Menu

gonnersview banner

Gooners View, Dari Gooners untuk Gooners

Sepakbola Alcopop ala Ram-Teta

660x0Saya rasa sebenarnya pembaca familiar dengan istilah 'alcopop'. Sebagai bagian dari masyarakat konsumsi dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan alcopop dimana-mana. Dari etalase berpendingin mini-supermarket hingga sponsor acara-acara anak muda.

Alcopop adalah suatu varian alternatif dari produsen minuman beralkohol. Produsen minuman beralkohol pada era 70-an mengalami puncak kejayaan akibat banyaknya negara bagian di Amerika melegalkan penjualan produk beralkohol. Alkohol memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat negara barat. Namun Amerika pada awal perkembanganya adalah negara yang dihuni oleh imigran/pencari suaka yang cenderung relijius. Hingga tahun 50-an masih banyak negara-negara bagian yang melarang penjualan alkohol sehingga perang antar penyalur ilegal miras dan kepolisian kerap terjadi. Singkatnya, pemerintah merasa alkohol tetap produk yang berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan. Maka perlu ada suatu alternatif yang 'manis' agar mereka tetap bisa menjual barang pada kelompok usia yang belum legal mengonsumsi alkohol.

Maka pada tahun 1977, melihat banyaknya produk alcopop beredar di masyarakat, pemerintah Illinois merasa perlu membuat sebuah peraturan terkait produk ini. Alcopop berasal dari dua kata yakni alcohol dan pop. Gambaran kasarnya produk alcopop adalah minuman beralkohol yang manis dan tidak mudah membuat mabuk. Kandungan alkohol di produk-produk alcopop tidak sampai 10% dan terdapat campuran seperti jus atau perisa manis lainnya.

Saya tidak paham regulasi pemerintah Indonesia terkait peraturan ini. Tapi melihat bagaimana anak-anak sekolah bisa bebas membeli bir bisa menggambarkan longgarnya pembatasan umur dalam pembelian produk beralkohol.

Ram-Teta

Sebagai Gooners, pembaca tentu telah menyaksikan bagaimana Arsenal lagi-lagi harus kehilangan Abou Diaby yang mengalami cedera saat latihan dan membuatnya absen hingga sembilan bulan ke depan. Praktis membuat kontribusinya untuk Arsenal musim ini terlalu sedikit (11 pertandingan).

diaby

Hingga saat ini Arsenal adalah tim EPL yang membuat defensive error terbanyak di EPL. Mulai dari Bacary Sagna, Thomas Vermaelen, Laurent Koscielny, Per Mertesacker hingga Carl Jenkinson seakan bahu membahu membuat kesalahan-kesalahan kecil tapi fatal yang membuat Arsenal kecolongan.

Bagaimana mungkin kealpaan sedemikian bisa terjadi mengingat mereka semua telah bermain bersama-sama minimal di satu musim (Carl Jenkinson)? Jika menilai perubahan ekstrim yang mengharuskan adanya proses adaptasi maka sektor gelandang dan penyeranglah yang lebih membutuhkan proses itu mengingat banyak pemain baru di sektor itu.

Penulis mencoba menganalisis hal ini game demi game dan sepertinya jawaban telah terpampang jelas:

  1. Pendekatan ala Steve Bould dalam aspek pertahanan,
  2. Sistem formasi yang dianut Arsenal dalam mengaplikasi sistem Bould membutuhkan dua gelandang tengah (double pivot) mumpuni.

4-2-3-1 dengan double pivot awalnya dibawa Rafa Benitez saat menjadi pelatih Liverpool. Benitez memang kesohor sukses dengan sistem ini saat dia melatih Valencia. Pada perkembangannya sistem ini menjadi jamak dipakai klub-klub EPL serta Eropa. Duet striker klasik macam Del-Pippo (Del Piero - Filippo Inzaghi) di Juventus tahun 90-an menjadi sesuatu yang usang. Klub EPL yang masih memakai formula ini pun segelintir. Sebut saja Stoke, Sunderland dan Manchester City. Saat ini para gelandang dituntut untuk bermain lebih kreatif lagi. Maka jangan heran ketika Santi Cazorla yang malah memimpin perolehan gol Arsenal, bukan Olivier Giroud.

Pertanyaan lagi-lagi timbul? Apakah sistem ini benar-benar baru bagi Arsenal?

Kenyataanya tidak.

Sejak ditangani Arsene Wenger, Arsenal telah terbiasa memakai dua gelandang tengah yang sama-sama baik dalam bertahan maupun menyerang. Kita mengenal duet Patrick Vieira-Emmanuel Petit saat menjuarai gelar ganda 1997/98. Arsene bahkan memanfaatkan jasa Ray Parlour sebagai utility player yang diturunkan saat kedua pria Prancis tadi absen.

Pola ini semakin menjadi-jadi di era Invincibles saat Arsenal memiliki pemain-pemain sayap yang andal dalam menusuk ke kotak penalti dalam diri Robert Pires dan Freddie Ljungberg. Memang Arsenal di atas kertas memakai formasi 4-4-1-1 dengan Dennis Bergkamp sebagai penyerang lubang, namun dalam prakteknya, ketika menyerang yang terlihat di lapangan adalah transformasi satu target-man dalam diri Thierry Henry menjadi pasukan menyeramkan yang tak pernah lelah menusuk dari sayap kanan dan kiri dengan 4-2-1-3. Imbasnya, Arsenal menjadi mudah kebobolan karena sistem ini juga menuntut dua full-back membantu ketika menyerang. Tapi Arsenal saat itu seakan berkata, "oh, mereka membobol gawang kita tiga kali. Ayo kita balas dengan lima gol, lads!"

Bukan berarti Arsenal melupakan pertahanan, pendekatannya saja yang berbeda. Dengan asumsi bahwa bertahan dalam sepakbola adalah bagaimana semaksimal mungkin menjaga musuh membobol gawang kiper, maka para penyerang Arsenal telah membantu para bek dengan mencetak lebih banyak gol ke gawang lawan. Arsenal di akhir laga tetap menjadi pemenang meski dengan skor 9-8 sekalipun. Sekali lagi, pendekatan dan sudut pandangnya saja yang berbeda.

Melihat Arsenal telah terbiasa dengan pemakaian double-pivot, seharusnya tim ini bisa mencari pengganti Gilberto Silva, yang menurut penulis merupakan gelandang bertahan terbaik yang terakhir kali Arsenal miliki. Sudah dua bursa transfer musim ini dan Arsenal tidak membeli satu pun pemain yang memenuhi syarat sebagai double pivot. Arsenal memang masih memiliki Coquelin dan Diaby. Nama pertama dikondisikan Arsene sebegai pelapis yang terkadang harus rela bermain di posisi yang bukan seharusnya – seperti menjadi full-back kanan saat menghadapi Blackburn Rovers.

Saat Mikel Arteta cedera, Aaron Ramsey akhirnya terpanggil untuk memenuhi panggilan di posisi ini. Setelah berkali-kali ditempatkan di posisi yang bukan seharusnya – flank – Arsene akhirnya menempatkan Ramsey di tengah kemudi permainan Arsenal. Jika telah lama menonton Arsenal, seharusnya tidak kaget ketika Arsene bersikukuh memainkan pemuda Wales ini di sayap. Penempatan pemain non-sayap di sayap bertujuan agar kelak saat mereka dikembalikan ke posisi lebih ke tengah, pemain ini mendapat benefit dari pengalamannya bermain di sayap. Logikanya, pemain sayap biasa berhadapan bukan hanya dengan musuh, tapi juga sempitnya ruang yang mereka eksplor karena berbatasan dengan garis pinggir. Hal ini sukses Arsene lakukan pada Emmanuel Petit dan Thierry Henry.

Sejak mengalami kemenangan atas Bayern, duet Mikel Arteta dan Aaron Ramsey (Ram-Teta) menuai pujian. Berbeda dengan Arteta yang selalu menempati posisi gelandang tengah, Ramsey menjalani partai-partai musim ini sebagai utility player – seseorang yang sanggup memenuhi tugas di berbagai posisi: dari sayap hingga full-back. Terkait hal ini, Ramsey justru tidak mengeluh dan memberikan kredit untuk pelatih:

"He [Wenger] is a very approachable guy who you can go and ask how you did and what you need to do to improve after every game. That's a good thing to have in a relationship. You know where you're at with him and you know what he thinks you can do to improve. He's helped me in so many ways and that's why he's done so well over the years. He's given youngsters opportunities and developed them into great players. I was shocked when I heard I've been at Arsenal five years".

Saat dia harus mengisi peran yang ditinggalkan Arteta karena cedera, Ramsey justru menjawab dengan memberikan permainan apik. Arsene Wenger rupanya secara khusus memberinya wejangan tentang apa yang harus dilakukan dalam mengisi defensife-midfielder ala Arteta. Seperti yang diakuinya langsung,

"I had a meeting with the boss the other week and he explained to me what's required for this role. I think I've done that in the last couple of games and I feel good in myself.
"That's pleasing for me and hopefully I can keep myself in the team and carry on. Hopefully I get picked for the next game."

Meski begitu, jika boleh memilih tentu Ramsey lebih senang jika diposisikan sebagai gelandang serang. Posisi yang membuatnya terendus Manchester United kala dia masih berseragam Cardiff City. Toh, hal itu dia terima dengan legowo,

"I can still get forward but I'm a bit more restricted as to what I can do. You always have to be wary of the hole you're leaving behind you, but there are occasions when I can get into the box and one of the other midfielders sits"

ramsey

Dilihat dari statistik di atas. Ramsey mempunyai kelemahan dalam duel-duel udara

 Ini membuat kita tersadar bahwa double-pivot Arsenal terbaik musim ini adalah pasangan Ram-Teta. Yang lebih mencengangkan adalah kenyataan yang berbicara bahwa keduanya adalah gelandang serang!

Maka tak ayal penulis menyematkan istilah 'sepakbola alcopop' pada keduanya. Perubahan posisi dalam karir seorang pesepakbola adalah hal yang wajar. Sebut saja Kieran Gibbs yang pada awal karirnya adalah seorang sayap kiri. Tapi memiliki dua orang yang aslinya bermental ofensif di posisi yang menuntut kesadaran bertahan adalah sebuah anomali.

Penulis mengajak pembaca untuk kembali menganalisa mengapa bek Arsenal kerap melakukan blunder.

Jika diperhatikan, sejak Bould menjadi asisten pelatih, Arsenal selalu menggunakan pendekatan zonal marking dalam mengantisipasi bola-bola mati. Selalu. Perdebatan antara sistem zonal marking vs man-to-man marking tidak ada ujungnya. Keduanya memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Pertemuan pertama lawan City musim ini menunjukkan kelemahan keduanya lewat gol yang diciptakan Lescott dan Koscielny. Ditambah penggunaan high-defensive line, maka menuntut peran seorang gelandang bertahan yang memiliki awareness tinggi. Lihat saat Arsenal dibobol Blackburn atau dua gol Tottenham di pertemuan terakhir. Semua gol tercipta seakan-akan untuk menghukum kelalaian dalam high-defensive line.

Seorang yang berniat mabuk tidak akan membeli alcopop, dia akan membeli miras dengan kandungan alkohol tinggi.

Double-pivot membutuhkan sepasang pemain yang mengerti tanggung jawab satu sama lain. Kita melihat Liverpool kini hampir selalu memainkan Lucas-Gerrard. Atau Jack Cork-Morgan Schneiderlin di Southampton serta Jonathan de Guzman-Leon Britton di Swansea. Gaya bermain keenam orang itu berbeda tergantung kebutuhan serta kebiasaan klub yang mereka bela. Southampton berbeda dengan Liverpool atau Swansea yang mengandalkan possession football.

Mikel Arteta mengatrol alur permainan Arsenal lewat kemampuannya sebagai pengumpan terbaik di EPL. Permainan Arteta musim lalu dengan musim ini sedikit berbeda dimana sekarang kita hampir tidak pernah melihatnya melepas tendangan jarak jauh – yang saya pikir merupakan imbas dari tanggung jawab yang diembannya di aspek bertahan.

Arteta

Cesc Fabregas, sesaat setelah berlabuh ke Barcelona pernah berceloteh mengungkapkan kebingungannya kenapa Arsenal masih meributkan mencari penggantinya. Arsenal sudah punya talenta gelandang serang hebat dalam diri Wilshere dan Ramsey, ujarnya. Garis takdir berkata lain pada Ramsey, Arsenal kini memiliki Santi Cazorla.

Dalam konteks situasional, permainan Ram-Teta seharusnya mampu dengan optimal mengawal 4-2-3-1 ala Arsenal menjalani sisa pertandingan EPL. Apalagi selain United dan pertandingan penting lawan Everton, Arsenal hanya menghadapi tim-tim kecil – meski tidak menutup kemungkinan akan terpeleset. Namun idealnya, Arsenal sebelum memasuki musim 2013/14 harus mencari pemain di posisi ini.

Melihat umur Arteta yang sudah memasuki kepala tiga, ada indikasi bahwa Ramsey yang baru berumur 22 tahun akan diproyeksi menjadi pendamping sekaligus penggantinya kelak. Ditambah Arsenal kerap kebobolan oleh gol-gol konyol, maka mencari pemain baru mutlak menjadi kewajiban. Nama-nama seperti Ignacio Camacho, Jack Cork, Morgan Schneiderlin, Maxime Gonalons, Blaise Matuidi kerap dihembuskan para fans belakangan ini. Bahkan ada rumor yang menyebutkan Arsenal sedang mendekati Jeremy Toulalan – pemain bagus yang sayangnya sudah tua dan kerap cedera.

Terlepas dari yang tersirat, Arsene Wenger sebenarnya berusaha untuk membeli sosok pengisi posisi ini dalam diri Jan Vertonghen. Memang benar dia akhirnya berlabuh ke Sp*rs sebelum kompetisi dimulai, namun ex-pemain Ajax tersebut belakangan mengakui alasannya memilih Sp*rs ketimbang Arsenal adalah karena Arsene akan menjadikannya gelandang bertahan di Arsenal.

Steve Bould, selepas kemenangan susah payah atas West Brom secara khusus memberi kredit pada Ramsey,

"Seeing him in day-to-day training, he works extremely hard. He never moans, gets on with his game and has done everything he's been asked to do. He's physically fantastic and he gives something to the team. I think he's improving all the time."

Arsenal memiliki stok gelandang serang nan kreatif melimpah. Di skuat utama kita memiliki Cazorla, Wilshere dan Rosicky. Belum nama-nama dari tim junior yang sepertinya tak sabar mencicipi kesempatan seperti Serge Gnabry dan Thomas Eisfeld. Saya bisa membayangkan Ramsey akan menjadi penerus si Mr. Lego Mikel Arteta terlebih, ini sebatas lelucon, belakangan Ramsey juga mengikuti jejak Arteta dengan merapikan dan melicinkan rambutnya

Terlepas dari itu semua, mari kita sama-sama berharap Ram-Teta mampu membawa Arsenal meraih satu-satunya hasil positif musim ini: lolos ke Liga Champions sekaligus memerpanjang rekor perayaan St. Totteringham Day.

Kredit statistik/grafis: Squawka.com

Ada Hikmah Sebelum Laga Tandang Melawan Brighton

Tahun 1996 Arsenal mengumumkan kepada khalayak sosok manajer baru mereka pengganti Bruce Rioch. Orang itu bernama Arsene Wenger dan dia berasal dari Prancis. Orang asing pertama yang melatih klub London tersebut. Arsene who? Kata mereka. Karena mungkin satu-satunya pria Prancis bernama Arsene yang mereka kenal hanya Arsene Lupin. Itu pun tokoh fiktif.

Di tahun yang sama, tepatnya di bulan April 1996 sebuah kerusuhan terjadi di Sussex. Penonton di stadion Goldstone menyeruak masuk lapangan setelah wasit meniup peluit akhir laga Brighton & Hove Albion versus Donchaster. Bukan untuk merayakan suatu kemenangan orang-orang itu berhamburan. Rasa sedih, marah, kesal dan sebagainya campur aduk terlihat di wajah mereka. Sebagian bahkan merongrong ke bagian direktur klub untuk melontarkan segala rasa yang menghimpit dada. Ini bahkan kali kedua mereka mengamuk di stadion.

Amuk massa ini terjadi karena tempat dimana tiap pekan mereka menghabiskan suka dan duka secara berjamaah telah dijual. Dijual oleh segelintir orang yang mengendalikan simbol identitas mereka demi uang. Fans Brighton terpaksa merasakan getirnya realitas sepakbola modern. Era dimana seseorang tidak hanya peduli pada permainan timnya di atas lapangan. Era dimana mereka juga memerhatikan hal di luar lapangan seperti penjualan tiket, pembagian hak siar televisi atau perusahaan Asia mana lagi yang akan menjadi sponsor tim sepakbola mereka.

Wajar jika mereka kesal. Klub ini telah menjalani tahun-tahun dalam kesemenjanaan dan mismanajemen. Hingga akhirnya duet pengusaha lokal Bill Archer dan Greg Stanley unjuk diri sebagai dewa penyelamat dengan langkah-langkah yang terlihat bak sentuhan Midas. Mereka menyelamatkan klub dari krisis finansial dengan meminjam dana pinjaman sebesar 800.000 poudsterling dari bank. Kemudian merekrut legenda Arsenal yang baru saja melatih Glasgow Celtic, Liam Brady dan David Bellotti sebagai chief director.

Sayang seribu sayang bulan madu ini hanya berlangsung dua tahun karena pada 1995, sebuah surat kabar lokal melansir berita bahwa ketiga orang ini telah menjual Goldstone Stadium — stadion yang telah mereka tempati sejak 1902 — untuk dikembangkan menjadi area perbelanjaan. Jelas mereka mengamuk. Penjualan stadion ini dilakukan secara sepihak. Jajaran board sebuah klub seharusnya terbuka dalam mengambil langkah-langkah penting. Aksi pitch-invading pertama akhirnya terjadi. Di laga melawan York City ini bahkan kedua gawang sampai hancur dan pertandingan terpaksa dihentikan di menit 67.

Paska penjualan Goldstone, Brighton menjalani partai kandang mereka di Fratton Park, markas Fulham karena pemilik baru Goldstone Stadium, perusahaan properti Chartwell Land meminta bayaran £480,000 semusim sebelum stadion itu benar-benar dirobohkan. Setelah musim benar-benar selesai mereka memilih tempat sejauh 110 KM dari Brighton, tepatnya di Pristfield Stadium, wilayah Kent, markas klub Gillingham FC. Bisa dibayangkan betapa melelahkannya menjadi suporter klub semenjana ini jika jarak untuk mencapai Pristfield Stadium saja melebihi rentang jarak Jakarta-Cikampek (estimasi 70 KM).

Memasuki musim 1997/98, saat Arsenal yang baru dua musim dilatih 'Arsene Who?' menggapai gelar ganda kedua (liga Inggris dan FA Cup) rasa frustasi suporter Brighton semakin menjadi-jadi. Mereka menggalang protes sampai ke London. Mulai dari long march, meminta atensi suporter klub lain seantero Inggris hingga menyatroni rumah direksi klub. Perjuangan berat mereka memakan waktu dua tahun hingga akhirnya pada 1999 mereka berhasil kembali 'pulang kampung' dengan menjadikan Whitedean Stadium sebagai kandang mereka. Hal ini tidak mudah karena arena ini tidak memenuhi standar untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola. Suporter dan pemerintah lokal bahu membahu menggalang dana hingga bisa sedikit menyempurnakan Whitedean Stadium. Saya tulis 'sedikit' karena faktanya stadion ini pun berada di urutan keempat dalam daftar 'Stadion Terburuk di Inggris' yang dirilis harian Observer pada tahun 2004.

"Ah, bodo amat", pikir mereka. Karena yang terpenting sepakbola bisa kembali hadir di kota mereka. Meminjam frasa dari lagu resmi timnas Inggris di piala Eropa 1996: "It's coming home.. it's coming home.. it's coming.. football's coming home". Tidak berlebihan, karena saat mendengar kata Brighton yang terlintas dalam benak orang Inggris adalah tempat plesir pinggir pantai. Saya pribadi baru mendengar klub sepakbola bernama Brighton & Hove Albion setelah menonton biopik manajer legendaris Brian Clough, The Damned United. Brighton & Hove Albion adalah satu-satunya tim sepakbola di kota itu.

"People go to Brighton for various reasons. For a holiday, for a day-trip, for a place to retire, for a Tory Party conference. Or for a dirty weekend. With all due respect to the club and its fans, you don't go there for the football" – Brian Clough

Puluhan tahun setelah Brian Clough memutus kontraknya dengan Brighton demi menerima tawaran Leeds United, Tuhan ternyata mendengar panjatan doa warga Brighton. Selain pulang kampung tim sepakbola mereka dianugrahi dua juru selamat.

Orang pertama adalah striker muda haus gol yang direkrut dari Bristol Rovers, Bobby Zamora. Bobby dengan torehan 77 gol selama tiga musim membantu Brighton promosi beruntun dari divisi tiga ke divisi satu. Prestasi sulit dan hanya segelintir klub yang mampu melakukan promosi beruntun, salah duanya adalah Southampton dan Manchester City.

zamoraOrang kedua adalah Dick Knight — melalui perpanjangan tangan legenda Arsenal Liam Brady. Meski karir kepelatihannya tidak sukses, Liam adalah salah satu pahlawan dalam kampanye perjuangan suporter Brighton. Atas inisiatifnya-lah terbentuk suatu konsorsarium yang bertujuan membeli kepemilikan klub dari Bill Archer dan Greg Stanley. Salah satu orang yang masuk ke dalam konsorsarium itu adalah Dick Knight. Dia ada disana sejak klub ini berjuang memerbaiki Whitedean Stadium agar layak pakai, juga saat klub berhasil menapaki Divisi 1 liga profesional Inggris, satu tingkat di bawah EPL. Ucapan DJ terkenal Fatboy Slim yang juga suporter Brighton merangkum jasa-jasanya.

Seperti Wilfried Zaha kini, Bobby Zamora saat itu akhirnya tidak bisa menolak tawaran klub EPL dan berlabuh ke Tottenham Hotsp*r di musim 2003/04. Musim dimana Arsenal akhirnya menuntaskan liga tanpa terkalahkan. Dick Knight, meski kini menjabat sebagai presiden seumur hidup Brighton pada 2009 menuntaskan sumbangsihnya untuk klub dengan menjual mayoritas saham kepada Tony Bloom, seorang pemain poker merangkap pengusaha properti di tahun 2009. Tony kelak berhasil mendapat dana investasi 'wah' untuk membangun Falmer Stadium/The Amex. Terdengar satir mengingat 12 tahun lalu klub ini sampai tiga kali berpindah stadion.

Kita dan Mereka Membagi Ironi yang Sama

Brighton hanya empat musim merasakan kompetisi kasta tertinggi di Inggris. Itu pun sudah lama sekali. Prestasi paling glamor mereka pun hanya saat mampu menahan imbang Manchester United di final Piala FA. Menariknya, tim pertama yang mereka kalahkan di musim pertama kasta tertinggi liga domestik mereka adalah Arsenal.

Stadion, selain berfungsi substansial sebagai tempat penyelenggaraan pertandingan juga merupakan salah satu sarana bagi klub untuk mendapat keuntungan. Sebelum laga kontra Manchester City dua pekan lalu tersiar berita aksi protes fans Manchester City atas mahalnya harga tiket di Ashburton Grove/Emirates. Di laga yang berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan City itu beberapa suporter pun memamerkan banner yang menyindir mahalnya tiket.

Membandingkan Falmer Stadium dengan Emirates tentu tidak berimbang. Dimana yang pertama hanya mampu menampung kurang dari sepertiga jumlah kursi di Emirates. Dana pembangunan The Amex pun hanya (kurang lebih) seperlima dari total dana pembangunan Emirates yang ditaksir berjumlah 470 juta poundsterling.

Namun kebijakan kedua tim dalam melepas harga tiket terasa menyulitkan suporter masing-masing klub. Season ticket atau tiket terusan Brighton (termahal £625, termurah £425) dinilai terlalu mahal. Saya kemudian tersenyum simpul mengingat dulu mereka pernah berkandang di salah satu stadion terburuk di Inggris, dan ketika akhirnya memiliki stadion yang bahkan tahun lalu memenangi penghargaan sebagai venue baru terbaik dunia (sumber), tetap saja ada orang-orang yang kecewa.

Kegetiran juga melanda Gooners, fans Arsenal. Ah, saya tak perlu mengingat kenyataan bahwa tak satu pun trofi diraih semenjak hijrah dari Highbury. Emirates kerap dijadikan kambing hitam atas tahun-tahun nirgelar Arsenal. Saya kembali teringat tahun-tahun awal menonton sepakbola saat saya tidak tahu pemain mana yang akan dibeli. Atau berapa nilai kontrak sponsor klub tertentu. Dulu yang saya tahu hanya skuad senior dan pelatih. Siapa itu Peter-Hill Wood, David Dein dan Herbert Chapman? Yang saya pedulikan hanyalah laporan kemenangan Arsenal di tabloid olahraga atau rekaman gol Anelka di acara sepakbola akhir pekan.

Kini bahkan tahu siapa saja pemain Arsenal yang dijual Darren Dein. Atau susunan formasi tim setengah jam sebelum kick-off.

Saya, seperti anda mungkin, dulu hanya mengenal sepakbola sebagai perayaan. Kesedihan akibat kalah atau rasa senang karena menang toh akhirnya menjadi perayaannya masing-masing.

Supporting a football club is supposed to be a fun thing to do, I believe. Pada akhirnya saya kembali sadar tak peduli berapa jersey asli Arsenal yang kita punya, bagi mereka suporter asing adalah 'pasar'. Saat suporter Manchester United melakukan protes pembelian Malcolm Glazer atas klub mereka tahun 2005, mereka sadar sekeras apapun mereka teriak tak akan didengar. Idealisme membuat mereka membentuk FC United of Manchester. Masih atau tidak mereka ke Old Trafford atau menonton Manchester United saya tidak paham.

Keberhasilan Bradford mencapai final Capital One Cup bisa menjadi motivasi mereka nanti malam. Seperti Bradford yang menumbangkan tiga tim EPL sebelum ke Wembley, Brighton sebelum laga ini juga menumbangkan wakil EPL, Newcastle. Apalagi sang pelatih Gustavo Poyet dan Wayne Bridge sudah tidak asing menghadapi Arsenal karena mereka pernah berseragam Chelesea dan Tottenham Hotsp*r.

Saya ingin Arsenal menang karena peluang kita di ajang ini lebih terbuka ketimbang EPL atau Champions League. Apalagi ajang kompetisi sepakbola tertua di dunia ini kini berumur 150 tahun. Menjadi sebuah cerita tersendiri jika Arsenal-lah yang bisa meraihnya.

Banyak hal yang bisa disimak dari Arsenal. Saya pikir anda cuma buang-buang waktu jika berusaha mengerti konstelasi pucuk kepemimpinan (board) di Arsenal. Atau mencoba sepaham dengan paguyuban suporter seperti Black Scarf, She Wore A Yellow Ribbon hingga Arsenal Supporter Trust. Menjadi suporter 'sejati' klub asing tidak perlu segitunya. Love towards football club should be unconditional. Toh kamu tidak rugi apa-apa, kan?

Sesaat sebelum mengakhiri tulisan, saya teringat celotehan-celotehan khas antar sesama fans layar kaca.

"Anjir, Arsenal kalah lagi..",

atau

"Yes, gua baca di koran Arsenal beli Davor Suker! Lo tau kan dia topskor Piala Dunia?"

Seperti itu. Dulu.

 

Tahta Raja Highbury: There Was Charlie Before Henry

"And Charlie George isn't ordinary. At the age of 13 I knew I was going to be a great footballer. It was a question of who was going to be the lucky club to sign me. That's the way I thought about my life in those days*"

Dalam sepakbola modern, ucapan di atas bahkan dianggap arogan untuk seorang Lionel Messi. Apalagi kalimat tersebut keluar dari bocah berumur 20 tahun. 20 tahun dalam standar pemain sepakbola adalah bambu muda atau kita kenal rebung yang hanya bisa dijadikan sayur.

Tapi ucapan di atas keluar dari mulut Charlie George. Tokoh ikonik dalam sejarah Arsenal. Karena golnya ke gawang Liverpool-lah yang membuat Arsenal meraih gelar ganda untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di Islington era itu para gadis memujanya, para bocah lelaki mengikuti selebrasi "I'm the king of Highbury"** saat mereka mencetak gol di pertandingan sepakbola jalanan. Charlie George adalah pengejawantahan semboyan "raih cita-citamu setinggi langit". Dan nama George kerap didengungkan ibu-ibu di London Utara pada bayi lelakinya hingga kini. Highbury adalah singgasananya. Meski kita, penggemar Arsenal Indonesia lebih mengenal satu raja bernama King Henry.

Kualitas Mengalahkan Kuantitas

Lahir dan besar di Islington, Charlie kecil menonton pertandingan Arsenal di Highbury (yang hanya berjarak 2 menit dari rumahnya) sejak berumur 5 tahun. Meski sempat ditawari West Ham untuk bergabung ia akhirnya masuk ke dalam Arsenal Academy enam tahun kemudian. Charlie meneken kontrak profesionalnya bersama Arsenal saat berumur 16 tahun, di bulan Mei 1966. From a Gooner became Gunner.

"Three-and-a-half years later I had gone from standing there shouting out the players' names to actually playing with those guys"

Ucapnya pada BBC kala itu.

"This boy could be the King of Highbury in five years," kata kiper legendaris dan juga rekan setimnya Bob Wilson. Di musim pertamanya ia berhasil mencetak 15 gol dan mempersembahkan European Fairs Cup – kompetisi 2nd tier UEFA yang sudah dihapus, dan mengakhiri 17 tahun puasa gelar Arsenal. Andaikata selama itu Arsenal menjalani tahun-tahun tanpa trofi di era 90-an, penggemar Arsenal di Indonesia mungkin tak sampai seratus.

Sepanjang karir ia bermain sebagai striker ataupun inside forward***. Tubuh jangkung, rambut gondrong sebahu dan jambang lebat membuat sosoknya begitu mudah dikenali.

Charlie George bukanlah striker bertipe bomber seperti Ian Wright atau Thierry Henry. Torehan golnya untuk Arsenal 'hanya' 49 gol dari 179 pertandingan. Ia tak termasuk dalam laskar agung Arsenal Centurions, pemain-pemain yang berhasil menorehkan 100 gol untuk Arsenal. Prestasi yang bahkan bisa diukir Robin van Persie si pecundang tak tahu diri.

Ah, apalah arti ratusan gol jika kau tak sanggup mempersembahkan satu piala pun untuk klub yang kau bela? Apalah arti gol-gol itu dibandingkan gol Charlie ke gawang Liverpool di Wembley, 8 Mei 1971? Gol yang memastikan Arsenal meraih gelar ganda setelah lima hari sebelumnya menjadi juara Liga Inggris?

Hidupnya glamor, gayanya di dalam dan di luar lapangan flamboyan. Ringkasnya, ia penggemar tiap inchi riak kehidupan yang wajib disyukuri baik dan buruknya. Ia selalu riang gembira saat rekannya mencetak gol. Seperti saat pertandingan melawan Chelsea di minggu-minggu terakhir Liga Inggris musim 70/71.

Ia memberikan dua assist dan setelah pemain yang dia layani menceploskan bola ke gawang lawan sontak ia hampiri, peluk dan mengacungkan tangan ke udara. Dari cuplikan video ini anda tahu ada keriaan di tiap selebrasi khas Charlie. Selebrasi seorang pemenang. Selebrasi yang sama juga ia lakukan saat Arsenal menjamu Manchester United. 24 Agustus 1973

Juga selebrasinya saat melawan Manchester City, 24 Maret 1973, lihat bagaimana ia melambaikan tangan dan melayangkan kecupan untuk suporter away Arsenal hari itu.

Sayang seribu sayang. Prestasi heroik Charlie di dua musim pertamanya bersama Arsenal merupakan prestasi terbesarnya sebagai pesepakbola. Ia mengakrabi hantu cedera dan kerap bermasalah dengan temperamen serta hobinya berselisih dengan pelatih. Bertie Mee, pelatih Arsenal saat itu sudah sangat sabar membimbing pemain yang bisa saja menjadi one of the greatest. Perselisihannya dengan Don Revie, pelatih timnas Inggris, membuat dirinya hanya sekali membela The Three Lions. Tepatnya 60 menit saat Inggris menjamu Republik Irlandia.

Ia menolak godaan Spu*s dan lebih memilih bergabung dengan kekuatan besar sepabola Inggris saat itu, Derby County yang baru ditinggal Brian Clough. Meski tak mampu meraih gelar apapun, selamanya ia akan dikenang publik The Rams melalui hattrick-nya ke gawang Real Madrid.

"I was a scorer of a great goals not a great goal scorer", katanya mencoba merendah.

Seorang gadis tak akan lupa pria pertama yang mencium bibirnya. Seorang bocah lelaki sampai kapanpun akan mengingat perkelahian satu lawan satu pertamanya. Charlie ditakdirkan menjadi kreator gol-gol cantik maupun penentu. Hal yang membuat namanya menjadi folkore di London Utara sana.

"As a boy he watched his heroes at the North Bank. As a man he left the terraces, entered the pitch and became a hero himself. Charlie George, the king of Highbury, the scorer of a goal that clinched the double"

Kalimat di atas diucapkan presenter di video penasbihan figur Charlie sebagai salah satu dari 32 pemain yang diabadikan lukisnnya di dinding luar Ashburton Grove.

So You Want to be a Rock and Roll Star?

"The price you paid for your riches and fame/was it all a strange game?/you're a little insane/the money, the fame, the public acclaim/don't forget what you are/you're a rock 'n' roll star!"

charlie indocannon

Jalanan menyanyikan namanya. Suporter membuat lagu-lagu untuk memujanya****.

Sebagai rockstar hidupnya selalu diselimuti desas-desus. Ia pernah berkata pada wartawan bahwa perasaan di soraki oleh pendukung Arsenal di Highbury melebihi perasaan saat berhubungan seks. Atas dasar itu mungkin selebrasi gol Wembley-nya dituturkan 'rakyat' Arsenal ia lakukan dalam keadaan — maaf — penisnya ereksi. Hal yang ia tangkis berkali-kali di media; bahwa ia sudah terlalu lelah bermain 120 menit, bahwa selebrasi serupa telah ia lakukan di ajang yang sama musim itu melawan Manchester City.

Charlie memaknai betul perannya sebagai 'wakil rakyat'. Ialah sang terpilih dari ribuan bocah London Utara lain yang akhirnya bisa membela mereka di atas lapangan. Ia tak segan-segan mengonfrontasi wasit, meninju hingga menanduk pemain rival hingga hidung pemain tersebut bercucuran darah, melayangkan simbol V***** terhadap suporter Derby County dan tak lupa memrovokasi Gooner di stadion untuk bersorak lebih keras lagi.

Saat masih menjadi pemain reserve dia pura-pura sakit agar bisa menyaksikan laga FA cup tim senior di Bristol.

Charlie punya kharisma untuk memikat hati Gooner.

Lahir dengan wajah rupawan menjadi nilai plus baginya untuk memikat para gadis.

'I was always impressing the girls. That used to make me feel big. I wasn't quite a juvenile delinquent but very near it"

Saat tampil di hadapan publik bersama kekasihnya Susan Farge, mereka berdua tak ada bedanya dengan George Harrison dan Pattie Boyd. Mengenakan busana terkini dangan aura selebritas tingkat tinggi.

Ingat jaman itu pesepakbola adalah pesepakbola. Mereka tidak bergaji £100.000/pekan. Mereka tidak sibuk berkeliaran di catwalk atau membintangi produk perawatan tubuh. Mereka belum kenal istilah diving, berjibaku di lapangan becek dengan tingkat kekerasan tinggi – yang akan membuat Luis Suarez meraung-raung jika karirnya ditukar ke era itu.

Ucapan Brian Clough pada anak-anak Nottingham Forest bisa menjabarkan arena pertarungan sepakbola jaman tersebut,

"Tear into the cunts. Don't let these wankers get the better of you. Now go out there and beat them. Otherwise I'll kick your bollocks into touch"

Sosoknya yang banyak tingkah — baik di luar dan dalam lapangan — menjadi anomali saat itu. Bersama George Best dan Rodney Marsh, status pesepakbola sebagai selebriti telah mereka arungi sebelum Beckham membintangi Brylcream. Best dan Marsh, saking ikoniknya di Manchester, figur foto mereka bisa dilihat di album pertama Oasis Definitely Maybe. Band asal Manchester lain serpihan Joy Division yang ditinggal mati vokalisnya, New Order, bahkan merekam lagu berjudul Best and Marsh. George Best – saking ngartisnya – kerap dijuluki The Fifth Beatle.

Sebelum Chris Waddle dan Glen Hoddle tampil bergaya new romantic sambil menyanyikan lagu mereka di acara TV Top of the Pops , Charlie lebih dulu melakukannya. Lagi-lagi gosip yang katanya kalau digosok makin sip, ia diberitakan akan banting setir jadi penyanyi mengingat karirnya yang jeblok di Arsenal.

"Some bloke came up to me one time and said, "You could be a pop star, Charlie. Like Marc Bolan or one of that lot. Let's make a record." So we did. It was called A Love Song For My Lady. Bit of a romantic number you might say"

Kelakuan non-sepakbola di atas yang ia lakukan tak pernah ia sesali. Publik Highbury akan selalu mengenang aksi serta pengabdian raja mereka. King Charlie.

Refleksi Selebritas Terhadap Loyalitas dan Harapan untuk The Next Charlie George

Saya selalu menyematkan gelar raja pada Thierry Henry. Dengan segala trofi dan gol yang ia persembahkan untuk Arsenal, selebrasinya ke suporter Spu*s yang dijadikan patung di pelataran Ashburton Grove, gol terakhir di Highbury sekaligus selebrasi sujud penghormatan atas rumput stadion itu..

Omong kosong dan tak akan berujung jika memperdebatkan mana yang layak menjadi Raja Highbury sesungguhnya. Pertama, saya dan juga anda belum hidup dan siaran EPL baru hadir di negri ini pertengahan 90-an, tidak memungkinkan untuk menjadi suporter Arsenal era Charlie George (kecuali anda berumur 52 tahun dan lama tinggal di Inggris). Kedua, Thierry Henry is simply better than Charlie.

Namun ada alasan kenapa kita tak menemukan julukan King of Highbury kepada Henry.

Charlie George is the never dismantled king and at Highbury lies his throne.

Jika boleh saya menyimpulkan, pesepakbola adalah publik figur. Kepada mereka harapan dan doa dipanjatkan. Kepada mereka juga terlampiaskan segala makian dan cercaan. Seperti halnya penyanyi dan bintang film, cemooh dan pujian akan dihaturkan atas prestasi dan karya mereka. Menjadi anti-thesis jika kita coba memaknai arti publik figur double-standard seperti Charlie George, George Best, Rodney Marsh atau musisi seperti Liam Gallagher, Pete Doherty dan Rhoma Irama.

Nama-nama musisi yang saya sebut tadi tidak hanya terkenal akan karyanya. Tapi juga segala tingkah polah mereka di kehidupan nyata. Kita manusia biasa menjadikan sepakbola dan musik sebagai sarana eskapis. Keluar dari rutinitas hidup normal yang membosankan dan penuh aturan. Kadang kita ingin berteriak 'Toniight.. I'm a rock and roll star" sambil berjalan penuh kesombongan sehabis mendengar lagu Oasis, lain waktu kita mengikuti selebrasi khas pemain idola masing-masing di lapangan futsal atau ketika nobar. Sepakbola dan musik telah menjadi produk budaya populer yang bisa dinikmati dengan sentuhan jari.

Usia muda dengan talenta di atas rata-rata menjadikan mereka kerap kali sesumbar. Kau tentu ingat masa-masa Jack Wilshere masih aktif berkicau di akun Twitter-nya. Jujur, provokatif dan tanpa tedeng aling-aling saying what he likes.

Kita tak merasakan momen 'Gooner-became-Gunner' era Charlie George dan David Rocastle. Tapi jika kau mendukung Arsenal era awal siaran Premier League di Indonesia, kau adalah orang yang beruntung bisa menyaksikan gol Ray Parlour ke gawang Chelsea di final piala FA. Jika saat itu belum mengerti sepakbola, panjatkanlah doa agar pemain seperti Carl Jenkinson dan Jack Wilshere akan memimpin masa-masa jaya Arsenal 3-5 tahun ke depan.

Charlie George saat ini selain mengelola pub juga menjadi pemandu tur di Ashburton Grove. Dia kembali lagi menjadi Gooner, supporting Arsenal from the terraces..

Up The Arse!

charlie king indocannon

* http://arsenalonetwofive.files.wordpress.com/2012/04/086-1971-08-21-parade-02.jpg?w=500&h=865

** selebrasi ini begitu ikonik. Bisa dilihat dalam budaya pop di film Fever Pitch (1997) saat Paul Asworth kecil mengikuti selebrasi Charlie saat bermain bola di jalan. Film yang diangkat dari novel ini wajib kau tonton

*** inside forward adalah posisi yang jamak dipakai dalam sepakbola jaman itu. Simpelnya, inside forward adalah posisi trequartista Del Piero di Juventus, namun dalam implementasinya selalu ada dua inside forward (kanan dan kiri) di tiap tim. Mereka adalah gelandang serang sekaligus penyerang lubang untuk membantu kinerja striker dan tidak berkewajiban melepas crossing

****sejauh ini saya telah menemukan tiga lagu yang dikarang fans untuk Charlie George: 1) Charlie George Calypso oleh Steven North & The Flat Back Four, 2) I Wish I Could Play Like Charlie George oleh The Strikers dan 3) The Only Cockney Rebel That Ever Meant a Thing for Me was Charlie George oleh Halftime Oranges

***** melayangkan simbol V dengan telapak tangan menghadap muka adalah sebuah penghinaan. Baca selengkapnya disini http://www.massey.ac.nz/~wwpubafs/magazine/2002_Nov/stories/questions.html

 

Arsenal’s 2012-2020 British Core: Mencuri Masa Depan

Sekitar jam 10 malam tadi beredar kabar di Twitter dari akun @jeffnorthlondon bahwa Arsenal akan mengumumkan berita 'penting' pada pukul 3 sore waktu Inggris (10 malam waktu Indonesia).

Muncullah beragam asumsi dari para 'expert' Arsenal di Twitter tentang berita tersebut.
Pengumuman kontrak baru Theo Walcott? Perekrutan amunisi anyar? Macam-macam.

Lantas di jam yang sudah dibocorkan itu Arsenal memunculkan berita di website bahwa mereka akhirnya memperpanjang durasi kontrak lima pemain muda mereka yang kebetulan produk asli Inggris.

Arsenal Football Club is delighted to announce that five of its young internationals have today signed new long-term contracts.

The quintet of Kieran Gibbs (23), Carl Jenkinson (20), Alex Oxlade-Chamberlain (19), Aaron Ramsey(21) and Jack Wilshere (20), who are all full internationals, and between them have already made more than 350 first-team appearances for the Gunners, have all committed their long-term futures to Arsenal.

Penggemar Arsenal boleh kecewa karena drama kontrak Theo Walcott masih bersambung. Tapi selain membentuk opini publik dengan headline bombastis, ada nilai yang lebih fundamental dari perpanjangan kontrak pemain-pemain tersebut.

Berakhirnya masa romantis French Connection

Di awal kepelatihannya di Arsenal, Arsène Wenger merekrut pemain-pemain Prancis yang kelak meraih banyak gelar. Patrick Vieira di musim pertamanya, Nicholas Anelka dan Emmanuel Petit (1997/98) serta Thierry Henry — yang sedang flop di Juventus — di musim 1999/2000.

Ini adalah keputusan breakthrough karena memang formula ini berhasil mendatangkan banyak gelar. Langkah Arsène merekrut pemain-pemain Prancis ini menjadi visioner karena saat itu format Premier League (baca: komersialisasi/globalisasi) baru berjalan beberapa tahun dan dia bisa melihat bahwa beberapa tahun ke depan liga ini akan menjadi yang terbaik dan berimbas pada beberapa langkahnya di bursa transfer.

Premier League dengan jaringan SkySports-nya pun menjadi liga terdepan di antara liga-liga Eropa lainnya. Hasilnya investor asing pun berdatangan mulai dari Rusia (Chelsea), Thailand (Manchester City), Amerika (Manchester United dan Liverpool), Timur Tengah (Manchester City dan Arsenal) hingga Malaysia (Queens Park Rangers). Kedatangan pemain-pemain asing juga tidak terbendung termasuk talenta pemain-pemain asal Afrika.

Inilah yang membuat basis French connection ini menjadi krusial karena mayoritas negara Afrika menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi.
Cesc Fabregas dalam sebuah wawancara pernah berujar kalau dia mengalami kesulitan saat tiba di Arsenal pertama kali karena harus belajar bahasa Prancis mengingat banyaknya pemain Afrika disana.
Jadi saat itu Arsenal bisa menciptakan keharmonisan meski dihuni banyak pemain non-Inggris karena faktor komunikasi tadi.

Namun tentu ada saja komentar negatif media tentang internasionalisasi skuad Arsenal saat itu. Arsène dikecam tidak memberi kesempatan bagi talenta muda Inggris di Arsenal dan seolah-olah menjadi yang terdepan dalam menghambat karir mereka.

Kecaman ini makin memuncak pada tahun 2005 (pertandingan melawan Crystal Palace) saat Arsenal menjadi tim pertama di Premier League yang menurunkan skuad yang dihuni oleh 16 pemain asing (tanpa satu pun pemain kelahiran Inggris).

Well, Arsène bukannya tidak mencoba karena sebelum itu pun dia sudah merekrut pemain lokal seperti Francis Jeffers atau memprosikan pemain asli Arsenal Academy seperti Ashley Cole, Jermaine Pennant hingga David Bentley.

Memang, nama-nama pemain Inggris tadi pada kenyataanya menjadi pemain gagal atau kalah bersaing dengan pemain asing.
Mmm, maaf. Ashley Cole menjadi pengecualian karena dia akhirnya berlabuh ke Chelsea demi siraman jutaan pounds fulus Abramovich.

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga pemain Inggris mengingat regulasi UEFA & FA yang mewajibkan klub untuk menyertakan pemain-pemain berstatus homegrown player di skuadnya. Pasar menjadi tidak masuk akal kerena agen-agen pemain pun menaikkan harga pemain-pemain Inggris. Nama-nama seperti Wayne Bridge, Adam Johnson, Andy Carrol, Charlie Adam, Steven Downing menjadi tidak wajar jika dibandingkan dengan performa mereka di klubnya masing-masing.

Warisan Terakhir Arsène Wenger?

Disadari atau tidak, Arsène berhutang besar pada para pendahulunya terutama George Graham yang membina akar Inggris di skuad yang dia warisi seperti boyband "Arsenal Famous Wonderwall" yang beranggotakan David Seaman, Martin Keown, Tony Adams, Steve Bould, Lee Dixon dan Nigel Winterburn serta gelandang enerjik Ray Parlour.

Ibaratnya Arsenal adalah hotel bintang lima di Qatar yang merekrut banyak tenaga kerja asing — baik yang ahli maupun pekerja kasar, maka pemain warisan George tadi adalah pegawai-pegawai lama asli Qatar yang tidak hanya mengerti seluk beluk perusahaan tapi juga menjadi tuan rumah yang ramah bagi para pegawai asing sehingga bisa memperkenalkan kultur/adat istiadat negara mereka sehingga pegawai asing itu semakin kerasan dan berkontribusi maksimal di perusahaan tersebut.

Sebelum berita perpanjangan kontrak ini resmi beredar, Arsène memang menegaskan hasratnya untuk membangun skuad yang berfondasikan pemain-pemain asli Inggris.

Mengutip ucapannya beberapa bulan lalu,

"I believe we have a good core of young English players. We couldn't keep the good core of young foreign players but I hope we will be capable to build a team around all these young England players who can achieve something together"

Manchester United era treble banyak dipuji bukan hanya kehebatannya meraih tiga gelar dalam semusim. Tapi juga keberanian Fergie untuk memainkan anak-anak muda di tim utama. Class of '91 ala Fergie yang dihuni David Beckham, Paul Scholes, Ryan Giggs, Nicky Butt, Phil/Gary Neville itu menjadi motor United dalam meraih banyak gelar bukan hanya karena skill mereka, tapi juga rasa memiliki dan mencintai klub melebihi pemain-pemain asing yang ada di skuad United. Bahkan Paul Scholes dan Ryan Giggs pun tanpa ragu menyatakan kesanggupan saat United mengalami krisis pemain musim lalu.

Ini yang saya pikir akan menjadi salah satu warisan Arsène selain banyak gelar dan hijrah ke Ashburton Grove. Tersiar kabar Arsenal juga mengincar talenta muda lain seperti Wilfried Zaha (Crystal Palace) dan Luke Shaw (Southampton). Belum lagi kalau anda mau menghitung bakat-bakat muda di Arsenal Academy seperti Nico Yennaris, Benik Afobe, Jerneade Meade hingga Chuba Akpom yang begitu menggiurkan untuk segera dipromosikan ke skuad utama.

I'm not an anglophile, tapi melihat klub yang saya cintai dihuni oleh pemain yang juga mencintai klubnya, penggemar mana yang tidak senang. Tanya saja pada fans Barcelona bagaimana rasanya berjaya di Spanyol dan Eropa dengan skuad yang dihuni pemain-pemain didikan asli Katalan.

Ada sebuah tweet yang bisa mengilustrasikan perasaan bangga ini,

Screen Shot 2012-12-21 at 7.28.43 PM

Jack Wilshere adalah Mr. Arsenal penerus Tony Adams dan secara fantastis mengacak-acak Barcelona di musim pertamanya. Gibbs (yang telah bergabung di Arsenal sejak berumur 15 tahun) meski di timnas harus bersaing dengan Ashley Cole dan Leighton Baines (yang sedang dalam performa terbaiknya) saya yakini menjadi pilihan utama dalam 3-4 tahun ke depan. The Ox tidak perlu diragukan setelah mencuri perhatian saat Euro kemarin. Dalam diri Carl Jenkinson kita melihat mimpi kita menjadi nyata, he grew supporting Arsenal with his dad and brother from the terrace and living our dream to play with red and white shirt (seorang Gooner yang akhirnya menjadi Gunner seperti Charlie George, David Rocastle and Ray Parlour). Aaron Ramsey? Hey, dia mengalami kejadian tragis berupa cedera yang hampir mematikan karir dan kematian mentornya Gary Speed yang bunuh diri. And he's only 21 FFS!

Rata-rata usia pemain ini adalah 21 tahun dan pada 2020 nanti akan berada di puncak karirnya.
Saya berharap akan ada lagi pertandingan tribute/memorable saat mereka pensiun sebagaimana Dennis Bergkamp dan Lee Dixon.

So Jack, Gibbs, Jenko, Ramsey and Ox. Congratulation for your contract renewals and here is hoping we will see you and the rest of Arsenal player stealing the future.

newcontract

Subscribe to this RSS feed