tak heran kita semua beranggapan ia akan menjadi Lord dalam tim ini untuk merebut kembali trofi Premier League yang terakhir Arsenal menangkan tahun 2004 silam.

Ngomong-ngomong masalah trofi Priemier League, menambahkan Welbeck dalam skuad adalah spot on. Perlu diingat ketika Chelsea memboyong Anelka dari Bolton di tahun 2008. Chelsea waktu itu ibarat kehilangan sosok juara. Perlu diingat juga bahwa Anelka pernah meraih trofi Premier League semasa berseragam Arsenal di musim perdananya 1997/1998. Pada akhirnya, Chelsea memenangkan trofi Premier League di tahun 2010 mungkin berkat pengalaman Anelka.

Sosok Welbeck juga bisa kita jadikan acuan jika ingin merebut trofi itu kembali musim ini.

Self Confidence & Attitude

Van Gaal, pelatih Manchester United saat ini, dikenal sebagai taktikal jenius. Entah itu berawal dari sebuah sarkasme atau bukan, yang jelas ia dikenal piawai dalam mengorbitkan talenta-talenta muda berbakat. Hampir mirip dengan Arsene Wenger namun sedikit berbeda. Dennis Bergkamp, mantan pemain sekaligus legenda Arsenal, juga pernah dilatih keduanya dan secara tegas memberi opini akan perbedaan di antara keduanya. Dikutip dari buku “Dennis Bergkamp: Stillness and Speed” yang saya foto ini, dapat dilihat dari gambar berikut:

4

 

Van Gaal ibarat Margareth Tatcher sedangkan Arsene Wenger ibarat Gandhi. Keduanya sama-sama memiliki karakter kuat percaya akan sesuatu. Bedanya, Van Gaal lebih tegas membuang apabila apa yang diyakininya itu keluar dari sistem yang telah dibuat. Sedangkan Wenger menemukan formula untuk menyeimbangkan apa yang dibutuhkan tubuh tim.

Nah, dalam hal ini, Van Gaal telah mengorbitkan beberapa pemain-pemain muda Manchester United. Sebut saja bek muda Manchester United, Tyler Blackett yang telah menjalani tiga laga musim ini. Danny Welbeck bersama Manchester United musim ini baru menjalani dua laga. Apakah kesimpulannya Welbeck telah keluar dari rencana Van Gaal mengingat Van Persie yang kerap cedera dimana kontraknya juga habis musim depan? Sedangkan Falcao yang hanya sebagai pemain pinjaman semusim bisa kembali lagi ke klub asalnya jika tidak meraih tiket Liga Champions musim depan? No one knows.

Dari semua itu membuktikan bahwa apa yang dibutuhkan Welbeck adalah kepercayaan diri. Arsene Wenger dikenal sebagai seorang ayah karena mampu membuat pemain sebagai anaknya. Mesut Özil, mantan gelandang Real Madrid, mau hijrah ke Arsenal karena tak lagi mendapat kepercayaan di Real Madrid. Wenger menelpon Özil langsung untuk mengajaknya bergabung dan memberi kepercayaan penuh kepada Mesut Özil. Bahkan Özil menambahkan ia mau pindah secara gratis ke Arsenal. Alexis pun mau bergabung ke Arsenal karena Wenger.

Van Gaal tidak melakukan hal itu kepada Welbeck. Wajar jika Welbeck butuh perhatian dari seseorang. Dan Wenger menemukannya, menjadikannya anak. Meski demikian, Welbeck tak pernah berulah yang aneh-aneh meski ia secara resmi keluar dari Manchester United. Attitude nya yang membuat fans United tidak bisa mencemoohnya berseragam Arsenal.

Es Un CRACK!

Es un crack! Es un crack! Apabila anda sering main PES dalam bahasa Spanyol atau seringkali streaming bola dengan sumber dari Spanyol, maka kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telinga kalian. Crack disana, dalam bahasa Spanyol, adalah mendeskripskikan bahwa seorang pesepakbola itu skill-nya di atas rata-rata. Es un crack ialah merujuk kepada ungkapan takjub kepada orang itu dimana dia pesepakbola handal. Kalau ungkapan orang Indonesia sih kira-kira mirip seperti ini “ahay, anjirr, cantikk, haluss”.

Terlepas dari semua itu, ‘Dat Guy’ es un crack. Welbeck is a baller. Meski saya tidak me-rating-nya terlalu tinggi, namun apabila jika itu kehendak Wenger, saya yakin Welbeck akan ‘meledak-ledak’ seperti yang diungkapkan @rioferdy5.

Is he dat guy? Yes.

“I’m Dat Guy, I’m Dat Guy.” Es Un Crack! Believe me.

 

 

Ditulis Oleh:

Iman Patria Yudha
Twitter: @iman_yudha
Fb: Iman Patria Yudha
Status: Seorang mahasiswa dan jomblo akut. Selalu berpikir positif tentang Arsenal

 

 

In Defense of Olivier Giroud – Sang Mercusuar

(Sebelum memaparkan lebih jauh, saya tekankan ini bukanlah tulisan yang berbau lelucon dan sarkasmik)

Musim panas kali ini bergulir dengan panas-panasnya, meski di Indonesia tak mengenal yang namanya musim panas yah. Menurut saya yang paling panas ya tahun ini sih. Bagaimana tidak, kita, baik fan Arsenal maupun bukan, disuguhi beberapa hal yang memang membuat kita seakan-akan gerah dan dipacu adrenalinnya. Baik Piala Dunia, bursa transfer, sampai ke pemilu hehe. Hingar-binar akan gemerlapnya Piala Dunia pun serasa tenggelam di lautan politik. Ini merupakan pertama kalinya kejadian pemilu (yang mana dimulai tahun 2004) bentrok dengan Piala Dunia. Perihal bentrok tersebut, hal serupa diprediksi bakal kembali terjadi pada tahun 2034, apabila tidak terjadi perubahan dan hal-hal yang tidak diinginkan tentunya.

Piala Dunia

Itu hanya sekelumit intermezzo saja. Tenang saja, bagian nomer tiga tidak akan dibahas di tulisan ini.  Well, btw, kembali mengacu pada poin pertama, Piala Dunia telah memasuki babak akhir. Sudah banyak negara yang telah tersingkir dari kompetisi sepakbola terbesar empat tahunan ini. Kejutan terjadi dikarenakan banyak tim-tim unggulan yang tersingkir membuat Piala Dunia kali ini dianggap terbaik dari yang pernah ada. Sayangnya, pemain Arsenal yang tersisa hingga fase semifinal hanya tiga orang, yakni Özil, Podolski, dan Mertesacker. Tiga nama tersebut merupakan total dari sebelas pemain Arsenal di Piala Dunia. Antara lain Campbell, Cazorla, Wilshere, Chamberlain, Djourou, Vermaelen, Koscielny, dan Giroud. Khusus Giroud, karena hendak dibahas, sudah mengoleksi satu gol debut di Piala Dunia. Sama laiknya Rooney, tetapi Rooney melakukannya dalam tenggang waktu tiga kali Piala Dunia. Minutes per goal yang dibuat Oliver Giroud pun adalah yang tertinggi apabila dibandingkan dengan pemain Arsenal lainnya di Piala Dunia. Tercatat total Giroud telah menceploskan satu gol dari 165 menit yang telah ia mainkan bersama tim nasional Prancis. (via: http://www.arsenal.com/worldcup2014/world-cup-2014-player-stats).

Selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut:

oli-stats

Olivier Giroud

Kutipan dari salah satu statistik tersebut membuktikan bahwa Olivier Giroud hanya butuh jam terbang yang lebih tinggi untuk menunjukkan bahwa dirinya memang striker jempolan. Namun demikian, bukan berarti kalimat itu menjadi tameng bahwa kita tidak membutuhkan seorang striker. Munafik memang kalau hanya dengan berasaskan itu kita tidak membutuhkan striker, apalagi setelah ditinggal dua striker, Nicklas Bendtner dan Park Chu-Young, dengan status free transfer. Objektif saja, saya punya komparasi statistik berikutnya yang membuktikan bahwa ia masih layak untuk diberi kesempatan. Giroud adalah pemain Arsenal kedua terbaik perihal goal per menit dari keseluruhan 38 pertandingan debut di Premier League. (via: @premierleague).
Dapat dilihat juga pada gambar berikut ini:

Musim 2012/2013, Giroud  telah menceploskan bola ke gawang lawan sebanyak 17 gol dan memberikan 12 assist di semua kompetisi. Musim 2013/201, Giroud telah membukukan 22 gol dan 12 assist di semua kompetisi. (via: http://www.transfermarkt.co.uk/olivier-giroud/leistungsdaten/spieler/82442/saison/2013). Ini juga membuktikan bahwa Giroud konsisten dalam mencetak gol. Apabila dibanding dengan Chamakh, mantan striker Arsenal yang sekarang memperkuat Crystal Palace, Giroud adalah jauh lebih baik. Bayangkan pada awal Chamakh dibeli Arsenal pada musim 2010/2011, ia konsisten mencetak gol di awal-awal dimana pada saat itu menggantikan peran Van Persie yang cedera. Namun pada saat Van Persie pulih, Chamakh yang jarang mendapat tempat utama, gagal menemukan performa terbaiknya ketika kembali dimainkan. Ujung-ujungnya, muncullah berbagai persepsi inkonsisten, “flop”, dsb. Sebab itu, sebuah konsistensi dibutuhkan dalam sebuah tim agar kelak tim itu menjadi mapan dan stabil dalam mengarungi kerasnya persaingan kompetisi. Giroud adalah orangnya, to be honest. Di lain kesempatan, Giroud dikabarkan akan segera memperpanjang kontraknya. Dilansir: http://www1.skysports.com/football/news/11670/9330058/premier-league-olivier-giroud-in-negotiations-to-extend-arsenal-contract, Giroud berkata, "I have two years left on my contract but we are in negotiations to extend.” Apabila ini terjadi, Arsenal diprediksi akan tetap memakai jasa Giroud dan Sanogo. Untuk pemain muda seperti Joel Campbell dan Chuba Akpom, saya punya firasat bahwa salah satu dari mereka akan dijual.

Bursa Transfer

Sekarang, beralih ke poin kedua. Musim panas kali ini selain dihangati oleh Piala Dunia, seperti biasa, setiap musim panas dihangati oleh teriknya cahaya bursa transfer. Akhir-akhir ini, Arsenal santer diberitakan dengan beberapa pemain. Diantaranya Alexis Sanchez (Barcelona), Debuchy (Newcastle United), Schnederlin (Southampton), dan Bender (Leverkusen). Dua urutan teratas yang sepertinya akan segera resmi diumumkan. Saya pribadi senang dengan kedatangan Sanchez. Tetapi, yang dibutuhkan Arsenal saat ini ialah CF, Center Forward, murni. Apakah Sanchez bisa mengisi pos Giroud? Belum tentu. Fakta kongkrit dapat dilihat dari seorang Podolski. Penyerang asal Jerman itu pada musim perdananya bersama Arsenal, 2012/2013, sering dirotasi sebagai CF, namun apa daya ketidakcocokan pun akhirnya terlihat sehingga tak bisa diterapkan. Perihal Bender, jujur saya belum pernah melihatnya bermain. But, he is a new Gouffrann. Setiap kali bursa transfer dibuka pasti ada namanya dikaitkan dengan Arsenal. Terkadang, saya menginginkan Gouffrann dan Bender ini untuk pensiun hanya supaya tidak selalu dihubungkan dengan klub. Bagi Debuchy dan Schnederlin, ini merupakan sebuah momen yang pas. Debuchy mengisi pos yang ditinggalkan Sagna dapat memperdalam luka Sagna apabila Debuchy sukses di Arsenal. Kenapa? Debuchy juga mengambil pos bek kanan Sagna di tim nasional Perancis. Bisa dibilang bijaksana karena sebelumnya Arsenal santer dikaitkan dengan bek kanan terbaik Ligue1, Serge Aurier. Pemain asal Pantai Gading ini memang cemerlang penampilannya saat gelaran Piala Dunia kali ini. Tetapi, banyak perhitungan yang mempengaruhi keputusan untuk tidak merekrutnya. Selain umurnya yang belum matang, ia juga akan memperkuat Pantai Gading selama dua bulan pada bulan Februari di ajang Afrika Cup. Musim lalu, Arsenal punya kendala sama si Februari sehingga trauma kalii yahhh. ;))) Schnederlin pun demikian. Saya nge-fan sama ini orang, to be honest. Dengan Arteta dan Flamini yang tak lagi muda, orang ini pantas mengisi posisi DM yang ideal setelah sepeninggalan Alex Song ke Barcelona, Arsenal belum menemukan DM yang murni. Once agaian, ini hanyalah rumor. Saya punya quote kepada mereka yang bilang ini PHP suatu saat nanti.
"PHP ITU SEBENARNYA TIDAK ADA, HANYA SAJA KALIANLAH YANG BERHARAP LEBIH"

Biografi

Olivier Giroud, seorang pria yang lahir pada tanggal 30 September 1986 di Chambery, Prancis. Memiliki tinggi badan 1.92 m dan berat badan 88 kg. Mengawali karir di Granoble dengan 2 gol di musim 2005-2008, Istres dengan 14 gol 2007-2008 dalam status pinjaman, Tours dengan 30 gol di musim 2008-2010, Montpellier dengan 33 gol di musim dan sempat dipinjamkan kembali ke Tours dengan torehan 6 gol pada musim 2010-2012, Arsenal (2012 – ). (via: http://www.arsenal.com/first-team/players/olivier-giroud) Pada 2010 ia dianugrahi sebagai Ligue 2 Player of the Year. Musim 2011-2012 ia mengakhiri musim dengan gelar top skor Ligue 1 bersama Montpieller yang mana menorehkan 21 gol dan 9 assist, meski torehan itu sama dengan torehan gol striker Parist Saint-Germain, Nene. Musim 2011-2012 juga musim yang fantastik bagi Giroud dengan berhasil membawa timnya, Montpellier, memenangkan Ligue 1 sekaligus menjuarai Ligue 1 pertama kali sepanjang sejarah klub dan tampil di Liga Champions pertama kalinya. (via: http://www.lfp.fr/ligue1/article/olivier-giroud-couronne.htm). Tak heran membuat Arsenal kepincut untuk merekrutnya apalagi setelah saat itu Van Persie, ex-kapten Arsenal, diambang pintu keluar klub karena enggan memperpanjang kontraknya, pada kahirnya Van Persie hengkang ke klub rival Manchester United. Arsenal akhirnya membandrol Giroud dengan harga mencapai £12m, atau dirupiahkan dikali dengan sekitar Rp. 21.000,- dan mengenakan nomor punggung 12, yang sebelumnya dikenakan legenda Arsenal, Thierry Henry. (via: http://www.footballtop.com/players/olivier-giroud). Setelah kepergiannya ke Arsenal, Montpellier terlihat mengalami kemerosotan. Tercatat, di akhir musim 2012/2013 Montpellier hanya duduk di peringkat 9 dan di musim 2013/2014 turun ke peringkat 15. (via: @whoscored) Hal ini membuktikan bahwa betapa vitalnya peran dari seorang Olivier Giroud di tubuh klub, disadari maupun tidak.

Problematika

Beberapa masalah muncul ke permukaan seraya dengan melihat performa Giroud yang kurang bagus. Masalah-masalah tersebut telah saya pilah-pilih. Adapun masalahnya sbb:

  • Lamban
    Saya yakin 100% bahkan 1000% kalau pun ada ya, semua orang setuju dengan hal ini. Benar, Olivier Giroud merupakan pemain yang lamban. Saya masih ingat kala Arsenal bersua di kandang Manchester City, Etihad Stadium, saat itu Giroud di suatu kesempatan, kalah beradu speed dengan Demichelis, bek Manchester City yang juga termasuk pemain notabene lamban. Namun, striker Arsenal lainnya yang memiliki speed lebih cepat, malah tidak bisa mencetak gol lebih banyak dari Giroud. Sanogo dengan 0 gol. Bendtner dengan 2 gol. Just reminder, Giroud merupakan top skor klub di musim 2013/2014. Tak selamanya speed menjadi patokan. Meski demikian, seperti yang saya bilang sebelumnya, saya tidak menjadikan kalimat itu sebagai tameng.
  • Kedalaman Skuad
    Giroud telah mengarungi musim di ujung tombak klub dengan “sendirian”. Menurut @premierleague, Giroud telah memainkan 36 dari 38 laga yang tersedia di liga. Jelas ini merupakan pukulan telak bagi seorang striker yang seolah-olah menyetir arah klub sendirian dalam jangka waktu setahun. Bayangkan apabila ada seorang nahkoda kapal mengalami keadaan serupa, mengarungi samudra selama satu tahun sendirian, sungguh irasional. Kerap kali Wenger membela performa Giroud karena faktor “jaded” atau kelelahan. Ini tidak bisa dipungkiri karena jelas memiliki simbiosis yang sangat erat antara minim pengganti dan jaded. In the end, mempengaruhi performa seseorang.
  • Fashion
    Baru-baru ini, Giroud didaulat menjadi salah satu bintang iklan dari produk parfum terkemuka asal Swiss. Tak heran, menjadi santapan enak bagi media maupun “haters” untuk menyerangnya dengan mengkaitkan dengan penurunan performanya. Itu merupakan salah satu faktor dimana kita biasanya “mencari-cari” kesalahan orang lain apabila orang tersebut mulai dipandang sebelah mata khususnya oleh kaum mayoritas. Adalah hak seseorang untuk menjadi seorang model. Ia merupakan pemain sepakbola yang kebetulan dianugrahi Tuhan wajah yang rupawan. Tak ada yang salah akan hal itu. Kau bisa lihat Beckham, Ramsey, dll yang juga terjun di dunia  fashion dan model.
  • Masa Lalu
    Saya pernah membaca di salah satu blog Arsenal favorit saya, @poznaninmypants, yang membahas tentang masa lalu Giroud, entah banter ataupun tidak. Selengkapnya bisa klik link ini: http://poznaninmypants.com/2013/02/05/olivier-girouds-tragic-loss/. Tulisan itu dikutip dari interview Giroud di salah satu media ternama Perancis, L’equipe. Tulisan itu juga menerangkan tentang masa lalu Giroud yang kehilangan pacarnya ketika masa sekolah. Pacarnya tewas mengenaskan dibunuh dalam kondisi tidur. Kemudian, Giroud berada disebelahnya histeris melihat darah berceceran di sekujur tubuh pacarnya. Hingga sekarang ia belum bisa melupakannya. Beruntung  Giroud tidak terbunuh karena saat itu dia mengalami Nocturnal Penile Tumescence, atau ereksi saat tidur, atau di Indonesia lebih dikenal, erm, maaf, ngac*ng. Tak heran kita sering melihat Giroud kadang-kadang ngelamun dan bengong di lapangan. Hal itu kembali mempengaruhi performanya. Jujur saya pernah melihat orang kecelakaan di depan mata, dengan kondisi otak korban terburai. Hingga detik ini, saya masih terngiang dengan kecelakaan tragis itu terjadi.
  • Skandal
    Semua orang pasti pernah terjerat skandal. Baik berat maupun ringan. Pun demikian Giroud. Kali ini, Giroud tertangkap kamera selingkuh dengan model ternama bernama Celia Kay, di sebuah Hotel Four Seasons di Canary Wharf, Inggris. Tepatnya ketika sebelum laga Crystal Palace menghadapi Arsenal pada 2 Februari 2014. Giroud akhirnya mengakui perselinkuhannya  setelah mencetak dua gol ke gawang Everton pada 8 Februari 2014 di ajang FA Cup, meski ia menyanggah bahwa tidak berhubungan intim dengan si model. Giroud pun meminta maaf atas semua itu seperti dikutip dari twitternya @_OlivierGiroud_,“Ultimate precision with respect to my apologies...Yes I made a mistake but not I have not committed adultery! Things are clear...” dan,” I now have to fight for my family and for my club and obtain their forgiveness. Nothing else matters at the moment.” Wenger dengan klasiknya, hanya menyatakan bahwa ia tidak ingin mengganggu privasi orang lain. Pada akhirnya Giroud pun didenda dengan alasan indisipliner. Serangkaian kejadian itu memang membuktikan Giroud salah, yakni selingkuh di saat sebelum bekerja. Namun, tak semuanya salahnya. Pasti ada faktor kenapa hal itu terjadi. Salah satunya adalah media yang mana membesar-besarkan masalah itu. Dengan demikian, penikmat media jangan langsung percaya pada media. (Perihal media akan dilanjutkan khusus di bagian media di bagian paling bawah).
  • Paceklik gol melawan tim besar
    Well, ini juga merupakan rahasia umum yang telah diketahui khalayak ramai. Giroud hingga saat ini belum bisa membobol gawang-gawang tim yang notabene besar seperti ManUtd, Chelsea, ManCity. Hal ini membuat berbagai kalangan menganggap Giroud is a new Chamakh. Chamakh pun malah bisa membobol gawang Chelsea kala ia bermain di Crystal Palace musim lalu. Ini merupakan hal yang sangat vital karena demi gelar kalian harus mengalahkan semua rival, dan itu membutuhkan striker. Namun, tidak semuanya Giroud dapat disalahkan atas hal ini. Mari kembali kita melihat ke belakang bahwa Giroud bisa membobol gawang-gawang tim besar lainnya seperti Bayern Munich, Dortmund, dan Liverpool. Ini hanyalah masalah waktu bagi Giroud untuk membuktikan dirinya pada dunia bahwa ia layak diberikan kepercayaan.
  • Basic Skill
    Saya akan membagi ini menjadi tiga, yaitu finishing, dribbling, dan passing. Pertama, finishing Giroud kadang-kadang memang membuat kita naik darah. Kita ingat kala Arsenal menjamu Newcastle United di musim 2013/2014, Giroud kala itu lolos dari perangkap offside dan tinggal one-on-one dengan Tim Krul, Kiper Newcastle. Namun, yang terjadi Giroud tak bisa memaksimalkan peluang dengan tendangannya berhasil diblock Tim Krul, beruntung Özil berada di posisi bola rebound berada dan tanpa pengawalan berarti, ia berhasil mengkonversinya menjadi gol, meski sedikit berbau offside. Kedua, dribbling Giroud pun demikian, kadang-kadang membuat kita naik darah. Mari kita Flashback dimana pembantaian 5-1 di Anfield, Kandang Liverpool, terjadi. Giroud dan juga Özil sama-sama under-perform. Banyak passing yang berakhir dengan blunder. Keduanya pun akhirnya diganti pada menit yang sama. (via: https://uk.eurosport.yahoo.com/football/premier-league/liverpool-arsenal-1902/) Ketiga, pembantaian lainnya, yakni kala Arsenal menyambangi  Stamford Bridge, Kandang Chelsea, yang berkesudahan 6-0, Giroud banyak melakukan salah passing yang membuat musuh memanfaatkannya langsung menjadi gol. Meski sempat terjadi insiden salah kartu merah, Giroud kembali menjadi kambing hitam atas kekalahan itu karena performanya yang negatif.
  • Media
    Media sekarang ini adalah sebebas-bebasnya makhluk. Entah apa yang melandasi hal itu saya juga kurang paham. Kebebasan pers dewasa ini, saking bebasnya mereka bisa menjerumuskan karir seseorang. Giroud beberapa tempo setelah diberitakan oleh media perihal selingkuh, sempat langsung mem-private akun twitter miliknya yang mana sudah pasti berisi hujatan, sumpah serapah, dsb. Setelah semuanya mulai mereda, Giroud mengutip kalimat dari seorang filsuf Jerman ternama, Friedrich Nietzsche,” Apa yang tidak membunuhmu, membuatmu tambah kuat.” (via: http://duniasoccer.com/Duniasoccer/Tribun/Lifestyle/Kutip-Nietzsche-Giroud-Lupakan-Skandal)  Ia juga menambahkan bahwa ada sesuatu yang media bilang benar, ada juga sesuatu yang tidak. Jelas ini membuktikan bahwa media menyelipkan “bumbu-bumbu” pada fakta yang disajikan sehingga mendapat rating dari pada penikmatnya. Saya pribadi pun pernah menjadi korban, kalau boleh curhat. Tahun 2011, sekolah saya mengikuti DBL (Deteksi Basketball League) se-provinsi dan saya menjadi salah satu kontingen dari sekolah. Kala itu, nama saya termaktub dalam sebuah koran lokal yang mewawancarai saya. Sontak saya terhenyak dengan hal itu dikarenakan saya tidak pernah diwawancarai oleh pihak manapun. Saya bisa saja melaporkan tindakan itu kepada pihak yang berwajib namun saya lebih memilih untuk tidak mencari perkara baru. Mungkin yang dirasakan Giroud hampir sama dengan saya.

 

Defense

Setelah menilik problematika yang sebenarnya terjadi pada Giroud yang mana membuatnya selalu disalahkan, tidak adil rasanya bahwa kita harus melihat pembelaan atas itu. Saya membaginya menjadi dua bagian. Yakni sbb:

  • Ramsey
    Jujur, saya yakin mayoritas gooners di dunia menginginkan Ramsey pergi  dari klub saat musim 2012/2013 khususnya. Pasca kejadian patah kakinya saat melawan Stoke City, 2010, Ramsey tampil sangat inkonsisten. Sering melakukan salah passing, shooting, dll doing the Giroud lah pokoknya. Tetapi, Wenger justru memperpanjang kontrak Ramsey bersama pemain Arsenal lainnya yang tergabung dalam British-Core. Banyak kalangan menghujat Wenger dan Ramsey kala itu. Namun, sekarang, lihatlah. Saya yakin sekarang ini bahwa 0% gooners yang menginginkannya pergi dari klub. Menilik dari point itu, Giroud bisa membuktikan dan meng-shut-up-kan bacot-bacotan yang telah lama hinggap. Kembali lagi kepada dirinya sendiri terlebih dahulu.
  • Sistem & Link-Up Play
    Saya juga pernah membaca artikel dari salah satu blogger lokal favorit saya, @benhan, tentang evolusi Wengerball. Selengkapnya dapat dibaca di: http://jalanarsenal.com/2013/11/. Ia memaparkan gaya permainan Wenger dari masa ke masa. Berawal dari formasi monoton era invincible (4-4-2), ke formasi variatif era sekarang (4-3-3). Khusus kepada formasi variatif, 4-3-3 sendiri lebih condong kepada 4-3-2-1 dengan Giroud sebagai ujung tombak maupun poros. Bertugas sebagai predator, pengumpan, dan pemancing. Tiga peran itu dipikulnya seiring pertandingan berjalan dan tanpa terasa, rotasi sangat sering terjadi dalam sebuah pertandingan. Giroud disini memainkan peran dalam sistem. 4-3-2-1 menuntut Giroud sebagai poros dari sebuah segitiga. Tidak menyinggung unsur illuminati dsb, Giroud kadang keluar dari segitiga itu sebagai pemancing. Ia terkadang berlari mengelabui musuh sembari menunggu teman yang lain masuk ke permukaan. Perihal itu, Giroud merupakan titik berat kalau dikorelasikan dengan matematika, tidak berada di sudut namun berada di antaranya. Lebih lanjut dapat dilihat di gambar berikut:

    Pada akhirnya, muncul hubungan antar rotasi atau biasa disebut link-up play. Contoh yang dapat diambil antara lain gol pertama Walcott ManCity vs Arsenal (epl),  gol Ramsey Marseille vs Arsenal (ucl), gol Wilshere Aston Villa vs Arsenal (epl), gol kedua Cazorla Arsenal vs Fulham (epl), dsb di musim 13/14 tentunya.

 

Mercusuar

 Setelah melihat kinerja Giroud dalam bermain, saya menganalogikannya sebagai sebuah mercusuar. Ya, benar, mercusuar. Mungkin masih ada yang belum tahu dengan mercusuar karena jaman memang sudah canggih. Secara etimologi, mercusuar adalah menara yang dibangun di pantai, pulau kecil di tengah laut, daerah berbatu karang, dsb, yang memancarkan sinar isyarat pada waktu malam hari untuk membantu navigasi. (via: http://kbbi.web.id/mercusuar). Mercusuar juga sudah mulai jarang digunakan saat ini karena teknologi yang berkembang pesat. Salah satunya ialah penggunaan GPS. Penggunaan mercusuar pun sudah di pandang sebelah mata dan dianggap sudah mulai usang. Pun demikian Giroud. Striker berkebangsaan Perancis ini merupakan mercusuar of human. Mengapa? Lihatlah. Giroud menerangi teman-temannya untuk berlayar dengan memainkan ritme link-up play, bertubuh paling tinggi di wilayah pantai agar kelak diharap dapat menjangkau teman-temannya, serta membantu kelancaran dan navigasi teman-temannya agar sampai ke tujuan. Sementara, mercusuarnya sendiri, tidak bercahaya dimana cahanya hanya untuk orang lain, tidak diurus dan dipandang sebelah mata dimana dapat dilihat dari segi bangunan yang biasanya berlumut, serta perlahan mulai ditinggalkan karena ada sesuatu lainnya yang lebih maju. Lebih spesifik, Giroud memberi ruang kepada Ramsey untuk menjadi Player Of The Year meski gelar top skor diraih Giroud, Giroud dipandang sebelah mata karena performa yang lain lebih bagus darinya, serta Giroud akan mulai ditinggalkan seiring dengan datangnya striker baru. Suatu saat orang akan kembali menengok ke belakang bahwa apa yang dilakukan Giroud ada benarnya.

Last but Not Least

“Fred does things people don't see - not nutmegs or bicycle kicks, but he's efficient without touching ball.”
– Thierry Henry

Quote dikutip melalui @samueljcay dan dikutip juga dari sebuah tv khusus Piala Dunia dimana Henry menjadi komentator disana. Quote itu memberi pandangan kepada orang-orang bahwa Fred, striker Brazil, adalah vital dalam timnya. So does Giroud. Giroud bukanlah Fred, tapi apa yang dilakukan Giroud juga dilakukan Fred, yakni peran vitalnya tak terlihat. Saya punya feeling bahwa Giroud is a new Bergkamp. Saya juga punya feeling, Giroud dan Rosicky akan pensiun di Arsenal. Don’t at me. Pun sekaligus menutupi tulisan ini, bahwa satu yang penting, bahwa Arsenal masih membutuhkan Giroud. Bagi yang masih belum terbuka pintu hatinya, terserah anda, asalkan bisa mempertanggung jawabkannya, seperti kasus Ramsey.

 

She Wore A Yellow Ribbon – Setapak Menuju Wembley

"Que sera sera. Whatever will be will be. We're going to Wemberley. Que sera sera"
Chants yang merupakan kutipan dari sebuah lagu Que sera-sera itu, kembali berkumandang di Emirates stadium, saat Liverpool bertandang ke Emirates kemarin. Bagaimana tidak, sebelum semuanya itu terjadi, dalam sepekan terakhir Arsenal sedang telah dilanda (media bilang) krisis. Berawal dari "pembantaian" di Anfield, markas Liverpool, hingga tidak bisa mengalahkan United di kandang sendiri yang notabene sedang mengalami musim terburuk itu. Hal tersebut merupakan suatu keanehan tersendiri, mengingat Arsenal telah berjuang mempertahankan Top Of The League dalam jangka waktu yang paling lama dibanding kontestan EPL lain musim ini dengan ±100 hari, lolos dari grup neraka di UCL, serta hanya terpaut 1 poin dari pemuncak klasemen, Chelsea. Sungguh aneh. But then again, whatever will be will be.

Kritikan tajam mengalir deras yang datang dari berbagai pihak, Arsenal tetaplah Arsenal. Mereka berjuang bak pahlawan. Satu lajur dalam filosofi The Arsenal Way. Bagaimana tidak, Arsenal bangkit di laga melawan Liverpool yang bertajuk FA Cup kemarin dengan spirit yang membara karena mengusung misi balas dendam dengan kejadian pembantaian di Anfield dan megusung ke suatu tempat yang fans ingin rasakan dan idam-idamk anatmosfirnya, Wembley. Arsenal langsung tancap gas sejak menit awal tanpa memberi ampun, pertandingan berjalan keras dan performa Fabianski sangat amat luar biasa malam itu.

Arsenal juga telah membuktikan kepada doubter bahwa mereka salah menilai Arsenal. Terutama salah satu komentar dari pelatih Chelsea, Jose Mourinho yang pernah berkata,"Wenger has a specialist in failure."Sehari setelah komentar itu terucap, Chelsea gugur dari FA Cup dan sehari berselang setelah itu, Arsene Wenger hanya membalas,"I never spoke about him. It's more embarrassing for Chelsea than for me." Jawaban klasik tersebut bisa membungkam mulut seseorang dalam waktu yang lama IMO (In My Opinion / menurut saya).

Tersisihnya Chelsea dan Liverpool dari FA Cup membuat para pengamat menjagokan Manchester City yang bakal keluar sebagai juara FA Cup musim ini. Namun, ini adalah FA Cup yang terkenal dengan daya magisnya, yakni yang lebih kita kenal The Magic Of The FA Cup. Bagaimana tidak, kompetisi tertua di dunia yang berdiri sejak 1871 ini, baru menghadirkan 11 gelar sebagai rekor terbanyak peraih trofi tersebut, yaitu Manchester United dan Arsenal peraih terbanyak kedua dengan 10 gelar (tahunini 11 amin). Hal ini membuktikan bahwa 143 tahun kompetisi ini berjalan, sudah banyak tim yang memenangkan piala ini. Yang berarti bahwa tim yang tak diperhitungkan pun dapat memenangkan piala ini. Salah satu contoh simpel dapat kita lihat musim lalu. Wigan Athletic yang diperkirakan pengamat bakal dibantai di final FA Cup oleh Manchester City, justru dapat membalikkan prediksi dan memenangkan trofi tersebut. By the way, Manchester City danWigan Athletic (juara bertahan) akan kembali bertemu di babak FA Cup selanjutnya, sementara Arsenal akan menjamu Everton (pelatih juara bertahan).

She Wore
Bicara soal FA Cup, kita tentu tak asing lagi dengan chants yang satu ini:
"She wore! She wore! She wore a yellow ribbon!
She wore a yellow ribbon in the merry month of May.
And when! I asked! Oh why she wore that ribbon!
She said it's for the Arsenal and we're going to Wembley!
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley.
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley."

Yep. Chants yang dinamakan She Wore A Yellow Ribbon ini sebenarnya bukanlah makna tersirat. Salah satu contoh lirik yang menunjukkan hal itu ialah She wore! She wore! She wore a yellow ribbon! Konon pada saat final FA Cup tahun 1971 dimana Arsenal keluar sebagai juara, ada seorang Goonerette fanatic yang ngechant, sembari mengenakan pita kuning, biarpun Arsenal kalah, Goonerettes tetap setia pada Arsenal. Maksud lain dari chants ini juga ialah pita kuning yang terikat erat pada trofi piala FA cmiiw. Mari kita lihat gambar berikut:

facup1971

Gambar ini adalah tahun pertama Arsenal meraih double winners. Di saatitu Arsenal memenangi liga di WHL, kandang tetangga yang baik hati serta tentunya memenangi FA Cup. Tampak salah satu legenda Arsenal, Charlie George, di sebelah kanan, adalah mencetakgol kemenanganp adalaga final FA Cup tahun 1971 melawan Liverpool yang dihelat di Wembley. Pita kuning yang diarsir melingkar adalah kombinasi dari jersey yang dikenakan Arsenal di laga itu yang kebetulan Arsenal mengenakan jersey kuning cmiiw. Hal itulah yang dibangga-banggakan kita, fans Arsenal.

sheworedotcom

Gambar diatas yang diambil dari @SheWore ini, juga merupakan salah satu bentuk apresiasi untuk Goonerette tadi (setelah saya kepoin akun twitternya). 3pm GMT pada gambar disamping, adalah dihelatnya pertandingan final FA Cup.

FYI. Tak hanya chants Que Sera-Sera saja yang diambil dari lirik lagu, pun demikian dengan chants She Wore A Yellow Ribbon. Chants She Wore A Yellow Ribbon ini diambil dari lirik lagu yang berjudul Tie A Yellow Ribbon karya Tony Orlando, yang intinya mengisahkan prajurit ikut berperang yang meninggalkan istri dan anak. Lalu sebagai bentuk kesetiaan, para prajurit ini meminta mereka mengenakan pita kuning hingga prajurit kembali berperang.

Chants She Wore A Yellow Ribbon pun diambil dari judul film yang berjudul sama, She Wore A Yellow Ribbon keluaran tahun 1949. Sama halnya dengan lagu berjudul Tie A Yellow Ribbon, film ini menceritakan tentang prajurit yang harus meninggalkan keluarganya untuk berperang dan akan kembali lagi suatu saat nanti.

A Yellow Ribbon
Pita merupakan simbol. Yakni simbol suatu sikap kepedulian. Dalam realitanya, pita kuning merupakan simbol kepedulian pada seksama yang terkena musibah. Contohnya antara lain anak hilang (amber alert), sarcoma, pencegahan bunuh diri, dsb. Dalam psikologi, pita kuning merupakan sebuah simbol pengharapan terhadap sesuatu hal.

Wembley
Wembley. Mendengarnya saja saya sudah Goosebumps (bulu kuduk merinding). Apalagi jikalau Arsenal main disana dan memenangkan FA Cup disana. Hehe.

Stadion berkapasitas 90,000 dan terletak di barat laut kota London itu, adalah di idam-idamkan semua Rakyat Inggris. Khususnya pencinta sepakbola. Mengapa? Karena stadion itu hanya digunakan untuk hal-hal tertentu saja. Contohnya ialah final League Cup, semifinal hingga final FA Cup, Timnas Inggris berlaga, serta kemungkinan seperti musim lalu, final UCL yang dihelat di Wembley. Hal itulah yang membuat orang-orang disana bangga jika menyaksikan laga di stadion itu secara langsung. Hal itu jua lah yang membuat salah satu stadion termegah abad ini menjadi stadion yang "sakral".

Terakhir kalinya Arsenal berlaga di Wembley ialah final League Cup kontra Birmingham City, pada 2011 yang berakhir sebuah tragedi dan ironi bagi The Gunners, fans Arsenal. Sejak stadion ini berganti nama menjadi The New Wembley, Maret 2007, Arsenal belum memenangkan sebuah trofi. Entah sebuah jinx ataupun tidak. Semoga di musim ini ceritanya bakal berbeda dan berakhir berbahagia bagi kita fans Arsenal.

At Last But Not Least
Tak terasa kita sudah memasuki fase perempat final, setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, semua cobaan telah dilalui dengan suka maupun duka. Saya berharap ini merupakan sebuah awal kesuksesan yang berbuah manis di akhir kelak. Saya ingin kembali melihat senyum semringah bahagia yang terpancar di wajah Sang Professor, Arsene Wenger, di akhir bulan Mei nanti.

Terakhir, mari kita kumandangkan lagi chants ini:
"She wore! She wore! She wore a yellow ribbon!
She wore a yellow ribbon in the merry month of May.
And when! I asked! Oh why she wore that ribbon!
She said it's for the Arsenal and we're going to Wembley!
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley.
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley."

 

 

INGIN MENULIS BUAT KAMI?

Kirimkan tulisan mengenai Arsenal dan seputarnya melalui surel ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Ujian Terberat Dimulai: Now or Sorrow?

Satu huruf: Y, pantas disematkan kepada Arsenal musim ini. Mungkin tidak hanya musim ini saja, di setiap musim Arsenal telah mengalami ujian demi ujian terberat ini sebelumnya. Ujian itu sebenarnya adalah sebuah persepsi kita yang mengeluhkan hal itu terjadi bertahun-tahun. Bagaimana tidak, Arsenal harus melewati beberapa pertandingan yang notabene berat karena akan menghadapi berbagai tim besar (Big Match), ditambah lagi jeda waktu istirahat yang sedikit (baca: jadwal padat), serta banyak kehilangan pemain kunci yang berhalangan tampil, tak hanya badai cedera namun juga akumulasi kartu sehingga menerima hukuman bermain. Ironis.

Sebelum saya lebih panjang lebar, sungguh mungkin agak berlebihan bagi mereka yang bertanya-tanya bahwa akan keberadaan imbuhan ter- dan tanda tanya di judul tulisan di atas. Semua itu jelas bukan tanpa alasan. Semua ini berdasarkan pengalaman dan statistik, walaupun kita bisa belajar dari pengalaman itu dan mengubahnya (ex: transfer Özil) dan statistik yang tak selamanya benar, ex: sesuai artikel via The Guardian yang berjudul "Does analysing football through statistics miss the point of the game?" yang intinya mengkritik penggunaan statistik yang berlebihan pada sepakbola. Namun diatas itu semua, kata imbuhan ter- tersebut adalah tepat berdasarkan 3 faktor yang saya jelaskan sebelumnya (jadwal padat dll) yang sayangnya berakhir dengan tragis. Pun dengan tanda tanya di akhir judul, itu merupakan penegasan bahwa kita tidak tahu apapun yang terjadi, apakah berakhir dengan tragis (lagi) ataupun bahagia, meski ditunjang oleh statistik yang maha benar.

Kendala

Faktor-faktor kendala yang perlu saya garis bawahi dan jelaskan disini bahwa kenapa menjadi ujian terberat adalah kendala akan jadwal padat, Big Match, dan pemain yang absen. Hal tesebut adalah simbosi mengingat di musim-musim sebelumnya, tak jarang Arsenal menemui hal ini. Bisa dibilang Arsenal adalah "apes" ketika hal itu terjadi karena hanya sedikit saja meraih kemenangan. Mari kita review sejenak sembari mengingat memori-memori yang lalu. Setidaknya kita me-review sejak musim 2007, atau di musim pertama bagi Arsenal tanpa King Henry yang hengkang ke Barcelona:

2007-20082007/2008

Tidak terlalu buruk meski ditinggal sang kapten, Henry. Arsenal adalah Top Of The League hingga Februari. Namun, cedera Eduardo (patah kaki) mungkin menjadi penyebab mental The Young Guns goyah. Dapat dilihat juga bahwa jeda waktu juga sedikit (±3 hari). Pada akhirnya hanya mampu finish ke-3.

 

 

 

 

 

2008-20092008 / 2009

Sudah mencapai semifinal The FA cup dan UCL, fokus pun terbagi. Faktanya, semakin jauh sebuah klub mengikuti kompetisi, semakin padat pula jadwal yang akan dihadapi. Sempat juga mendatangkan Arshavin, bintang Rusia di Euro 2008, di transfer Januari. Namun, hal itu tidaklah cukup karena Arshavin yang terkendala cup-tied (tidak bisa berlaga di Eropa) dan berbagai pemain yang cedera. Pada akhirnya hanya mampu finish ke-4.

 

 

 

 

 

 

2009-20102009/2010

2 kali pertandingan berat beruntun , cedera Ramsey (patah kaki), kekalahan perdana di liga dari Sp*ds sejak 1999, dan juga kapten Fabregas yang sering didera cedera, adalah salah satu musim tersulit Arsenal meski sempat mendatangkan kembali salah seorang legenda klub, Sol Campbell di transfer Januari. Yang pada akhirnya membuat Arsenal finish ke-3.

 

 

 

 

 

 

 2010-20112010/2011

Kekalahan di final piala liga yang tanpa kehadiran kapten Fabregas yang cedera, jadwal padat (± 3hari) yang diiringi Big Match, serta harus membagi fokus diantara keempat kompetisi. Yang pada akhirnya Arsenal hanya mampu finish ke-4.

 

 

 

 

 

2011-20122011/2012

Mungkin di musim 2011/2012 ini adalah sedikit jadwal padat Big Match beruntun. Namun, gambar disamping adalah salah satu yang vital karena Arsenal membagi fokus antara play-off UCL dan liga, yang juga baru ditinggalkan sang kapten, Fabregas. Pada akhirnya Arsenal hanya mampu finish ke-3.

 

 

 

 

2012-2013

2012/2013

Musim yang berat kembali terjadi karena Arsenal lagi-lagi ditinggalkan sang kapten yang menyebrang ke rival. Dan Lagi-lagi membagi fokus antara jadwal padat The FA Cup dan liga, yang berujung Arsenal hanya finish ke-4.

 

 

 

 

 

2013-20142013/2014

Dan yang terakhir ini masih menjadi misteri. Jadwal ini bisa disebut lebih "parah" dari sebelumnya. Sehingga layak diberikan imbuhan "ter-" pada kata berat pada judul. Rentetan ini juga diiringi pemain yang absen. Meski skuad Arsenal yang sekarang lebih berpengalaman daripada yang dahulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Now or Sorrow?

Adalah tanda tanya besar yang menandakan bahwa kita siap untuk mencetak sejarah sekarang atau kembali berduka seperti beberapa musim yang silam. Ini hanya masalah waktu, karena waktu yang akan menjawab semuanya. Dengan semakin dewasanya attitude dan semakin kuatnya mental para pemain, bukan tidak mungkin, sejarah akan terukir indah dengan sendirinya kelak. Sebagai fans kita seharusnya dan harus yakin dan mendukung penuh usaha mereka. Karena tanpa keyakinan tersebut, kita akan selalu diselimuti rasa putus asa (asal jangan takabur menyelimuti).

If you don't believe you can do it, then you have no chance at all – Arsene Wenger

photos courtesy of arsenal-mania.com, stats.football.co.uk and goal.com


 

Ingin menulis buat Arsenal Indonesia?
Kirimkan karyamu pada kami via email ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Subscribe to this RSS feed