Menu

gonnersview banner

Arsenal, being Arsenal

Arsene Wenger baru-baru ini mengatakan “we don’t listen to others”. Secara khusus ungkapan tersebut ditujukan kepada Jose Mourinho yang sempat berkomentar mengenai transfer Arsenal dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya Wenger juga menyangkal bahwa Arsenal akan memecahkan rekor transfer setelah direktur klub, Lord Harris, mengatakan bahwa The Gunners bisa membeli pemain manapun karena punya 200 juta pounds yang siap dibelanjakan. Wenger mengatakan bahwa hal itu tidak benar dan Harris terlalu berlebihan. Well, Wenger mungkin setuju dengan pernyataan Sir Alex Ferguson, “there’s no value in transfer market”. Wenger tidak akan melakukan apa yang dilakukan Manchester City untuk mendatangkan Raheem Sterling meski sebenarnya mampu. Tapi memang pada dasarnya Arsenal tetaplah Arsenal. Wenger is Wenger dan Arsenal is Arsenal.

Sebelum mendatangkan Mesut Ozil dari Real Madrid seharga 42,4 juta pounds pada September 2013 yang memecahkan rekor transfer klub, pembelian paling tinggi Arsenal hanya dalam kisaran 15 juta pounds atas nama Andrey Arshavin (2009), Alex Oxlade-Chamberlain (2011), dan Santi Cazorla (2012). Penambahan kata “hanya” pada kalimat tersebut sangat beralasan karena bagi klub yang selalu berpartisipasi di Liga Champions sejak 1998 nilai transfer Arsenal tergolong kecil. Tapi sekali lagi, begitulah Arsenal.

“Arsenal always try to play good football, always using tactics to play positive football, even on the bad days - Avram Grant.

The Arsenal Way
Apa yang disebut sebagai ‘Arsenal way’ sebenarnya adalah penyebutan terhadap gaya main Arsenal seperti halnya ‘Tiki-taka’ pada Barcelona dan ‘Total Football’ pada Ajax Amsterdam (dulu). Namun semakin ke sini interpretasi terhadap ‘Arsenal way’ sangat beragam mulai dari transfer policy, soal kebijakan finansial, sampai pengembangan pemain muda dan bukan hanya pada gaya bermainnya saja. Intinya adalah segala sesuatunya dilakukan dengan cara Arsenal sendiri.Sangat mudah menilai sebuah kebijakan yang dilakukan apakah sesuai dengan ‘Arsenal way’ atau tidak karena memang dalam hampir setiap aspek kegiatan klub sepak bola professional ada satu metode yang sudah diasosiakan sebagai caranya Arsenal. Memang ‘Arsenal way’ bukanlah sebuah dogma yang harus selalu dilakukan dan tak boleh dilanggar, tapi sangatlah mudah untuk mengidentifikasinya.

Style of Play
Jika dilihat dari cara mencetak gol saja, tak banyak klub yang diasosiasikan dengan metode tertentu. Dulu ada nama Graham Taylor dan sekarang Tony Pulis yang dianggap sebagai penganut setia gaya kick and rush yang mengandalkan fisik serta mencetak gol dengan lebih banyak dari sundulan kepala. Bagaimana dengan Arsenal? Sangat mudah mengenali cara The Gunners mencetak gol karena memang kerap kali dan terus dipraktekkan. Bahkan kalau boleh sedikit berlebihan kita bisa mendengar Peter Drury, Martin Tyler, atau Jon Champion mengatakan “typical Arsenal goal” di setiap akhir pekan.Diawali dengan umpan-umpan pendek antar pemain ke kanan dan ke kiri yang memanjakan mata sebelum akhirnya menjebol gawang lawan. Sesaat setelah Fulham kalah 0-2 dari Arsenal awal 2014 lalu, Rene Meulensteen juga mendeskripsikan gol pertama Santi Cazorla dengan kalimat “typical Arsenal goal”. Anda pernah mendengar kalimat “typical Chelsea goal”? Saya belum.

“Alot of passes in this move.. Fabregas.. And Nasri..! What a fantastic goal.. For Arsenal!.. Poise!, Patience! And then penetration!, An explosive second for the young frenchman!” - Martin Tyler

Itu adalah komentar Martin Tyler atas gol Samir Nasri ke gawang Manchester United November 2008 di Emirates Stadium. Setelah melakukan belasan passing tanpa tersentuh pemain Manchester United sedikitpun,Arsenal berhasil mencetak gol ke gawang Edwin van der Sar.Andy Gray bahkan menyebut pertandingan tersebut sebagai salah satu pertandingan terbaik dekade pertama abad 21. United yang berstatus sebagai juara Eropa saat itu kebingungan dengan pergerakan tanpa bola dan passing para pemain Arsenal. Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand sama-sama mengikuti arah lari Theo Walcott yang membuat Samir Nasri berdiri tanpa kalawan persis di depan kotak penalti United. Jonathan Wilson menyebut Arsenal asuhan Wenger adalah contoh paling baik bagaimana pergerakan tanpa bola bekerja yang juga diakui pembuat Zonal Marking, Michael Cox.

Sudah melekatnya gaya bermain dan cara mencetak gol Arsenal tersebut juga secara tidak langsung membuat permainan bola-bola pendek dianggap sebagai “milik” Arsenal. Gaya bermain Swansea City asuhan Brendan Rodgers musim 2011/2012 yang juga menekankan pada umpan-umpan pendek akhirnya juga dianggap meniru gaya Arsenal. Bahkan saat Swansea mengalahkan Arsenal 3-2 pada musim yang sama di Liberty Stadium banyak pundit yang mengatakan bahwa The Swans mengalahkan The Gunners dengan cara Arsenal. Gaya permainan Arsenal itulah yang akhirnya memunculkan sebutan ‘Arsenal way’. 

Mungkin penggemar Swansea akan marah membaca kalimat di atas yang menyatakan gaya bermain tim kegemarannya meniru Arsenal. Memang saat berbicara cara bermain, orisinalitas atau kepemilikan menjadi rancu karena sejatinya sebuah taktik akan mengalami evolusi dan mungkin saja ada penyempurnaan seiring berjalannya waktu. Bahkan penggunaan terminologi ‘Arsenal way’ sendiri juga sebenarnya agak rancu jika ditelaah.

Jika Arsenal sudah tidak dilatih Arsene Wenger dan digantikan oleh Gianfranco Zola misalnya, besar kemungkinan gaya bermain juga akan berubah tidak dengan bola-bola pendek seperti sekarang. Maka siapa pelatih klub pada akhirnya menentukan gaya seperti apa yang dipakai. Maka dari itu istilah ‘Arsenal way’ menjadi kurang tepat. Maka akan lebih benar menyebut gaya bermain Arsenal di hampir dua dekade terakhir dengan sebutan Wengerball.

Transfer Policy
Hector Bellerin sempat mengatakan bahwa rata-rata fans Arsenal suka terhadap kebijakan transfer Arsene Wenger. Memang agak sedikit bias karena Bellerin berdiri di sepatu pemain bukan di sepatu fans, namun pernyataannya itu juga tak salah sebenarnya. Lebih memilih mendatangkan pemain belasan tahun untuk dilatih di akademi seperti Cecs Fabregas, atau membeli pemain berkualitas tapi dengan harga murah seperti Santi Cazorla. Sudah terlalu banyak contoh mengenai magis Wenger dalam urusan satu ini. Nicolas Anelka dibeli Arsenal pada Februari 1997 dengan harga 500 ribu pounds. Hanya butuh 2 setengah tahun setelah itu untuk membuat Real Madrid membayar 46 kali lipat kepada Arsenal daripada jumlah yang harus dibayarkan The Gunners kepada Paris Saint-Germain guna membeli Anelka. Tak lama setelah Anelka pergi, Wenger membeli Thierry Henry yang disia-siakan Juventus dengan harga hanya 3,5 juta pounds. Kemudian tahun 2012 lalu bisa mendapatkan Cazorla dengan harga belasan juta pounds saja. Secara kualitas harusnya pemain timnas Spanyol itu dihargai jauh lebih mahal. Bahkan sebenarnya dalam kontraknya terdapat klausul transfer minimal sebesar 45 juta Euro. Tapi kecerdikan Arsenal memanfaatkan “bingungnya” keadaan finansial Malaga membuat Cazorla mendarat di London Utara.

Rata-rata klub besar kurang memberi tempat bagi para pemain muda dan lebih nyaman menggunakan pemain yang sudah matang. Namun catatan sejarah menyatakan bahwa Arsenal memiliki sikap yang sedikit berbeda. Nicolas Anelka, Ashley Cole, Gael Clichy, Cesc Fabregas, Jack Wilshere, Aaron Ramsey adalah beberapa nama yang mendapat nikmat dari kebijakan Arsenal tersebut, termasuk Hector Bellerin dan Francis Coquelin. Meskipun begitu Arsene Wenger juga tak sembarangan memilih pemain muda. Sebelum membeli Patrick Vieira dan Mathieu Flamini misalnya, Wenger mempelajari statistik keduanya terlebih dahulu. Dengan ketelitian Wenger akan hal-hal detail seperti itu maka tak mengherankan jika media Inggris menjulukinya ‘the professor’.

Kembali kepada premis awal bahwa Arsenal melakukan segala sesuatunya dengan caranya sendiri. Tapi meskipun begitu cara Arsenal tidak bisa juga dikatakan lebih baik ketimbang cara yang dilakukan oleh klub lain. Pada dasarnya tidak ada satu cara yang lebih baik daripada cara yang lainnya, bergantung pada masing-masing klub. Mengenai cara main misalnya, apakah cara Arsenal sekarang lebih baik ketimbang gaya bermain Chelsea-nya Jose Mourinho? Apakah Tiki-taka era Luis Enrique lebih enak dilihat ketimbang ‘Wengerball’? Kembali lagi, tak ada satu cara yang lebih baik ketimbang yang lainnya. Tujuan utama sepak bola adalah menang dan itu tidak bisa diperdebatkan. Total Football, Tiki-taka, Wengerball, atau bahkan parkir bus-nya Jose Mourinho hanyalah sebuah cara. Semua cara tersebut muaranya tetap sama: kemenangan. Tidak ada cara yang salah dan yang lebih baik. Namun akan sangat menyenangkan jika memakai cara serta filosofi sendiri, tak ikut-ikutan pragmatis di tengah gelombang pragmatisme seperti sekarang.

Twitter : @atfanhidayat
Blog : notpolymath.wordpress.com

back to top