Menu

gonnersview banner

Gooners View, Dari Gooners untuk Gooners

Menilik Peluang Lolos Arsenal

Tanpa terasa, musim 2015/2016 sudah mencapai paruhnya. Sudah pula mencapai akhir tahun yang sebagaimana biasanya, menjadi jeda kompetisi bagi berbagai liga di benua biru. Dan kompetisi akbar di benua biru, Liga Champions (selanjutnya disingkat UCL) pun telah mencapai jedanya. Jeda ditandai dengan adanya laga terakhir di fase grup UCL. Sisa jeda akan dilanjutkan Februari sebagaimana 16 besar kembali dilanjutkan melalui undian.

Arsenal, sebagai salah satu partisipan, berada di ujung tanduk. Pasalnya, selama keikutsertaannya di UCL, Arsenal selalu lolos dari fase grup sejak tahun 2000. Terhitung 15 tahun sudah Arsenal menjadi langganan di fase 16 besar UCL. Prestise dan juga status sebagai langganan 16 besar lekat dengan Arsenal dimana mencoba terus menjaga kestabilan bermain di top level, selaras apa yang diucap Arsene Wenger di press conference melawan Zagreb beberapa pekan lalu. Manager Arsenal pun menambahkan bahwa ia masih yakin secara matematis Arsenal berpeluang lolos.

Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan, mempertimbangkan kemungkinan terburuk, apakah menjadi bencana besar bagi Arsenal atas partisipasinya di UCL? Sebelum menjawab, mari kita menapak tilas dan membandingkan kondisi dengan pengalaman terdahulu.

Arsenal terakhir kali gagal melaju ke fase berikutnya adalah tepat pada musim 1999/2000. Kala itu, Arsenal hanya mampu bertengger di posisi 3 pada klasemen akhir fase grup yang membuat Arsenal mesti terjeremus di UEFA Cup (sekarang Europa League). Arsenal saat itu berada di grup B. Grup berisi: Barcelona (14pts), Fiorentina (9pts), Arsenal (8pts), AIK Solna (1pt). Arsenal musim itu pula, langsung bereaksi dengan bermain pada final UEFA Cup, meski takluk atas Galatasaray di final. Laga sendiri berakhir imbang tanpa gol yang mau tidak mau harus ditentukan dengan adu penalti. Davor Suker, salah satu legenda Krosia juga, gagal menjalankan tugasnya sebagai algojo yang membuat Galatasaray menjadi kampiun.(via: Arsenal Season Review 99/00)

Arsenal, kini, berada di posisi hampir serupa. Untuk memastikan lolos, Arsenal harus bertarung hingga pertandingan terakhir melawan Olympiakos. Olympiakos (9pts) bertengger di posisi kedua di atas Arsenal (6pts) yang bertengger satu pos di bawahnya. Bedanya, dahulu Arsenal ke UEFA Cup berada di dalam grup neraka, Fiorentina menjadi salah satu momok di Eropa kala itu. Kini, Arsenal harus membayar hasil kecerobohan atau apapun itu, untuk menghindari hal serupa terjadi.

Intermezzo – UCL group stages rules

Menganilis dari kaca mata peraturan UEFA di fase grup, Arsenal sudah tidak bisa lagi keluar dari kompetisi eropa. Soalnya, Arsenal sudah tidak memungkinkan duduk di dasar klasemen lantaran peraturan ini. Untuk bisa lolos pun, Arsenal harus menang setidaknya selisih 2 gol bersih atau menang selisih satu gol dengan catatan itu harus 2-3, 3-4, dst.

Alasan kenapa adanya selisih satu gol dengan catatan, adalah termaktub dalam artikel 17 UCL. Adapun lengkapnya sbb:

a. Higher number of points obtained in the group matches played among the teams in question;
b. Superior goal difference from the group matches played among the teams in question;
c. Higher number of goals scored in the group matches played among the teams in question;
d. Higher number of goals scored away from home in the group matches played among the teams in question;
e. If, after having applied criteria a) to d), teams still have an equal ranking, criteria a) to d) are reapplied exclusively to the matches between the teams in question to determine their final rankings. If this procedure does not lead to a decision,

criteria f) to l) apply;

f. Superior goal difference in all group matches;

g. Higher number of goals scored in all group matches;

h. Higher number of away goals scored in all group matches;

i. Higher number of wins in all group matches;

j. Higher number of away wins in all group matches;

k. Lower disciplinary points total based only on yellow and red cards received in all group matches (red card = 3 points, yellow card = 1 point, expulsion for two yellow cards in one match = 3 points);

l. Higher club coefficient (see Annex D).
(via: Artikel 17 UCL rules)
Mengenyampingkan point K dan I, dimana diluar teknis masalah gol, singkatnya sbb:
1.Pts won
2.Pts in H2H
3.GD in H2H
4.Goals scored in H2H
5.Away goals in H2H
6.Goal difference
7.Total goals
(via: @socanalysisHQ)

Untungnya, sejauh ini di grup, seluruh tim belum pernah merasakan hasil imbang. Hasil imbang sangat mempengaruhi Head to Head (H2H) untuk mengmbil alih peran. Contoh sederhana, seperti kala Chelsea tersingkir dari fase grup Liga Champions pada musim 2012/2013. Saat itu, mereka memiliki poin sama dengan posisi kedua namun gagal lolos lantaran pada pertemuan pertama mereka harus menelan hasil imbang 2-2 di kandang sendiri. Meskipun mereka menang besar di laga terakhir, nyatanya hal itu tidak mampu menolong mereka untuk lolos ke fase 16 besar.

Jadi, untuk kasus Arsenal sekarang, lebih kepada agregat gol. Selisih satu gol 2-3, secara agregat sama, namun Arsenal lebih unggul selisih gol (-1) ketimbang Olympiacos (-3). Jika Arsenal menang dengan selisih satu gol 3-2, 4-3, dst, maka Arsenal bakal surplus 1 gol dalam jumlah selisih gol. Sehingga, hal itu tetap menjaga gap dari selisih gol berubah jauh.

Meninjau kekuatan lawan

MatchDay 6 kali ini bakal dipenuhi dengan drama. Pasalnya, ini hanya masalah dua kubu yang ingin spot mereka untuk lolos terpenuhi. Ibarat sebuah laga final. Kedua kubu diyakini bakal habis-habisan. Olympiakos bakal tidak diperkuat oleh gelandang Bouchalakis lantaran cedera paha. Sementara itu, bek mereka Maniatis, diragukan tampil lantaran cedera lutut. Tidak ada pemain yang suspended dari kedua tim. Selebihnya, mereka akan diperpekuat dengan kekuatan penuh. (via:olympiacos.org)

Salah satu yang perlu diwaspadai adalah Cambiasso. Pemain yang pernah mengangkat trofi UCL bersama Inter di tahun 2010 ini, diyakini menjadi ancaman bagi lawan lantaran pengalamannya di UCL yang sudah di buktikan pada pertemuan pertama kedua kubu.

Dari segi form, mereka memuncaki klasemen di liga Yunani dengan 36 poin, unggul 10 poin dari pesaing terdekatnya yakni A.E.K Athens di posisi kedua. Di 5 laga terakhir di liga, mereka memperoleh 3 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kalah. Dan kekalahan terakhir itu, adalah terjadi di kandang pula dengan skor 0-2 oleh Veria. Apakah Arsenal bisa melakukan hal serupa? Time will tell.

Go Through or Déjà vu

Entah Déjà vu atau tidak, apabila Arsenal tersingkir lagi, berarti sudah 6 musim berturut-turut Arsenal tidak bisa lebih dari 16 besar. Bedanya, kali ini bakal lebih buruk lantaran harus pergi lebih dini di fase grup. Déjà Vu yang merupakan bahasa Perancis yang berarti "already seen" ini, selaras dengan Arsenal apabila ini kembali terjadi beberapa hari ke depan. Kembali lagi, 5 musim terakhir Arsenal hanya mentok di 16 besar yang lawan-lawannya yaitu Barcelona, AC Milan, Bayern Munich, Bayern Munich, dan AS Monaco. Keseluruhan pun, Arsenal tersingkir dengan aggregate maksimal 2 gol, yakni melawan Bayern Munich musim 2013/2014. Sisanya, Arsenal memberikan perlawanan sengit sampe peluit 180 menit dibunyikan.

Apapun itu, ada fakta menarik tentang Olympiakos. Meski Arsenal dalam 3 lawatan terakhirnya ke kandang Olympiacos selalu kalah, akan tetapi mereka selalu bertemu di laga terakhir yang dulu sudah tidak menentukan lagi untuk lolos. Otomatis, Wenger memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk unjuk gigi.
Selain itu, Olympiakos juga terkenal dengan menyia-menyiakan peluang melawan tim Inggris. Salah satu contoh adalah pada laga 16 besar dua musim lalu, ketika mereka bersua Manchester United. Mereka sempat unggul 2-0 di kandang pada leg pertama. Salah satu gol dicetak oleh pemain Arsenal yang dulu on-loan, Joel Campbell, melalui tendangan spektakuler jarak jauhnya. Namun, pada akhirnya, mereka tersingkir karena Manchester United berhasil membalik kedudukan 3-0 di leg kedua. Angan di pelupuk mata pun kandas dibuatnya.

So, Will Arsenal do the United then? Will Campbell be on the scoresheet again? Time will tell.

 

-Iman P Yudha-

Forsythe 'The Forte'

Sebuah tulisan sebagai bentuk apresiasi terhadap kepala tim fitness Arsenal, Shad Forsythe.

The Forte
Bukan untuk promosi, apalagi untuk endorse. Namun, apakah anda asing dengan obat yang berjudul "SanaFlu Forte" atau bahkan "Neozep Forte" yang berfungsi sebagai obat bagi penderita influenza itu? Yap, benar. Obat yang lumayan laku keras di Indonesia tersebut, merupakan salah satu obat yang terampuh dalam membasmi penyakit tertentu.
Akan tetapi, yang menjadi concern kali ini, adalah Forte-nya. Sebenarnya apa sih kata-kata Forte yang tersematkan dalam "SanaFlu Forte" dan "Neozep Forte" itu? Forte merupakan bahasa Italia yang mana jika di-Indonesia-kan menjadi 'kuat' atau 'cepat'.
Namun, kata-kata Forte mendapat tempat lain di dunia medis. Kata-kata Forte kerap disematkan pada obat-obatan yang mana dalam hal ini berarti dikalikan. (via: mediacal-era.com) Apanya yang dikalikan? Kekuatan dosisnya. Terbukti dengan adanya SanaFlu dan SanaFlu Forte. SanaFlu Forte kerap kali menjadi pilihan ketimbang yang lain dimana dapat mengatasi situasi tak terhankan sekaligus. Sehingga, obat ini pun dicap sebagai obat paten karenanya.

Lantas?
Sejak November 2005, dalam sesi latihan penuh, Arsenal tidak pernah secara lengkap dihadiri oleh tim seniornya dengan utuh. (via: @__arsenal_news_ ) Pasti ada saja setidaknya 1-2 pemain yang absen dalam sesi latihan. Entah itu cedera ringan maupun sampai mereka yang naik meja operasi. Tak pelak, Arsenal pun kadang-kadang disebut-sebut sebagai tim pesakitan.

Contoh sahih tergambar dari perjalanan karir seorang Abou Diaby. Pemain asal Perancis yang direkrut Arsenal tahun 2006 itu, pernah mengalami tragedi pahit. Ankle-nya dihantam oleh Dan Smith melalui tekel kerasnya dalam laga Sunderland vs Arsenal beberapa laga sebelum kompetisi liga 2005/2006 berakhir. Sejak itu, Diaby hingga kini tak pernah lagi sama. Cedera kerap menerpa yang membuat karirnya pada akhirnya tak berjalan sebagaimana laiknya seorang pemain sepakbola.

Berbagai spekulasi pun muncul ke permukaan. Apakah The Gunners – Julukan Arsenal – benar-benar tim pesakitan? Apakah ada yang salah dengan metode latihan? Apakah ada yang salah dengan Apakah klub Apakah klub ini belum dan/atau butuh akan di-Ruqiyah atau di-Baptist karenanya?
Shad Forsythe

Akan tetapi, semua itu seakan-akan berubah semenjak kedatangan Shad Forsythe. Pertanyaan awal yang muncul: Shad Who? Adalah seorang pria yang lahir di Wenatchee, USA, 8 Juni, 1973. Ia pernah menjabat sebagai staff medis di tim nasional Jerman selama 10 tahun. Sebelum itu, ia juga pernah berkecimpung pada US Olympic Training Centre in San Diego. (via: arsenal.com) Tak heran, Arsenal kepincut memboyongnya pada Juli 2014 untuk meminimalisasi badai cedera yang terjadi dalam tubuh klub.

Ia memberi bukti bukan janji. Sejak kedatangannya, belum pernah terdengar ia berbicara di media setidaknya mengenai kepindahannya ke Arsenal. Akan tetapi, diam-diam, ia menjelma menjadi sebuah obat 'Forte' mujarab bagi klub. 3 April 2015 adalah hari langka nan bersejarah bagi Arsenal Football Club dimana seluruh pemainnya terlibat dalam latihan penuh sejak 2005.

Memang, terlalu mengagung-agungkan apabila perubahan tersebut ditujukan hanya kepada satu orang. Terkesan subjektif lantaran banyak pertimbangan lain semisal cara bermain. Buktinya, di paruh awal musim, Arsenal sempat ditinggal Giroud, Oezil, dan Ramsey selama tiga bulan. Sungguh disayangkan dimana mereka bertiga merupakan pemain vital klub pada musim 2013/2014.

Akan tetapi, sepakbola adalah olahraga kolektif. Semua saling bahu-membahu demi sebuah kemapanan. Pun demikian Forsythe yang bertindak sebagai kepala fitness klub. Kepala fitness setidaknya memberi arahan bahkan instruksi apa yang mesti diabaikan dalam latihan. Sosok yang hilang sejak 2005.

Salah satu kicauan Oezil – pernah bekerja sama dengan Shad Forsythe di timnas Jerman – berikut, mengawali semuanya:

PSX 20150405 155455

Atas itu, jelas bahwa Forsythe bukanlah orang sembarangan. Apa yang dilakukannya 10 tahun ke belakang bagi timnas Jerman, bukanlah buruk. Dalam segi prestasi, timnas Jerman adalah konsisten di level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Juara Piala Dunia 2014, Semifinalis Euro 2012, Semifinalis Piala Dunia 2010, Finalis Euro 2008, Semifinalis Piala Dunia 2006.

Di sisi lain, bahkan pemain yang berlabel injury-prone, Abou Diaby, pun pada akhirnya dapat mengikuti sesi latihan penuh bersama rekannya yang lain karenanya. Sempat hanya sekali tampil di musim ini kala Arsenal menjamu Southampton di Piala Liga. Sejak itu, Diaby belum pernah lagi bermain laga resmi hingga kini. Bagaimanapun, sungguh nahas.

Harapan baru muncul seiring Wenger – pelatih Arsenal – sempat berujar bahwa Diaby akan diperpanjang kontraknya. Bukan tanpa alasan. Dengan utuh kembalinya setiap pemain dan menyisakan beberapa laga, perlu adanya analisa progress week after week. Apabila secara konsisten semua (termasuk Diaby) tidak ada yang cedera hingga akhir musim dengan kebijakan rotasi yang relevan, bukan tidak mungkin ia akan diperpanjang kontraknya.

Terlepas itu, apabila hal itu benar-benar akan terjadi, the signing of the season is not Alexis, but Shad Forsythe. Ia adalah obat mujarab yang selama ini dicari-cari. Ibarat pengatrolan dosis sempurna hingga mencapai titik maksimum. Pun menisbikan kondisi psikis dan mental para pemain. Sesuatu yang hilang itu seolah-olah hadir kembali. Bukan herbal, bukan generik. Melainkan Forsythe 'The Forte'.

Kudos, El BúhÖ

Sebuah tulisan sebagai wujud apresiasi dan kinerja seorang Mesut Ozil.

Lagi dan lagi. Arsenal terpaksa harus tersingkir dari kompetisi paling akbar se-daratan Eropa, UEFA Champions League. Pasalnya, Arsenal harus mengakui keunggulan lawan, AS Monaco, yang unggul dalam agresifitas gol tandang meski agregat berakhir sama kuat 3-3.

Pasca "kekalahan" tersebut, seperti biasa fan terbagi dalam dua kubu. WOB vs AKB (you know lah maksudnya). Perdebatan tersebut kerap kali terjadi apabila Arsenal kalah dalam sebuah pertandingan. Namun, kali ini beda cerita. Kambing hitam baru seolah-olah muncul. Ia bernama Mesut Özil.

Santer terdengar bahwa Özil mendapat perlakuan seperti itu sejak musim lalu. Tepatnya, semenjak Arsenal kalah oleh Liverpool 5-1 di Anfield. Kala itu, memang Özil tidak bermain dengan apik. Pada kesempatan itu juga, ia menjadi starter namun cepat-cepat dibangku-cadangkan lantaran performa yang dibawah standar. Masih inget betul ia acap kali jatuh dengan mudahnya, passing yang jarang terarah. Menggambarkan betapa buruknya performa Özil kala itu.

Atas itu, media memulai aksinya. Özil lambat-laun dicap sebagai kambing hitam terkhusus oleh media. Özil kerap kali dicap pemalas, tidak cocok dengan permainan kick & rush EPL, dan FLOP karena mulai jarang mencatatkan sejumlah assist dan goal. Bukan menyudutkan media sebagai biang kerok permasalahan, akan tetapi, sayangnya hal tersebut meng-konstruk pemikiran bahkan pundit-pundit asli Inggris khususnya. Ironis emang.

Paul Scholes – mantan pemain Manchester United yang kini menjadi salah seorang pundit sepakbola di Inggris – adalah salah satu diantaranya. Baru-baru ini, seperti dilansir GOAL, ia berkata," Özil isn't even trying at Arsenal". Pada kesempatan lain, Arsene Wenger – pelatih Arsenal – merespon pernyataan tersebut dengan berkata, "Scholes would love to play with Mesut Özil."

Paragraf sebelum ini mencerminkan adanya bukti bahwa beberapa pundit mungkin ter-konstruk oleh media. Kenapa mungkin? Karena di saat bersamaan, masih ada media yang secara tidak langsung, menghargai perjuangan seorang Mesut Özil. Media berbasis stats, menunjukkan bahwa kemampuan berlari Özil, ternyata lebih jauh dan lebih baik ketimbang pemain lainnya yang ada di lapangan. Via @squawka

Fakta tersebut menurut sebagian besar kalangan adalah mengejutkan. Kenapa? Karena seorang Mesut Özil yang di kepala mereka dicap pemalas, secara tiba-tiba berubah 180 derajat. Lucunya, mereka terkadang bersikukuh dengan argumen awal mereka tanpa sebab yang jelas. Sehingga, munculnya tagar #ÖzilOut tak bisa dihindari karenanya.

Bukan hanya itu, ratio assist dan goal Özil pun menjadi penyebab lain munculnya tagar #ÖzilOut. Jika dibandingkan dengan Fabregas – mantan pemain Arsenal yang kini merumput bersama Chelsea – memang kalah bersaing. Namun, di EPL, dalam ratio assist/minute, Özil tepat di bawah Fabregas hanya karena juga dihitung semenjak Fabregas di Arsenal. Via @opta_joe

Bukan tanpa alasan hal itu begitu significant. Ingatkah bahwa Özil terpaksa menepi selama 3 bulan lantaran cedera? Kala itu, Arsenal tak hanya kehilangan assist-nya Özil, Arsenal juga kehilangan sosok penyeimbang di lini tengah. Memang, terkadang Özil di-plot di posisi sayap dalam beberapa kesempatan. Namun, perlu diingat juga bahwa sisi sayap dan gelandang Arsenal adalah mobile. Mobile yang dimaksud adalah pergerakan "Wengerball" memicu agar lini sayap dan gelandang tidak stagnant. Sehingga, Arsenal dengan leluasa menyarangkan bola ke gawang lawan via CF (Center Forward) maupun via second line, in the final third (box depan mulut gawang).

Tak heran berbagai hasil buruk diperoleh dalam tenggat waktu Özil mengalami cedera. Arsenal mau tidak mau beradaptasi terhadap cara mainnya Alexis. Mantan penggawa Barcelona itu, menjadi tulang punggung Arsenal selama paruh awal musim. Untungnya, Alexis tidak mengalami cedera dalam jangka waktu yang sama dengan Özil.

Akan tetapi, pasca pulihnya Özil, Alexis mesti bergegas beradaptasi dengan gaya mainnya Özil. Kenapa? Ingatkah Arsenal musim lalu berada di 'pucuk' dalam jangka waktu yang lama sebelum badai cedera menghampiri? Hal yang menjadi concern di sini bukan cederanya (karena sesungguhnya tubuh seseorang adalah karunia Tuhan), melainkan cara bermain Özil yang terbukti lebih menunjukkan sebuah ke-konsisten-an dibandingkan cara bermain Alexis.

El BúhÖ

El Buho adalah Bahasa Spanyol yang apabila di-Indonesia-kan "Burung Hantu". Mesut Özil dijuluki demikian karena kondisi fisiknya, terutama di bagian wajah, yang hampir menyerupai burung hantu. Terkhusus pada bagian matanya, yang begitu menonjol sehingga semakin menguatkan akan julukan tersebut.

Erm. Hmm. Bukan, bukan. Hanya intermezzo belaka. Alasan kenapa ia dijuluki demikian adalah masalah "visi". Lengkapnya sbb:

Burung hantu terlihat lebih garang di malam hari. Bukan tanpa sebab. Mereka berburu mangsa untuk dimakan dalam tenggat waktu tersebut laiknya kelelawar. Bedanya, kelelawar sama sekali tak dapat berada di siang hari.

Laiknya Özil, pertandingan tandang melawan AS Monaco silam, adalah the best performance of the season so far. Dan uniknya, laga tersebut dihelat di malam hari. Memang, Özil tak menciptakan assist maupun gol. Akan tetapi, gol kedua tercipta karena key-passes Özil kepada Monreal, yang secara jelih dengan visinya, melihat ruang kosong di sisi kanan gawang AS Monaco.

Burung hantu memiliki ekolokasi. Ekolokasi adalah istilah dalam biologi yang berarti kemampuan mendengarkan pantulan bunyi dari objek-objek disekitar. Sehingga, dapat mengidentifikasi keberadaan objek tersebut dengan bantuan gema.

Pun demikian Özil. Mungkin sedikit lebay apabila menilai Özil memiliki indera ke enam. Namun, harus diakui, Özil adalah pemain spesial. Visi dan kepekaannya dalam bermain terkadang tak bisa dipahami oleh sembarang orang. Contoh simpel adalah gol pembuka Arsenal vs Manchester United beberapa pekan silam. Sebenarnya Özil punya ruang tembak yang sangat bebas di luar kotak penalty. Namun, ia malah memberikannya kepada Chamberlain untuk memancing Smalling – Bek Manchester United – untuk keluar dari sarangnya. Saat itu kebetulan Man United bermain dengan formasi 3 bek. Sehingga, Monreal yang tanpa sadar berdiri bebas dalam posisi on-side, mendapat assist dari Chamberlain dan mencetak gol dengan leluasa.

Sebagai tambahan, video berikut adalah penampilan cemerlang Mesut Özil vs Monaco:

https://www.youtube.com/watch?v=FrfvZjiQTh4

Via @darvin91bg

Kudos

Pujian layak dijunjung setinggi langit terhadap pemain satu ini. Kenapa? Bukan hanya karena kontribusinya yang tak terduga dalam tim, namun juga ia memang pantas mendapatkannya. The greatest day ever about history of Arsenal FC is not when we went to Invincibles, but at the day when we signed Mesut Özil.

Malam itu, jujur semua orang tercengang, terhenyak, bahkan mungkin terkesima akan kedatangannya ke Arsenal. Bukan hanya memecah rekor transfer klub dengan mahar £42m, namun juga itu terjadi beberapa menit sebelum #DeadlineDay ditutup. Sehari setelah menang atas Sp*rs di kandang. Otomatis Özil tak mengikuti full pre-season tour 2 musim beruntun (yang musim berikutnya karena jatah dispensasi Juara World Cup).

Sontak, Özil dikait-kaitkan dengan legenda Arsenal asal Belanda, Dennis Bergkamp. Mantan pemain Inter itu, juga menjadi rekor transfer di eranya. Visinya dalam bermain pun sangat mirip dengan Özil. Jalan hidupnya yang sering digunjing oleh media sebagai flop pun demikan samanya. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah Özil bisa menjadi legenda seperti Bergkamp atau tidak.

Last but not least

Mari kita terus puji dan dukung kiprahnya dalam berkarir di bawah panji Arsenal khususnya. Sudah terlalu banyak kritik yang dipikulnya. Sungguh tidak manusiawi jika terus membebani seseorang dengan bertubi-tubi. Kritik membangun, bukan kritik yang makin terpuruk.

Orang beranggapan Özil adalah cuek, pemalas, dan tidak peduli. Gambar berikut cukup menjelaskan betapa hancurnya dia yang kembali belum berhasil membawa timnya ke 8 besar Champions League.IMG 20150319 125835

Akhir kata. Kudos, El BuhÖ.

The False Nine - Mitos 'Beauty and The Beast' Berlanjut

Alkisah di suatu tempat terdapat seorang pria yang kaya raya nan dermawan. Ia memiliki segalanya untuk menggapai ambisi. Hingga pada suatu ketika semuanya seketika berubah 180 derajat. Ia tersulut api amarah yang menjadi boomerang tersendiri baginya.

Adalah seorang wanita tua renta yang menjadi mimpi buruk bagi pria kaya raya tersebut. Wanita tersebut tak lain tak bukan adalah seorang peri yang menyamar. Ia telah menerima segala bentuk pelampiasan api amarah dari pria yang kaya raya itu. Begitu menyakitkan pastinya.

Nasi telah menjadi bubur. Si Peri tanpa basa-basi melayangkan kutukan kepada Si Pria. Si Pria yang sedari awal terlahir tampan, justru menjadi seorang buruk-rupa (re: Beast) pasca menelan kutukan dari Si Peri. Pada akhirnya, Beast kabur dari singgasana dan istananya setelah mendapati hal semacam itu menerpa dirinya.

Kendati demikian, kutukan tersebut tidaklah permanen. Selagi Beast berhasil mendapatkan cinta dari seorang wanita dalam rentang waktu tertentu, maka kutukan tersebut akan sendirinya hilang dari peredaran. Itu adalah tebusan untuk menghilangkan kutukan tersebut.

Hingga pada akhirnya suatu ketika, Beast menemukan seorang gadis desa. Si Gadis adalah cinta sejatinya. Namun  berjalan alot lantaran ayahnya yang sakit dan juga keberadaan pihak ketiga.

Pada akhirnya, kisah ini berujung happy ending. Ayah dari Si Gadis sembuh dari sakit, Beast dan Si Gadis menjalin cinta sehingga kutukan tersebut hilang sendirinya, dan Si Pihak Ketiga hanya menonton pasangan itu berdansa.

Kurang lebih seperti itu.

(via: cerita Beauty and The Beast)

So what?

Pasca kepindahan Lukas Podolski ke Inter dengan status pinjaman, semua tertuju pada satu fenomena. Betapa angkernya nomor punggung 9 adalah fenomenanya. Buktinya, web sebelah yang berbasis pundit bola telah menjelaskan dengan rinci nomor punggung 9 di Arsenal. Khususnya, semenjak Wenger mengambil-alih kursi kepelatihan Arsenal. Namun, tulisan saya kali ini berbeda dari mereka.

Memang, hal semacam itu perlu dicermati. Sejatinya, nomor punggung 9 di suatu klub  adalah icon. Tak hanya itu, nomor punggung 9 pun sejatinya dikenakan oleh para bomber yang produktif mencetak gol bagi timnya. Sebut saja Fernando Torres saat berbaju Liverpool, Robert Lewandowski baru-baru ini, hingga legenda macam Ronaldo da Lima yang melekat dengan nomor tersebut.

Tak  jarang pula kita melihat bahwa klub-klub besar memiliki nomor kutukan seperti apa yang dialami oleh Arsenal. Ambil contoh AC Milan. AC Milan juga memiliki problem serupa dimana nomor punggungnya dirasa terdapat kutukan di dalamnya. Akan tetapi, bukanlah nomor punggung 9, melainkan nomor punggung 11 yang menjadi kutukannya.

Beauty

Di balik angka keramat yang diyakini sebagai kutukan, terdapat angka keramat yang diyakini sebagai anugrah. Satu contoh yang dapat dipetik adalah Real Madrid dengan nomor punggung 7 nya. Sempat dikenakan oleh Raul Gonzales, yang merupakan legenda sekaligus kapten klub di eranya. Sekarang bertuan kepada  Cristiano Ronaldo, pemain terbaik dunia edisi sebelumnya yang telah menyabetnya sebanyak dua kali.

Pun demikian Arsenal. Disadari atau tidak, klub yang satu ini, terdapat nomor yang memiliki anugrah sehingga diwariskan turun-temurun. Uniknya, bukan nomor punggung 11 maupun 7, melainkan nomor punggung 3.

Nomor tersebut disematkan kepada mereka yang merupakan bek-bek tangguh di eranya. Terkhusus di era Wenger, nomor tersebut pernah dikenakan oleh beberapa macam pemain. Mereka yaitu: Winterburn, Cole, Sagna, dan Gibbs.

Berdasar nama-nama tersebut, tak heran perlunya mengapreasi bahwa nomor punggung 3 di Arsenal adalah sebuah anugrah. Satu contoh dari itu dapat kita lihat dari Sagna. Sagna, yang kini berseragam Manchester City, sempat dijuluki Mr. Consistent. Bagaimana tidak, sepanjang musim ia selalu tampil dalam performa terbaiknya meski kerap kali dilanda cedera. Walaupun hanya mempersembahkan satu trofi, FA Cup musim lalu, tak serta-merta ia dicap pemain gagal. Versatility-nya di berbagai posisi merupakan salah satu nilai tambah tersendiri yang membuatnya pantas mengenakan nomor punggung 3.

The Beast

Pun sebaliknya. Seperti yang dijelaskan di awal, nomor punggung 9 Arsenal dirasa-rasa memiliki kutukan yang berbau JINX. Praktis saja, pemain-pemain macam Anelka, Suker, Jeffers, Reyes, Baptista, Eduardo, Park, bahkan pemain sekaliber Podolski pernah memiliki riwayat mengenakan nomor punggung keramat itu. Padahal, sebelum Wenger melatih Arsenal, terdapat Paul Merson yang notabene sukses di kala mengenakan nomor tersebut. Lantas, Wenger kah kutukan itu?

Apabila lebih cermat lagi, bukan hanya nomor 9 yang berbau JINX di Arsenal. Ada satu nomor punggung lagi yang dirasa serupa. Yakni nomor punggung 18. Nomor tersebut pernah dipakai pemain-pemain macam Grimandi, Cygan, Silvestre, Squillaci, dan yang terbaru Monreal.

Pemain-pemain tersebut semasa karirnya di Arsenal, terbilang flop. Bagaimana tidak, tiap kali mereka bertanding di sebuah laga, mereka tak jarang membuat error yang berujung kepada bobolnya gawang Arsenal. Inkonsisten dalam bertanding juga merupakan salah satu indikator mengapa masuk di kategori The Beast. Namun, terlalu dini menyematkan Monreal dalam kandidat mengingat baru beberapa bulan saja ia mengenakan nomor tersebut. Terlebih, penampilannya juga tidak terlalu mencolok sebagai flop.

Mitos yang Berlanjut

Hingga kini, mitos Beauty and The Beast itu masih melekat erat di Arsenal. Entah siapa yang begitu tega mengutuk klub ini hingga sebegitu mirisnya. Tak hanya itu saja, JINX cedera pun tak henti-hentinya melanda klub. Tercatat tiap pekan Arsenal kehilangan setidaknya tiga pemain lantaran cedera. Terkadang saya memikirkan bahwa klub ini perlu di Ruqyah atau di Baptist lantaran berbagai macam kesialan yang terjadi silih-berganti.

The False Nine

Dalam cerita Beauty and The Beast itu, berujung happy ending dimana kutukan tersebut berhasil diatasi. Saya pun menaruh harapan yang sama dengan Arsenal. Terbukti JINX semacam trophy-drought, never beat big club, dan doesn’t splash the cash nyatanya masih bisa diatasi.

Pertanyaan baru pun muncul, apa yang mesti dilakukan menghilangkan kutukan tersebut? Memensiunkan nomor punggung 9? Sungguh naïf apabila hal itu akhirnya benar-benar dilakukan.

Intinya, tidak perlu percaya akan keberadaan mitos. Boleh percaya namun sematkan hibriditas di dalamnya. Penting mengingat kita tidak terlalu meyakini hal tersebut.

Pada akhirnya, nomor punggung 9 di Arsenal meluluh dikambing hitamkan. The False Nine pun berlaku di Arsenal karenanya. Bukan berdasar konotatif yang mana The False Nine adalah strategi dalam sepakbola, melainkan berdasar denotative yang mana The False Nine adalah nomor punggung 9 di Arsenal merupakan sebuah kesalahan.

 

- Iman Patria Yudha -

( This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.  )

Subscribe to this RSS feed