Menu

gonnersview banner

Gooners View, Dari Gooners untuk Gooners

Mengenal 5 Youngster Terbaru Arsenal dan Harapan Saya Kepada Seorang Iggy

miquel

Ketika saya mendapat kabar resmi tentang kepastian Arsenal berkunjung ke Indonesia dalam rangkaian tour Asianya, sontak tiba-tiba saya melakukan sebuah gerakan reflek mengangkat dua jari telunjuk ke arah langit layaknya selebrasi gol ala Kaka dan berkata 'Oh my God, you know what i want, you have blessed my pray, this is a dream come true.'

Sejak itu, tiap kali bertemu dengan orang-orang yang saya kenal, walaupun mereka bukanlah penggemar Arsenal, saya dengan bangga dan antusiasnya menceritakan rencana rencana saya dalam menyambut kedatangan tim yang sudah saya cintai sejak tahun 2002 ini.

Tapi ada sebuah momen saat saya ditanya oleh teman yang kebetulan fan dari tim lain, sebut saja namanya Mawar tentang siapa pemain Arsenal yang paling ingin saya saksikan penampilannya. Dengan tampan saya menjawab Ignasi Miquel. Entah dia kenal atau tidak dengan Ignasi Miquel, lantas teman saya bertanya lagi, kenapa bukan Bacary Sagna? Dengan rendah hati saya menjawab, karena Bacary Sagna lebih tampan dari pada saya.

Berbicara tentang Ignasi Miquel i Pons atau kerap disapa Iggy memang seperti membicarakan seorang anak kecil yang rajin nan ambisius di sekolah, namun pendiam dan kurang dikenal, pun saat di kelas selalu duduk di bangku paling belakang dan jarang berbaur dengan teman temanya.

Iggy kadang tampak seperti itu, dia jauh dari sorotan media. Gayanya yang serius dan hanya sesekali tersenyum dan tertawa membuatnya sering luput dari perhatian media. Dan dibanding pemain pemain muda Arsenal lainnya, Iggy masih kalah populer dibanding Nico Yennaris, Ryo Miyaichi, Emmanuel Frimpong, Thomas Easfield atau anak kecil kurus yang baru baru ini seolah datang dari planet lain dan mencuri perhatian saya, Gedion Zelalem.

Anda tidak akan menemukan foto Iggy sambil mengangkat jempolnya seperti Lukas Podolski sering lakukan ketika difoto oleh Stuart Mc Farlane, atau berjoget seperti Oliver Giroud di tengah lapangan stadion Gelora Bung Karno. Iggy jauh dari harapan untuk menjadi seorang pemain sepakbola yang eksis di depan kamera, dia terkesan menghindarinya. Saya menyukai kepribadian pemain seperti Iggy, dia mengingatkan saya kepada ehm maaf, Paul Scholes, yang kita tau gaya hidupnya diluar lapangan hampir tidak tersentuh oleh media.

Namun jika berbicara performanya di lapangan, Iggy memang biasa biasa saja, ia juga tidak lepas dari kritik. Mungkin Anda masih ingat pada 2011 lalu kala Arsenal takluk 0-2 melawan Liverpool dimana Iggy masuk menggantikan Koscielny yang cedera di tengah pertandingan. Saat itu Iggy tak mampu menutup pergerakan Luis Suarez dan melakukan kesalahan dalam membuang bola sehingga mengenai dada Aaron Ramsey dan menyebabkan terjadinya gol bunuh diri. Begitu juga saat Arsenal bersua Galatasaray di ajang Emirates Cup musim ini, Iggy tidak menunjukkan penampilan maksimalnya. Mungkin inilah alasan kenapa media enggan untuk mengulasnya lebih dalam dan itu memberikan kesimpulan bagi saya bahwa anak ini harus punya jam terbang lebih tinggi untuk menjadi seorang bek yang tangguh.

Kita sebagai penggemar Arsenal bisa saja membuat hipotesa bahwa Iggy tidak memiliki kecepatan sebagai seorang bek, tekel yang lemah, dan selalu terburu buru mengambil keputusan. Tidak ada yang salah dengan itu dan memang pada intinya Iggy belum siap untuk bermain reguler di tim utama Arsenal.

Namun begitu anak ini tak boleh dipinggirkan begitu saja, ia adalah pemain muda penuh potensi dan memiliki syarat untuk menjadi seorang bek kelas dunia. Iggy memiliki ketenangan, mental yang kuat, mampu membaca situasi permainan, dan seorang good passer. Pemain berusia 20 tahun ini juga komplit secara fisik, dia memiliki tinggi 193 cm. Perlu diingat jika sebuah tim memiliki pemain jangkung, maka tim bisa memainkan partial zonal marking, penjagaan zona sebagian. Artinya tiap pemain memiliki satu zona, kecuali satu-dua pemain yang diplot untuk melakukan man-to-man marking. Dia juga bukan tipe bek konvensional, Iggy terkadang merengsek ke depan dan tak segan untuk membantu serangan, dia seperti Gerrard Pique. A very promising player!

"He is not yet ready [for Premier League or Champions League] but he did enough to show that he will play in the Premier League and the Champions League. I feel that is the most important thing. He has some aspects of his game that he has to work on, a bit more committed in the challenges, better in the air. But overall he has shown that he has the potential to play in there.” – Arsene Wenger

Sebelum berlabuh di Emirates, Iggy yang sekilas mirip dengan Justin Bieber jika memakai jaket kulit berwarna hitam adalah pemain yang berakar dari Catalan, ia produk asli La Masia namun gagal disana dan selanjutnya berkarir di Esportivo Cornella. Dan pada tahun 2008 (usia 15 tahun) Arsenal merekrutnya, dimana sebelumnya ia ditemukan oleh pemandu bakat Arsenal yang berbasis di Spanyol, Francis Cagigao. Arsenal sangat beruntung bisa mendapatkannya karena saat itu Manchester United dan Valencia juga mengincarnya. Kedua klub itu memberikan trial kepada Iggy, namun Arsenal bergerak cepat dengan menawarkan kontrak tanpa harus melakukan trial.

Dan selama berkarir di Arsenal, Iggy telah mengantongi 13 penampilan dan mencetak 1 gol. Debutnya terjadi pada tahun 2011 saat Arsenal melawan Leyton Orient dalam partai FA Cup dan golnya tercipta kala Arsenal bersua Coventry City di ajang Piala Liga tahun 2012 lalu lewat umpan ciamik pria dari Leningrad, Andrey Arshavin. Musim lalu ia diangkat sebagai kapten tim cadangan Arsenal oleh Neil Banfield dan pernah membawa Spanyol U19 menjuarai Piala Eropa pada tahun 2011. Diluar posisinya sebagai centre back, Iggy juga pernah beberapa kali di plot sebagai fullback, sebuah posisi yang dijalaninya dengan setengah hati dan tentunya dia tidak seeksplosif Leighton Baines.

“My first impressions of him were his great enthusiasm. When he was out on the pitch his enthusiasm shone through. He was genuine, he made his mistakes, tried to rectify them and worked hard at his game. That’s what we try to produce with all the lads here. It’s not just about football, it’s about the roundness of being a person.” - Neil Banfield

 Kini Iggy berada di Leicester City. Arsenal meminjamkannya selama semusim. Sebuah keputusan yang tepat dari seorang Arsene Wenger. Saya tak mau memberikan ekspektasi berlebih untuknya namun saya berharap ia mampu meningkatkan kemampuannya untuk menjadi bek yang berkualitas. Dan saya pribadi tidak mau membandingkan Iggy dengan bek muda lainnya seperti Kurt Zouma (Saint Etienne) ataupun Bruno Martins Indi (FC Twente). Bukan bermaksud untuk merendahkan kualitas liga mereka, tapi Iggy berada di Premier League, sebuah liga yang mungkin paling kompetitif dan paling sulit di dunia. Hampir semua pemain terbaik berkumpul disini dan Iggy ada dalam posisi itu.

leicester

 Dan sekarang asa ada di tangan Nigel Pearson, pelatih Leicester City. Kita berharap semoga Nigel memberikan kepercayaan 100 persen kepada Iggy. Memberikan tempat reguler dan memolesnya untuk menjadi bek yang tangguh. Kontrak Iggy bersama Arsenal akan berakhir 2014 nanti, ini akan menjadi motivasi ekstra baginya untuk berjuang mendapatkan tempat di Arsenal dan meyakinkan Wenger bahwa dia adalah masa depan Arsenal yang layak untuk diberikan sebuah kontrak baru.

“I play like Gerard Pique from Barcelona. The same happened to him, when he was young he came here. We are both quite tall and we both like playing the ball out from the back. I like to play the ball and go in strong for challenges. I just want to win. I think I’m a winner, I always give 100 per cent for every game. I know that I have to work 100 per cent every day and give everything when I play. I just want to get into the first team.” – Ignasi Miquel

 Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi situs Leicester City dan melihat perkembangannya. Iggy telah mengemas 3 penampilan dari 13 pertandingan yang sudah dijalani tim berjuluk The Foxes itu. Saya tidak merasa pesimis karena ia baru beberapa bulan berada disana. Masih ada waktu sampai akhir musim baginya untuk memperbaiki kekurangannya dan meningkatkan kapasitasnya sebagai seorang bek. Terakhir kita sebagai fans tentunya ingin melihat Arsenal memiliki seorang centre back asal Spanyol yang mampu memberikan ketenangan di zona pertahanan dan Iggy punya potensi itu, dia memiliki segala hal untuk menjadi pemain hebat. Kita hanya perlu bersabar untuknya.

"I want to thank all my fans for your support and I hope to break into the first team this season. And for all the questions,I will not say i want to go back to Barcelona when i am 24, I owe nothing to them. And i only give for the team that has given me the most opportunities to learn and develop myself which is Arsenal F.C" – Ignasi Miquel

 Dan apa yang dikatakannya diatas adalah sebuah visi dan kesederhanaan dari seorang Ignasi Miquel. Yes, I like his personality.

They're Arsenal Bright Future

Setelah mengulas tentang Iggy rasanya kurang afdol bagi saya jika tidak membahas sedikit profil pemain muda terbaru dari Arsenal. Mereka adalah youngster (bocah ingusan) yang mungkin situs Transfermarkt.co.uk pun masih bingung menentukan harga mereka. Kehadiran mereka di Arsenal memberikan rasa penasaran bagi saya untuk mengenal lebih dekat bocah bocah ini. Tentunya yang saya maksud bukan Mesut Ozil atau Yaya Sanogo. Dan maaf jika saya tidak memasukkan nama Gedion Zelalem, saya rasa sebagian besar dari kita sudah mengetahui profilnya dan pernah melihat aksinya saat Arsenal berhadapan dengan Indonesia Dream Team. Semoga profil mereka bermanfaat untuk kalian yang masih belum mengenalnya.

Jamaal Raage

jamal rageeThe Next Arjen Robben. Begitulah media media di Inggris menjuluki striker berusia 16 tahun ini. Jamaal adalah transfer pertama Arsenal dimusim ini, ia dikontrak dari klub kecil di Stockholm Swedia, Brommapojkarna, namun sebelumnya ia telah menjalani trial di Arsenal selama satu musim.

“I'm a bit like Arjen Robben actually. I am left footed and goes pretty much left to cut in and shoot. But it’s hard to describe myself, the audience gets to do that instead.” – Jamaal Raage

Arsenal sangat beruntung bisa mengontrak pemain timnas Swedia U-15 ini, karena Manchester United ngotot untuk mendapatkannya dan Jamaal juga pernah berlatih bersama skuad Manchester United sebanyak 8 kali dalam rentang waktu 2010 sampai 2012.

Sekarang Jamaal bermain untuk Arsenal U-18, disana dia akan bersaing dengan striker muda lainnya seperti Olufela Olomola, dan Kaylen Hinds. Saya optimis dengan pemain berdarah Somalia ini dan walaupun banyak media yang menyebutnya sebagai the next Arjen Robben, Carlos Vela, atau Lukas Podolski, intinya marilah kita berharap dia akan menjadi tumpuan Arsenal di masa depan.

 Julio Pleguezuelo

Julio PleguezueloSepertinya Arsenal adalah satu satunya klub diluar Spanyol yang tahu bagaimana caranya menciduk pemain muda dari akademi La Masia Barcelona. Setelah Fabregas dan Fran Merida, selanjutnya Jan Toral dan Hector Bellerin, dan sekarang giliran Julio Pleguezuelo.

Sebelum pindah ke Arsenal, Julio adalah produk paling hot di akademi La Masia. Arsenal harus bersaing ketat dengan Manchester City dan Tottenham untuk mendapatkan pemain berusia 16 tahun ini. Barcelona juga tidak mau ketinggalan, mereka memberikan tawaran kontrak selama 3 tahun untuknya jika kelak ia sudah berusia 18 tahun. Mungkin, ya mungkin hampir semua pemain muda di dunia ini akan menerima dengan senang hati tawaran kontrak dari klub sekelas Barcelona, tapi tidak untuk Julio, ia malah menolaknya dan memilih Arsenal sebagai destinasi berikutnya dengan durasi kontrak selama 3 tahun.

Julio memiliki peran yang hampir sama dengan Hector Bellerin, posisi aslinya adalah centre back, namun jika klub kekurangan opsi, ia juga bisa di plot di sisi kanan sebagai seorang full back. Pemain ini punya kelebihan dalam membaca situasi permainan dan sangat baik dalam penguasaan bola, ia juga pemain tim nasional Spanyol U-16. Fans Barcelona menyebutnya sebagai The Next Carles Puyol.

Walaupun sekarang Julio bermain di tim Arsenal U-18, saya berharap dengan kemampuan yang dimilikinya ia mampu menembus skuad Arsenal U-21 di musim ini.. Dan saat saya menulis artikel ini, saya membayangkan apakah dia adalah penerus Iggy jika Iggy gagal di Leicester City? Ah sudahlah...

Semi Ajayi

ajayi for gunners iiSemi adalah rekrutan terakhir Arsenal di bursa transfer musim panas ini, dia didatangkan dari akademi Charlton Athletic, tempat dimana Carl Jenkinson bermain sebelum berlabuh ke Arsenal. Semi memiliki postur 183 cm dan beroperasi sebagai centre back. Sama seperti Jamaal Raage, sebelum resmi direkrut ia terlebih dahulu menjalani trial di Arsenal dan debutnya dengan Arsenal U-21 ditandai dengan penampilan impresif lewat sebuah gol yang ia cetak saat Arsenal U-21 menang 3-0 melawan Blackburn Rovers.

Pemain berusia 19 tahun ini kuat secara fisik, memiliki ketenangan dan apik saat berduel di udara. Dia terlihat kokoh sebagai bek tengah. Dia juga sudah mengantongi 3 penampilan bersama tim nasional Nigeria U-21. Dan media pun sudah membandingkannya dengan sosok Sol Campbell. Terlalu dini memang, tapi di dunia sepakbola tak ada yang tak mungkin, apalagi Semi adalah seorang fan berat Arsenal dan pengidola Tony Adams dan Lee Dixon, hal ini akan menjadi pelecut semangat baginya untuk menjadi salah satu bek terbaik di Arsenal.

Will Semi Ajayi be the next Sol Campbell? Or will he goes the same way as Kyle Bartley? Wait and see.

Kristopher Da Graca

KristopherPemain ini berasal dari klub Hisingbacka FC, sebuah klub kecil yang namanya sangat asing di telinga saya. Sama hal nya seperti Jamaal Raage, Da Graca adalah pemain yang berasal dari Swedia dan sebelumnya menjalani trial di Arsenal.

Walau wajahnya terlihat sedikit tua dan sekilas mirip dengan Anton Ferdinand, tapi Da Graca yang termuda dari 5 youngster terbaru Arsenal, ia masih berusia 15 tahun dan sekarang bermain untuk Arsenal U-16.

Namun sebelum menjalani trial di Arsenal, Da Graca terlebih dahulu telah melakoninya di Tottenham Hotspurs, Chelsea, dan Aston Villa. Oleh karena itu tidak heran jika Arsenal harus bersaing ketat dengan ketiga tim itu untuk mengunci pemain yang juga memiliki darah Bosnia Herzegovina ini.

Sama seperti Julio dan Semi, posisi asli Da Graca adalah seorang bek tengah tapi ia juga mumpuni untuk bermain di posisi gelandang bertahan. Melihat bahwa Tottenham, Chelsea dan Aston Villa juga menginginkan pemain ini sebelumnya, sepertinya Da Graca tidak akan sulit untuk menembus skuad Arsenal U-18 atau bahkan Arsenal U-21 sekalipun.

Daniel 'Dan' Crowley

Daniel CrowleyJika Anda ingin melihat siapa yang bakal jadi penerus Jack Wilshire, orang itu adalah Dan Crowley. Anak ini adalah masa depan tim nasional Inggris.

Crowley yang berusia 16 tahun direkrut Arsenal dari Aston Villa dengan membayar biaya kompensasi sebesar 200 ribu poundsterling. Saat masih berkostum Aston Villa Crowley adalah bagian dari skuad The Villans U-21 yang menjuarai Next Gen Series musim lalu. Di musim yang sama ia menjalani debut untuk tim nasional Inggris U-16 dan di musim ini Crowley dipromosikan ke tim nasional Inggris U-17. Bersama Tafari Moore (Arsenal), Patrick Roberts (Fulham), Isaiah Brown (Chelsea), dan Demetri Mitchell (Manchester United) mereka berlima adalah pemain muda dengan prospek cerah yang dimiliki tim nasional Inggris U-17 saat ini.

Saya pribadi kagum dengan skill yang dimiliki anak ini. Di usianya yang masih belia ia telah memiliki daya jelajah yang tinggi, visi yang luar biasa, teknik fantastis, lincah, cerdas dalam memainkan bola, memiliki passing yang akurat dan pintar menemukan ruang, dia juga spesialis dalam urusan set piece.

Dan jika apa yang saya katakan tentang Dan Crowley terkesan berlebihan, saya menyarankan Anda untuk membuka situs You Tube dan melihat aksinya. Anda bisa melihat pertandingannya bersama tim nasional Inggris, khususnya saat Inggris melawan Portugal, di pertandingan itu dia memberikan 2 assist yang menurut saya hanya Lionel Messi muda yang mampu melakukan hal seperti itu. Atau di pertandingan lain antara Aston Villa U-18 Vs Arsenal U-18, Crowley yang kala itu masih berkostum Aston Villa tampil seperti penyihir, ia menggiring bola sendirian dari tengah lapangan ke area kotak penalti Arsenal dan mesti dikepung oleh 4 pemain belakang Arsenal sebelum akhirnya dijatuhkan lawan dan menghasilkan sebuah penalti. Di pertandingan itu Crowley mencetak 2 gol dan 1 assist, dan salah satu golnya tersebut dicetak melalui titik putih ala Panenka.

Melihat kemampuannya seperti itu maka tidak heran bagi saya jika banyak media media di Inggris membanding dengan pemain hebat lainnya seperti Steven Gerrard, Fabregas, Jack Wilshire dan Paul Scholes. Tapi bagi saya pemain ini sedikit lebih agresif dibanding mereka dalam urusan membongkar pertahanan lawan, saya melihat Dan Crowley sebagai gabungan dari Jack Wilshire dan Tomas Rosicky.

Dan dengan talenta yang dimilikinya sekarang ini, sepertinya kita tidak butuh waktu lama untuk melihatnya masuk ke skuad utama Arsenal. Tanda tandanya sudah terlihat saat dia melakukan debut untuk Arsenal U-21 Vs Sutton United bulan Juli lalu, di pertandingan tersebut Crowley mencetak 2 assist dan membantu Arsenal meraih kemenangan dengan skor 4-3. Sebuah debut yang manis dan Wenger harus menjaga anak ini dengan baik.

We Hope They Could Be Brighter Star In The Future

Tidak ada seorangpun yang meragukan kemampuan Arsene Wenger dalam urusan menemukan pemain muda potensial serta memolesnya untuk menjadi seorang pemain bintang. Dan diantara semua klub elit di Premier League, mungkin Arsenal satu-satunya klub yang memberikan kesempatan bermain lebih banyak kepada pemain-pemain mudanya.

Namun sehebat apapun Wenger dan stafnya, tetap akan ada saja pemain muda yang gagal mewujudkan ambisinya untuk bermain di skuad inti Arsenal. Seperti yang kita tau sebelum Arsenal mendatangkan pemain pemain baru di musim ini, Arsenal terlebih dahulu telah melepas 15 pemain mudanya, dimana didalamnya terselip nama Conor Henderson, Sead Hajrovic dan Kyle Ebecilio yang sebelumnya saya harap akan menjadi pemain hebat di Arsenal.

Dan kegagalan mereka di Arsenal bukanlah salah Wenger, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Mereka telah diberikan fasilitas, pelatihan dan kesempatan bermain lebih banyak dibanding klub klub lain tapi mereka tidak mampu memenuhi ekspektasi yang diberikan.

Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pemain muda di Arsenal, baik bagi mereka yang baru tiba maupun yang masih bertahan. Mereka harus bekerja keras untuk tidak sekedar menjadi pemain bagus dan berbakat, mereka harus menjadi pemain hebat dan bisa memberikan perbedaan, karena Arsenal punya standar tinggi dalam hal ini.

Steve Rowley, kepala pemandu bakat Arsenal pernah mengatakan bahwa Wenger mencintai pemain yang cerdas. Dan kecerdasan seorang pemain muda adalah hal pertama yang diperhatikan Wenger sebelum merekrutnya, yang kedua adalah teknik dari pemain tersebut. Untuk ukuran fisik Wenger juga memiliki tingkatan tertentu, setelah itu adalah mental dan sikap pemenang. Dan yang terakhir adalah stamina, khusus untuk pemain berposisi gelandang, gelandang tersebut harus memiliki stamina yang kuat.

Saya rasa beberapa poin diatas sudah dimiliki oleh Jamaal, Crowley, Julio, Semi dan Da Graca, jika tidak tentunya mereka tidak berada di Arsenal saat ini. Dan sekarang tugas mereka adalah bekerja keras dan beradaptasi di Arsenal dan tentunya berharap diberkati sedikit keberuntungan. Dan jika nantinya Wenger merasa mereka layak untuk dipertahankan dalam jangka waktu yang lama, maka opsi peminjaman bisa menjadi alternatif yang baik untuk menambah jam terbang mereka, seperti yang telah Wenger lakukan kepada Ignasi Miquel. Setelah itu kita tinggal menunggu waktu untuk melihat mereka menjadi tumpuan Arsenal di masa depan.

Karena mereka adalah orang orang yang terpilih, karena mereka adalah berlian dan Arsene Wenger tau bagaimana cara merawat sebuah berlian.

Siempre Arsenal !!!

Read more...
Subscribe to this RSS feed