Menu

gonnersview banner

Menilik Peluang Lolos Arsenal

Tanpa terasa, musim 2015/2016 sudah mencapai paruhnya. Sudah pula mencapai akhir tahun yang sebagaimana biasanya, menjadi jeda kompetisi bagi berbagai liga di benua biru. Dan kompetisi akbar di benua biru, Liga Champions (selanjutnya disingkat UCL) pun telah mencapai jedanya. Jeda ditandai dengan adanya laga terakhir di fase grup UCL. Sisa jeda akan dilanjutkan Februari sebagaimana 16 besar kembali dilanjutkan melalui undian.

Arsenal, sebagai salah satu partisipan, berada di ujung tanduk. Pasalnya, selama keikutsertaannya di UCL, Arsenal selalu lolos dari fase grup sejak tahun 2000. Terhitung 15 tahun sudah Arsenal menjadi langganan di fase 16 besar UCL. Prestise dan juga status sebagai langganan 16 besar lekat dengan Arsenal dimana mencoba terus menjaga kestabilan bermain di top level, selaras apa yang diucap Arsene Wenger di press conference melawan Zagreb beberapa pekan lalu. Manager Arsenal pun menambahkan bahwa ia masih yakin secara matematis Arsenal berpeluang lolos.

Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan, mempertimbangkan kemungkinan terburuk, apakah menjadi bencana besar bagi Arsenal atas partisipasinya di UCL? Sebelum menjawab, mari kita menapak tilas dan membandingkan kondisi dengan pengalaman terdahulu.

Arsenal terakhir kali gagal melaju ke fase berikutnya adalah tepat pada musim 1999/2000. Kala itu, Arsenal hanya mampu bertengger di posisi 3 pada klasemen akhir fase grup yang membuat Arsenal mesti terjeremus di UEFA Cup (sekarang Europa League). Arsenal saat itu berada di grup B. Grup berisi: Barcelona (14pts), Fiorentina (9pts), Arsenal (8pts), AIK Solna (1pt). Arsenal musim itu pula, langsung bereaksi dengan bermain pada final UEFA Cup, meski takluk atas Galatasaray di final. Laga sendiri berakhir imbang tanpa gol yang mau tidak mau harus ditentukan dengan adu penalti. Davor Suker, salah satu legenda Krosia juga, gagal menjalankan tugasnya sebagai algojo yang membuat Galatasaray menjadi kampiun.(via: Arsenal Season Review 99/00)

Arsenal, kini, berada di posisi hampir serupa. Untuk memastikan lolos, Arsenal harus bertarung hingga pertandingan terakhir melawan Olympiakos. Olympiakos (9pts) bertengger di posisi kedua di atas Arsenal (6pts) yang bertengger satu pos di bawahnya. Bedanya, dahulu Arsenal ke UEFA Cup berada di dalam grup neraka, Fiorentina menjadi salah satu momok di Eropa kala itu. Kini, Arsenal harus membayar hasil kecerobohan atau apapun itu, untuk menghindari hal serupa terjadi.

Intermezzo – UCL group stages rules

Menganilis dari kaca mata peraturan UEFA di fase grup, Arsenal sudah tidak bisa lagi keluar dari kompetisi eropa. Soalnya, Arsenal sudah tidak memungkinkan duduk di dasar klasemen lantaran peraturan ini. Untuk bisa lolos pun, Arsenal harus menang setidaknya selisih 2 gol bersih atau menang selisih satu gol dengan catatan itu harus 2-3, 3-4, dst.

Alasan kenapa adanya selisih satu gol dengan catatan, adalah termaktub dalam artikel 17 UCL. Adapun lengkapnya sbb:

a. Higher number of points obtained in the group matches played among the teams in question;
b. Superior goal difference from the group matches played among the teams in question;
c. Higher number of goals scored in the group matches played among the teams in question;
d. Higher number of goals scored away from home in the group matches played among the teams in question;
e. If, after having applied criteria a) to d), teams still have an equal ranking, criteria a) to d) are reapplied exclusively to the matches between the teams in question to determine their final rankings. If this procedure does not lead to a decision,

criteria f) to l) apply;

f. Superior goal difference in all group matches;

g. Higher number of goals scored in all group matches;

h. Higher number of away goals scored in all group matches;

i. Higher number of wins in all group matches;

j. Higher number of away wins in all group matches;

k. Lower disciplinary points total based only on yellow and red cards received in all group matches (red card = 3 points, yellow card = 1 point, expulsion for two yellow cards in one match = 3 points);

l. Higher club coefficient (see Annex D).
(via: Artikel 17 UCL rules)
Mengenyampingkan point K dan I, dimana diluar teknis masalah gol, singkatnya sbb:
1.Pts won
2.Pts in H2H
3.GD in H2H
4.Goals scored in H2H
5.Away goals in H2H
6.Goal difference
7.Total goals
(via: @socanalysisHQ)

Untungnya, sejauh ini di grup, seluruh tim belum pernah merasakan hasil imbang. Hasil imbang sangat mempengaruhi Head to Head (H2H) untuk mengmbil alih peran. Contoh sederhana, seperti kala Chelsea tersingkir dari fase grup Liga Champions pada musim 2012/2013. Saat itu, mereka memiliki poin sama dengan posisi kedua namun gagal lolos lantaran pada pertemuan pertama mereka harus menelan hasil imbang 2-2 di kandang sendiri. Meskipun mereka menang besar di laga terakhir, nyatanya hal itu tidak mampu menolong mereka untuk lolos ke fase 16 besar.

Jadi, untuk kasus Arsenal sekarang, lebih kepada agregat gol. Selisih satu gol 2-3, secara agregat sama, namun Arsenal lebih unggul selisih gol (-1) ketimbang Olympiacos (-3). Jika Arsenal menang dengan selisih satu gol 3-2, 4-3, dst, maka Arsenal bakal surplus 1 gol dalam jumlah selisih gol. Sehingga, hal itu tetap menjaga gap dari selisih gol berubah jauh.

Meninjau kekuatan lawan

MatchDay 6 kali ini bakal dipenuhi dengan drama. Pasalnya, ini hanya masalah dua kubu yang ingin spot mereka untuk lolos terpenuhi. Ibarat sebuah laga final. Kedua kubu diyakini bakal habis-habisan. Olympiakos bakal tidak diperkuat oleh gelandang Bouchalakis lantaran cedera paha. Sementara itu, bek mereka Maniatis, diragukan tampil lantaran cedera lutut. Tidak ada pemain yang suspended dari kedua tim. Selebihnya, mereka akan diperpekuat dengan kekuatan penuh. (via:olympiacos.org)

Salah satu yang perlu diwaspadai adalah Cambiasso. Pemain yang pernah mengangkat trofi UCL bersama Inter di tahun 2010 ini, diyakini menjadi ancaman bagi lawan lantaran pengalamannya di UCL yang sudah di buktikan pada pertemuan pertama kedua kubu.

Dari segi form, mereka memuncaki klasemen di liga Yunani dengan 36 poin, unggul 10 poin dari pesaing terdekatnya yakni A.E.K Athens di posisi kedua. Di 5 laga terakhir di liga, mereka memperoleh 3 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kalah. Dan kekalahan terakhir itu, adalah terjadi di kandang pula dengan skor 0-2 oleh Veria. Apakah Arsenal bisa melakukan hal serupa? Time will tell.

Go Through or Déjà vu

Entah Déjà vu atau tidak, apabila Arsenal tersingkir lagi, berarti sudah 6 musim berturut-turut Arsenal tidak bisa lebih dari 16 besar. Bedanya, kali ini bakal lebih buruk lantaran harus pergi lebih dini di fase grup. Déjà Vu yang merupakan bahasa Perancis yang berarti "already seen" ini, selaras dengan Arsenal apabila ini kembali terjadi beberapa hari ke depan. Kembali lagi, 5 musim terakhir Arsenal hanya mentok di 16 besar yang lawan-lawannya yaitu Barcelona, AC Milan, Bayern Munich, Bayern Munich, dan AS Monaco. Keseluruhan pun, Arsenal tersingkir dengan aggregate maksimal 2 gol, yakni melawan Bayern Munich musim 2013/2014. Sisanya, Arsenal memberikan perlawanan sengit sampe peluit 180 menit dibunyikan.

Apapun itu, ada fakta menarik tentang Olympiakos. Meski Arsenal dalam 3 lawatan terakhirnya ke kandang Olympiacos selalu kalah, akan tetapi mereka selalu bertemu di laga terakhir yang dulu sudah tidak menentukan lagi untuk lolos. Otomatis, Wenger memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk unjuk gigi.
Selain itu, Olympiakos juga terkenal dengan menyia-menyiakan peluang melawan tim Inggris. Salah satu contoh adalah pada laga 16 besar dua musim lalu, ketika mereka bersua Manchester United. Mereka sempat unggul 2-0 di kandang pada leg pertama. Salah satu gol dicetak oleh pemain Arsenal yang dulu on-loan, Joel Campbell, melalui tendangan spektakuler jarak jauhnya. Namun, pada akhirnya, mereka tersingkir karena Manchester United berhasil membalik kedudukan 3-0 di leg kedua. Angan di pelupuk mata pun kandas dibuatnya.

So, Will Arsenal do the United then? Will Campbell be on the scoresheet again? Time will tell.

 

-Iman P Yudha-

Iman P. Yudha

Seorang mahasiswa dan juga seorang gooner sejak 2002. Menjadi anggota AIS sejak 2011. Yah, pokoknya, Come On You Gunners!

Website: https://twitter.com/iman_yudha
back to top