Menu

gonnersview banner

Gooners View, Dari Gooners untuk Gooners

Membela Mesut Özil

Pada bulan Agustus 2013 terdengar sorakan gembira dan alunan musik dansa yang berasal dari sebuah pesta di kota Arsen. Disinyalir bahwa asal muasal digelarnya pesta tersebut adalah simbol perayaan para rakyat mereka (biasa disebut Gooners) yang tengah menyambut kedatangan seorang pahlawan super bernama Mesut Özil. Özil didatangkan secara khusus untuk mengembalikan kejayaan dan kemakmuran kota oleh Gubernur Wenger yang sudah memimpin kota Arsen selama kurang lebih 17 tahun.

Özil dianggap sebagai Mesiah oleh para Gooners. Para Gooners menaruh harapan setinggi langit kepada Özil yang notabene adalah salah seorang dari pahlawan perang terbaik sejagad raya. Pengalamannya membela kota Madri dan Negeri Panzer selama ini memang membuatnya banyak diperebutkan oleh kota-kota di seantero dunia. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau Özil akan berlabuh di Kota Arsen yang tengah mengalami krisis berkepanjangan selama 8 tahun.

Kemampuan Mesut Özil dalam menyalurkan serangan kepada musuh tidak perlu lagi diragukan. Bersama dengan pahlawan dari Kota Madri, Cristiano, Özil menjadi salah satu penyalur serangan terbaik di tanah Eropa, bahkan seluruh dunia. Kedatangannya meyakinkan seluruh penduduk kota Arsen kalau kekeringan dan krisis akan segera berlalu berganti dengan kejayaan yang sempat mereka rasakan 8-10 tahun silam.

Kedatangan Özil ternyata langsung memberikan dampak luar biasa bagi Kota Arsen. Dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan Özil membawa kota Arsen menjadi kandidat terkuat untuk meraih penghargaan kota terbaik se-Inggris. Pengalaman serta keahliannya mampu mendongkrak performa seluruh pasukan perang Arsen termasuk seorang pasukan amatir yang dulunya lebih sering dicerca namun berubah menjadi sesosok super-human semenjak kedatangan Özil. Tentu saja orang yang dimaksud adalah Aaron. Dan tidak hanya Aaron, seluruh pasukan Kota Arsen seakan terkena sihir dan magis dari Özil sehingga performa mereka ketika berperang terlihat begitu meyakinkan dan mempesona. Seluruh Gooners pun seringkali berpesta setiap minggunya berkat kemenangan yang terus mereka raih setelah pergi berperang. Harapan akan kesuksesan di akhir tahun pun tampaknya hanya tinggal di depan mata saja.

Namun ternyata tidak selamanya sang pahlawan ini bisa terus menampilkan performa terbaiknya. Özil mengalami penurunan performa dalam 2 bulan terakhir ini. Kelelahan menjadi faktor utama yang disinyalir membuat Özil terkadang tampak malas dan lesu ketika berperang. Kekalahan telak dari Kota Red Liver adalah mimpi buruk bagi Özil. Kelalaiannya dalam menyalurkan serangan membuat benteng pertahanan Kota Arsen yang dipimpin oleh Per Mertesacker dan Laurent Koscielny hancur tak bersisa. Bahkan palang pintu terakhir Wojiech Szczesny pun harus setengah mati mempertahankan Kota dari serangan para pasukan Red Liver. Alhasil, kelalaian Özil mengakibatkan luka yang cukup parah terhadap Kota Arsen dan para Gooners. Özil pun mulai banyak dikecam, dijatuhkan, dan dipertanyakan. Apa benar Özil adalah pemain yang sama seperti Özil yang dahulu membela panji Kota Madri dan Negeri Panzer?

Gubernur Wenger yang bijaksana pun angkat bicara mendengar banyak suara miring keluar dari mulut rakyatnya yang tercinta. Gubernur Wenger merasa kalau Özil membutuhkan waktu adaptasi di Kota Arsen yang notabene memiliki jadwal perang lebih padat dibandingkan dengan jadwal perang Özil terdahulu. Sang Gubernur pun mengatakan kalau Özil selalu berlatih dan berusaha lebih keras untuk memberikan yang terbaik bagi Kota Arsen dan segenap Gooners yang ia cintai. Gubernur Wenger juga sempat menyarankan para penduduk untuk tidak terlalu membebani Özil. Beban tersebut tampaknya lebih berat dari yang kita bayangkan. Beban selama kurang lebih 8 tahun. Belum lagi tanpa pasukan lengkap karena banyaknya mereka yang terluka di medang perang, seperti the Wonderkid Aaron.

Saat kemampuan Özil tengah banyak dipertanyakan, Kota Arsen harus pergi berperang melawan salah satu Kota terkuat di dunia, Kota Bavaria. Meski nada optimis terus disuarakan oleh segenap penduduk dan pasukan perang Kota Arsen kenyataan yang benar terjadi nyatanya semakin menyudutkan Özil. Sang pahlawan yang tampil gemilang di paruh awal peperangan besar tersebut mengecewakan seluruh Kota Arsen.

Saat tinggal berhadapan 1 lawan 1 dengan sahabat masa kecilnya di Negeri Panzer, Neuer, Özil terlihat seperti orang kebingungan. Tebasan pedang Özil pun dengan mudah ditepis oleh tameng raksasa Neuer yang tampak lebih percaya diri. Özil hanya bisa meratapi kegagalannya. Peperangan pun semakin tampak suram bagi Kota Arsen saat palang pintu terakhir Szczesny harus keluar lapangan secara tak terduga akibat luka parah saat menginjak ranjau yang dipasang oleh Robben salah satu pasukan andalan Kota Bavaria.

ozil penalty bayern

Kota Arsen pun kembali goyah. Krisis kepercayaan diri terlihat menggerogoti penampilan Özil. Meski pasukan lainnya bermain cukup baik, begitupun dengan Özil, tetapi kegagalannya dalam mengalahkan Neuer saat duel 1 lawan 1 mengakibatkan semua mata tertuju pada Özil. Özil menjadi kambing hitam sebagian banyak rakyat yang kecewa. Suara negatif pun terdengar semakin kencang. Rakyat pun kini terbagi menjadi 2. Mereka yang pro dan tetap membela Özil dan mereka yang berharap kalau Gubernur Wenger harus menghukum Özil untuk diam di rumah dan tidak pergi berperang untuk sementara waktu.

Saya sebagai salah satu penduduk Kota Arsen pun kecewa dengan menurunnya performa Özil. Hanya saja cacian dan makian kepadanya tidak akan menyelesaikan masalah. Biarlah Özil mengambil waktu dan berbenah. Tak adil rasanya membebankan seluruh beban kita di pundaknya.

Sebagai salah satu penduduk Kota Arsen yang budiman saya ingin memberika sebuah buku bacaan yang digemari oleh banyak anak-anak di seluruh dunia kepada Özil. Bacaan itu biasa disebut manga di Negeri Jepun. Manga yang akan saya berikan kepada Özil diantaranya adalah Captain Tsubasa, Our Fields of Dream, dan juga Fantasista. Semoga saja manga tersebut bisa kembali meletupkan semangat dalam dirinya. Karena yang perlu kita ketahui adalah, semua pahlawan itu harus kalah terlebih dahulu sebelum menang dan membalikkan keadaan secara dramatis.

Mengutip dari judul lagu Justin T yang sedang nge hits di Kota Arsen belakangan ini, marilah kita berseru, There'll be no problem as long we got our Mesut and Tie. Believe !

(Semua tulisan di atas hanyalah pelarian saya dari sebuah emosi yang masih begitu bergejolak setelah menyaksikan pertandingan Arsenal vs Bayern Muenchen dini hari tadi. Cheers!)

Bring it on United !

Bertandang ke Anfield dengan modal yang cukup cemerlang dalam beberapa tahun terakhir ternyata tidak mampu menyelamatkan Arsenal dari kekalahan menyakitkan kedua mereka musim ini. 5-1 adalah skor yang patut kita syukuri karena jika Tuhan tak berbaik hati, rasanya akan ada sekitar 9 gol yang bersarang di gawang Szczesny pada pertandingan tadi malam. Terima kasih saya ucapkan pada Steven Gerrard yang memberikan kami sebuah hadiah berupa 1 buah gol walau ia memberikannya secara tidak langsung.

Kebobolan 4 gol dalam 20 menit pertama jelas menjadi mental break-down bagi siapapun yang mendukung Arsenal. Entah bagaimana perasaan para pemain akan hasil tersebut. Yang pasti setiap gol yang merobek jala Szczesny seakan meruntuhkan keyakinan para Gooners kalau penantian mereka akan sebuah gelar akan berakhir pada musim ini. Sumpah serapah, caci maki, dan kekecewaan menjadi sahabat para Gooners yang tampaknya sudah lelah diberi harapan palsu oleh tim berlogokan meriam ini.

Bersyukurlah kalau kita hanya kehilangan 3 poin. Kalah 10-0 pun kita hanya akan kehilangan 3 poin. Bukan akhir dari dunia bukan? Secara matematis, pemburuan gelar masih sangat terbuka. Hattrick dari Eden hazard memang membawa Chelsea ke puncak klasemen sementara tetapi bersyukurlah Norwich mampu meredam nafsu mencetak gol The Citizens hingga Arsenal hanya turun 1 peringkat ke posisi ke-2. Kalah dengan kemasukan 5 gol secara memalukan pun rasanya jadi sedikit termaafkan.

Suara-suara pesimis pun terdengar makin nyaring seraya kekalahan di Anfield. Namun jangan lupa kalau kekalahan telak ini bukanlah yang pertama. Kekalahan 6-3 di Etihad Stadium Desember lalu juga memunculkan banyak suara negatif yang meyakini Arsenal akan segera terjun bebas dari puncak klasemen.20 dari 24 poin setelah kekalahan dari City berhasil diraih Arsenal Tapi apa kenyataannya? 20 dari 24 poin setelah kekalahan dari City berhasil diraih Arsenal dengan diimbangi sebuah bukti akan kokohnya posisi mereka di puncak klasemen sebelum Hazard menggila di Stamford Bridge saat melawan Newcastle.

Mereka yang mempertanyakan kebijakan transfer musim dingin pun juga mulai berani banyak angkat bicara. Mereka seakan mau mencari-cari kambing hitam untuk disalahkan. Arsene Wenger disalahkan karena ia gagal memboyong seorang striker baru untuk Arsenal. Mereka menyalahkan Olivier Giroud yang terisolasi seorang diri di lini depan hanya dengan ditemani oleh Kolo Toure dan Simon Mignolet. Mengutip isi dari artikel @youaremyarsenal ada sebuah pernyataan yang saya rasa sangat tepat untuk diajukan kepada mereka yang mempertanyakan kehadiran sosok pelapis Giroud di lini depan, "Apa keroposnya pertahanan Arsenal saat dijebol 5 kali adalah kesalahan seorang Giroud? Apakah tidak berjalannya link-up play para pemain tengah Arsenal saat membangun serangan dari titik pertahanan adalah kesalahan Giroud yang notabene berposisi paling depan dibanding pemain lainnya?" Hal-hal tersebut hanya diajukan oleh mereka yang tampaknya memang hobi mencari-cari kesalahan seorang Arsene Wenger. Terima sajalah kenyataan kalau Liverpool memang bermain jauh lebih baik selama 90 menit pertandingan tersebut.

Hal yang paling pantas disyukuri adalah kesempatan Arsenal untuk kembali ke tren positif mereka kini terbentang di depan mata. Hasil pertandingan hari Rabu melawan The Mighty Manchester United akan menentukan nasib Arsenal dalam pemburuan gelar musim ini. Respon yang harus diperlihatkan oleh para punggawa Arsenal menjadi sebuah tontonan yang layak ditunggu oleh kita semua. Kemenangan melawan United ditambah bumbu aroma dendam kepada Robin van Persie akan mengembalikan kepercayaan diri dan setidaknya membungkam mulut para pengkritik untuk sesaat.

Seperti apa yang Arsene Wenger katakan, "Yang terpenting adalah respon kami pada hari Rabu nanti melawan Manchester United." Dan jika kita menang telak melawan United Rabu nanti, janganlah kalian kaget. "Yang terpenting adalah respon kami pada hari Rabu nanti melawan Manchester United."Bukankah Arsenal dari dulu hobi mempermainkan perasaan para penggemarnya?

Berdoa sajalah Rabu nanti tidak akan ada lagi raut kecewa dari mimik wajah sang professor. Karena jika boleh memilih, saya akan jauh lebih senang kita kalah melawan Liverpool dibandingkan kalah melawan para pasukan merah dari neraka di kandang kita sendiri.

Bring it on United !

INGIN MENULIS BUAT KAMI?

Kirimkan tulisan mengenai Arsenal dan seputarnya melalui surel ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Victoria Concordia Crescit

Memasuki bulan Februari tahun ini tampaknya takkan begitu indah dirasa seperti para pasangan yang bersiap merayakan hari Valentine di luar sana, terutama bagi para Gooners di seantero dunia. Dan tentunya Arsene Wenger merasakan hal yang kurang lebih sama. Atau mungkin tidak sama sekali, saya tidak tahu. Jika anda menginginkan jawaban yang dirasa berbeda mungkin kalian boleh menanyakan bagaimana perasaan kiper andalan Arsenal saat ini Wojciech Szczesny.

Bertandang ke Liverpool pada tanggal 8 sabtu ini, dilanjutkan dengan menjamu The Established club Manchester United 4 hari berselang, kembali menjamu Liverpool untuk ajang FA Cup di 4 hari setelahnya, kedatangan si raja Eropa Bayern Muenchen tanggal 19 Februari, dan meladeni perlawanan si kucing hitam Sunderland yang sedang on fire sebagai penutup pada 22 Februari mendatang. Entah kapan Olivier Giroud akan sempat menikmati cokelat-cokelat yang membanjiri rumahnya hasil hadiah dari para wanita yang menggilainya.

Melihat jadwal yang akan semakin menggila pada bulan Maret dan awal April membuat banyak nada pesimis mulai keluar dari mulut para pengamat sepakbola yang lebih menjagokan Manchester City dan Chelsea sebagai kandidat juara English Premier League musim ini. Bahkan tak sedikit para Gooners yang meyakini kalau tim kesayangan mereka akan tersandung dan mengakhiri musim ini di bawah kedua klub Sugar Daddy tersebut.

Mereka tidak salah, karena apa hak saya untuk menghakimi mereka? Saya bahkan adalah satu dari sekian banyak Gooners yang mungkin juga  berkeringat dingin melihat jadwal mematikan tersebut.

8 tahun tanpa gelar di seluruh kompetisi dan 10 tahun paceklik gelar di ajang liga domestik meyakini beberapa pihak kalau Arsenal membutuhkan suatu revolusi.  Hal inipun membuat para supporter Arsenal memang acap kali terpecah menjadi 3 bagian.

Nomor 1, mereka yang selalu bertentangan dengan apa yang diyakini oleh Arsene Wenger (Anti-Arsene) karena kebijakan transfer yang kerap dicap pelit dan kurang berambisi untuk menjadikan Arsenal penantang serius dalam hal memperebutkan gelar. Mega transfer Mesut Ozil mungkin sempat menutup mulut mereka tetapi kegagalan mendatangkan Julian Draxler dan sejumlah striker andalan pada bursa transfer musim dingin kemarin kembali membangunkan mereka yang tak pernah lelah mengangkat spanduk bertuliskan “spend, spend, spend”.

Nomor 2, mereka yang percaya akan kebijakan Arsene dan selalu beradu argumen kalau Arsenal akan menjadi yang terbaik di masa depan berkat kinerja keras mereka mematuhi Financial Fair Play di tahun mendatang. Mereka percaya kalau Arsene Wenger dan Arsenal memang sudah ditakdirkan bersatu dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun. Mereka senantiasa percaya, menunggu dan menunggu, serta menanamkan pepatah dari sang Mesias terdahulu Dennis Bergkamp di dalam hati mereka. Mereka meyakini kalau mereka mencintai Arsenal apa adanya dan tak hanya mencintai Arsenal saat mereka merengkuh trophi juara. Kemenangan ataupun kekalahan Arsenal bisa jadi menentukan bentuk raut wajah mereka selama satu hari penuh.

Nomor 3, mereka yang pasrah saja tanpa banyak ambil bagian. Menang ya berpesta, kalah ya sudahlah. As simple as that.

arsenal2 1698483c

Sembari membayangkan ketiga bagian supporter tersebut, ada satu perasaan yang seketika menyeruak keluar dalam pikiran ini. Tidak lain tidak bukan, sebuah gema yang berbunyi Victoria Concordia Crescit terus terngiang tanpa henti. Victory comes from harmony, begitu bunyinya setelah diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih mudah kita pahami.

Perasaan takut ataupun cemas melihat Arsenal tak mampu mempertahankan konsistensinya pada periode “neraka” ini jelas menjadi suatu hal yang sangat wajar dan manusiawi. Mungkin saja Mesut Ozil tak bisa tidur karena ini adalah yang pertama dalam hidupnya menghadapi jadwal dan periode sulit seperti ini tanpa bantuan para superstar seperti yang biasa ia dapatkan dalam diri Cristiano Ronaldo. Memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana harusnya Arsenal beraktivitas di bursa transfer atau dalam bentuk apapun juga sah-sah saja karena tidak ada larangan dalam berpendapat sebagai seorang Gooners. Perbedaan itu hal yang lumrah karena kita ini hanyalah manusia biasa.

Hanya  saja coba sedikit ubah sudut pandang kita. Saat ini Arsenal adalah yang teratas di puncak klasemen English Premier League. Sebuah bukti bahwa sedigdaya apapun Manchester City di kandang, semengerikan apapun liukan Eden Hazard, dan sebanyak apapun gol yang dicetak oleh Luis Suarez, kita masih jadi yang terbaik. Untuk apa kita begitu khawatir? Toh hari-hari pembuktian itu akan datang juga dan mau tidak mau harus kita hadapi. Kebiasaan hanya menjadi seorang penantang dalam beberapa tahun terakhir melemahkan mental kita yang bahkan tak ikut bermain di lapangan. Jika kita yang mendukung saja tak yakin akan mereka, lalu harus siapa lagi?

Arsene Wenger memang tak mengenal kita satu per satu secara pribadi. Begitu pula dengan Jack Wilshere cs. yang mungkin sebenarnya tak peduli dengan dukungan kita selama mereka masih dapat bermain bola dengan gaji fantastis tiap minggunya. Tetapi sebagai seorang Gooners tugas kita adalah mendukung mereka dari jauh. Memang apalagi yang bisa kita perbuat selain sorak sorai untuk menyemangati mereka?

Mari kita mulai bersatu dan menciptakan harmoni berupa keyakinan dan dukungan semangat yang positif bagi tim kesayangan kita saat ini. Tinggalkan segala keraguan di masa lalu dan berjuang meraih hari esok yang cerah dimana jalan menuju ke hari tersebut kini tengah terbuka lebar. Jika bukan saat ini, kapan lagi? Itulah mengapa motto Victoria Concordia Crescit terngiang begitu jelas di kepala saya. Ini saatnya kita bersatu menyatukan dukungan kita.

Apapun yang terjadi, tugas kami adalah berdiri di belakang kalian yang berjuang bermandikan keringat di tengah lapangan hijau. Sosok pemain ke-12 yang takkan lekang oleh waktu.

Marilah kita bergandeng tangan dan menyerukan “Victoria Concordia Crescit!”

Victory comes from harmony.

Born not as a Gooners, but will die as one. Victoria Concordia Crescit.

Subscribe to this RSS feed