Menu

gonnersview banner

Mampukah 'The Inconceivable' Samai 'The Invincible'?

 

Arsenal adalah salah satu dari hanya 8 klub sepak bola di bumi ini yang punya pendapatan di atas 300 juta pounds. Tapi aktivitas Arsenal di jendela transfer musim panas kali ini tak mencerminkan keadaan finansial mereka. Arsenal adalah satu-satunya klub dari liga top Eropa yang tak membeli satu pun outfield player (pemain yang tidak memiliki batasan area khusus, sedangkan kiper disebut infield player). Hanya Petr Cech yang didatangkan The Gunners musim ini dari Chelsea dengan harga 10 juta pounds. Sebuah kebijakan yang tak bisa dipahami oleh hampir semua orang yang suka sepak bola terlebih melihat start Arsenal yang meragukan. Maka tak salah jika menyebut skuat Arsenal musim 2015/16 dengan sebutan "The Inconceivable".

Terakhir kali Arsenal menjuarai Premier League adalah pada musim 2003/04 dimana skuat mereka saat itu disebut dengan "The Invincible" karena tak sekali pun menderita kekalahan sepanjang musim di ajang liga. Musim ini dirasa banyak pihak adalah saat yang paling tepat bagi Arsenal untuk mengakhiri puasa gelar liga terlebih setelah keberhasilan mereka memenangkan FA Cup di 2 musim terakhir. Namun start yang jauh dari harapan serta tak ada penambahan kekuatan yang berarti membuat asa itu mengalami degradasi, bahkan bagi suporter Arsenal sendiri.

Klub-klub Premier League total mengeluarkan sekitar 870 juta pounds untuk belanja pemain dalam jendela transfer musim ini. Seperti yang kita semua tau bahwa Arsenal hanya mengeluarkan 10 juta pounds. Padahal jika memakai rumus rata-rata, idealnya The Gunners harus membelanjakan sekitar 43,5 juta pounds untuk belanja pemain. Cara kerja Apple yang tak menghiraukan "dunia luar" ketika membuat mahakarya tak cocok diterapkan dalam konteks ini. Manchester City mengeluarkan 160 juta pounds untuk Kevin De Bruyne, Raheem Sterling, Nicolas Otamendi, dan beberapa pemain lain. Manchester United mendapatkan Anthony Martial, Memphis Depay, Matteo Darmian, Bastian Schweinsteiger, dan Morgan Schneiderlin dengan uang hampir 140 juta pounds. Liverpool dan Chelsea juga menambah beberapa pemain di beberapa posisi penting. Meski keberhasilannya masih perlu dibuktikan serta adanya peluang untuk gagal, namun membeli pemain baru dapat mengangkat tim dalam banyak aspek.

Against the Clock
Meski persiapannya nampak tak sebagus para kompetitor, perlombaan tetap harus dijalani dan diselesaikan. Tapi bukan sekadar menjalani dan bermental "nothing to lose" melainkan harus memaksilkan segala yang dipunya. Satu-satunya keunggulan yang nampak dari Arsenal adalah skuat mereka sudah tak perlu banyak beradaptasi lagi satu sama lain karena mayoritas sudah bermain bersama selama 2 tahun bahkan lebih.

The Inconceivable vs The Invincible
Mari kembali lagi ke musim 2003/04 untuk mengingat bagaimana kekuatan skuat Invincible karena suka tidak suka skuat Arsenal itulah yang terakhir kali memenangkan gelar Premier League. Mempelajari bagaimana mereka menjalani musim yang panjang akan mendekatkan kepada trofi Premier League. Komparasi akan dilakukan dengan statistik di Premier League musim lalu (2014/15) karena dari segi komposisi pemain hanya di sektor penjaga gawang saja yang berbeda.

*Squad
Mengenai formasi nampak susah untuk diperbandingkan karena jarak waktu yang terlalu lama dan juga soal tipe pemain yang dimiliki berbeda. Satu hal yang bisa diperlajari adalah mengenai konsistensi dalam line-up. Dalam menjalani 38 pertandingan musim 2003/04 Arsene Wenger hanya menurunkan 22 pemain yang berbeda. Bahkan sebenarnya Wenger hanya fokus kepada 20 pemain karena Justin Hoyte dan David Bentley masing-masing hanya tampil sekali. Berbeda dengan musim lalu dimana ada 29 nama yang berbeda yang dimainkan di Premier League.
Terlepas adanya problem cedera, masalah utama Arsene Wenger dalam beberapa tahun terakhir adalah terlalu sering gonta-ganti pemain. Musim lalu untuk posisi kiper dan 4 pemain belakang, ada 11 nama yang dimainkan sedangkan skuat Invincible hanya 8. Dari 11 itu hanya Per Mertersacker, Laurent Koscielny, serta Nacho Monreal yang tampil di atas 19 kali (50% of max appearances) sedangkan dari 8 nama skuat Invincible ada 5.

**Left side
Saya pribadi melihat kesamaan The Inconceivable dengan skuat Invincible lalu adalah di sektor kiri. Wenger sering sekali menempatkan Mesut Ozil di sisi kiri. Alexis Sanchez juga sering mencari ruang di sektor kiri. Kekuatan Invincible sangat terlihat di left side. Kombinasi Robert Pires dan Ashley Cole ditambah Thierry Henry yang juga kerap melebar ke kiri membuat sisi kiri Arsenal kala itu mengerikan. Benar saja, 60% dari total gol serta 49% dari total assist berasal dari ketiganya.
Sama seperti Cole, peran Nacho Monreal sangat penting dalam formasi 4-2-3-1 Wenger saat ini. Meski tak bisa disebut pemain malas, harus diakui bahwa Mesut Ozil sering telat dalam track back ketika mendapat counter dari lawan. Alexis Sanchez juga kadang demikian. Maka tak mengherankan jika Monreal sekarang jadi pilihan utama Wenger karena kemampuan menyerang dan bertahannya lebih seimbang ketimbang Kieran Gibbs. Gibbs sering terlihat kewalahan jika kerap naik turun. Satu-satunya permasalahannya adalah seringnya crossing atau cut back dari Monreal yang disia-siakan. Saat melawan Newcastle United lalu terlihat sangat jelas permasalahan tersebut.

***Number 9
Pertanyaan terbesarnya adalah mengapa tak mengajukan tawaran ke QPR untuk Charlie Austin kalau ada masalah harga atau personal pada Karim Benzema serta Edison Cavani? Klasik.
Well, poin satu ini tidak bisa diperbandingkan apple to apple karena Anda harus punya Thierry Henry dulu. Sulit untuk mengatakan bukan one-man team saat Henry mencetak 30 dari total 73 gol Arsenal selama semusim. Tapi pada akhirnya seberapa baik konversi peluanglah yang menentukan. Musim lalu Chelsea menciptakan 7 peluang dan melakukan 47 shot lebih sedikit daripada Arsenal tapi bisa cetak 2 gol lebih banyak. Penyerang utama Arsenal, Olivier Giroud, hanya cetak 14 gol Premier League musim lalu, jumlah yang sama dengan torehan gol Robert Pires di musim 2003/04. Bau busuk yang sudah tercium selama beberapa tahun terakhir. Lalu, bagaimana mengatasinya saat sudah tak boleh lagi beli parfum di mini market?

Theo Walcott?
Layaknya Barry Allen dalam serial TV "The Flash", kelebihan Walcott hanya di kecepatan. Posisi penyerang tengah akan mendegradasi kemampuannya itu, kecuali saat berhadapan dengan lawan yang terapkan high defensive line.

Danny Welbeck?
Arsene Wenger tak akan mengeluarkan 16 juta pounds untuk pemain medioker. Welbeck adalah pemain paling underrated di Arsenal sekarang ini, bahkan di mata penggemarnya sendiri. Pemain yang menurut saya pribadi harus diberi apresiasi lebih. Andai Wenger sedikit meniru taktik Roy Hodgson dalam penempatan Welbeck, besar kemungkinan Giroud akan cetak lebih dari 20 gol di Premier League musim ini atau ia sendiri yang akan melakukannya. Tapi dengan catatan, Welbeck tak boleh sering-sering menemani Jack Wilshere di meja operasi.

Alexis Sanchez?
Thanks, Alexis.

 

Twitter : @atfanhidayat

Blog : notpolymath.wordpress.com

Pic: Goal.uk

back to top