Menu

gonnersview banner

Forsythe 'The Forte'

Sebuah tulisan sebagai bentuk apresiasi terhadap kepala tim fitness Arsenal, Shad Forsythe.

The Forte
Bukan untuk promosi, apalagi untuk endorse. Namun, apakah anda asing dengan obat yang berjudul "SanaFlu Forte" atau bahkan "Neozep Forte" yang berfungsi sebagai obat bagi penderita influenza itu? Yap, benar. Obat yang lumayan laku keras di Indonesia tersebut, merupakan salah satu obat yang terampuh dalam membasmi penyakit tertentu.
Akan tetapi, yang menjadi concern kali ini, adalah Forte-nya. Sebenarnya apa sih kata-kata Forte yang tersematkan dalam "SanaFlu Forte" dan "Neozep Forte" itu? Forte merupakan bahasa Italia yang mana jika di-Indonesia-kan menjadi 'kuat' atau 'cepat'.
Namun, kata-kata Forte mendapat tempat lain di dunia medis. Kata-kata Forte kerap disematkan pada obat-obatan yang mana dalam hal ini berarti dikalikan. (via: mediacal-era.com) Apanya yang dikalikan? Kekuatan dosisnya. Terbukti dengan adanya SanaFlu dan SanaFlu Forte. SanaFlu Forte kerap kali menjadi pilihan ketimbang yang lain dimana dapat mengatasi situasi tak terhankan sekaligus. Sehingga, obat ini pun dicap sebagai obat paten karenanya.

Lantas?
Sejak November 2005, dalam sesi latihan penuh, Arsenal tidak pernah secara lengkap dihadiri oleh tim seniornya dengan utuh. (via: @__arsenal_news_ ) Pasti ada saja setidaknya 1-2 pemain yang absen dalam sesi latihan. Entah itu cedera ringan maupun sampai mereka yang naik meja operasi. Tak pelak, Arsenal pun kadang-kadang disebut-sebut sebagai tim pesakitan.

Contoh sahih tergambar dari perjalanan karir seorang Abou Diaby. Pemain asal Perancis yang direkrut Arsenal tahun 2006 itu, pernah mengalami tragedi pahit. Ankle-nya dihantam oleh Dan Smith melalui tekel kerasnya dalam laga Sunderland vs Arsenal beberapa laga sebelum kompetisi liga 2005/2006 berakhir. Sejak itu, Diaby hingga kini tak pernah lagi sama. Cedera kerap menerpa yang membuat karirnya pada akhirnya tak berjalan sebagaimana laiknya seorang pemain sepakbola.

Berbagai spekulasi pun muncul ke permukaan. Apakah The Gunners – Julukan Arsenal – benar-benar tim pesakitan? Apakah ada yang salah dengan metode latihan? Apakah ada yang salah dengan Apakah klub Apakah klub ini belum dan/atau butuh akan di-Ruqiyah atau di-Baptist karenanya?
Shad Forsythe

Akan tetapi, semua itu seakan-akan berubah semenjak kedatangan Shad Forsythe. Pertanyaan awal yang muncul: Shad Who? Adalah seorang pria yang lahir di Wenatchee, USA, 8 Juni, 1973. Ia pernah menjabat sebagai staff medis di tim nasional Jerman selama 10 tahun. Sebelum itu, ia juga pernah berkecimpung pada US Olympic Training Centre in San Diego. (via: arsenal.com) Tak heran, Arsenal kepincut memboyongnya pada Juli 2014 untuk meminimalisasi badai cedera yang terjadi dalam tubuh klub.

Ia memberi bukti bukan janji. Sejak kedatangannya, belum pernah terdengar ia berbicara di media setidaknya mengenai kepindahannya ke Arsenal. Akan tetapi, diam-diam, ia menjelma menjadi sebuah obat 'Forte' mujarab bagi klub. 3 April 2015 adalah hari langka nan bersejarah bagi Arsenal Football Club dimana seluruh pemainnya terlibat dalam latihan penuh sejak 2005.

Memang, terlalu mengagung-agungkan apabila perubahan tersebut ditujukan hanya kepada satu orang. Terkesan subjektif lantaran banyak pertimbangan lain semisal cara bermain. Buktinya, di paruh awal musim, Arsenal sempat ditinggal Giroud, Oezil, dan Ramsey selama tiga bulan. Sungguh disayangkan dimana mereka bertiga merupakan pemain vital klub pada musim 2013/2014.

Akan tetapi, sepakbola adalah olahraga kolektif. Semua saling bahu-membahu demi sebuah kemapanan. Pun demikian Forsythe yang bertindak sebagai kepala fitness klub. Kepala fitness setidaknya memberi arahan bahkan instruksi apa yang mesti diabaikan dalam latihan. Sosok yang hilang sejak 2005.

Salah satu kicauan Oezil – pernah bekerja sama dengan Shad Forsythe di timnas Jerman – berikut, mengawali semuanya:

PSX 20150405 155455

Atas itu, jelas bahwa Forsythe bukanlah orang sembarangan. Apa yang dilakukannya 10 tahun ke belakang bagi timnas Jerman, bukanlah buruk. Dalam segi prestasi, timnas Jerman adalah konsisten di level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Juara Piala Dunia 2014, Semifinalis Euro 2012, Semifinalis Piala Dunia 2010, Finalis Euro 2008, Semifinalis Piala Dunia 2006.

Di sisi lain, bahkan pemain yang berlabel injury-prone, Abou Diaby, pun pada akhirnya dapat mengikuti sesi latihan penuh bersama rekannya yang lain karenanya. Sempat hanya sekali tampil di musim ini kala Arsenal menjamu Southampton di Piala Liga. Sejak itu, Diaby belum pernah lagi bermain laga resmi hingga kini. Bagaimanapun, sungguh nahas.

Harapan baru muncul seiring Wenger – pelatih Arsenal – sempat berujar bahwa Diaby akan diperpanjang kontraknya. Bukan tanpa alasan. Dengan utuh kembalinya setiap pemain dan menyisakan beberapa laga, perlu adanya analisa progress week after week. Apabila secara konsisten semua (termasuk Diaby) tidak ada yang cedera hingga akhir musim dengan kebijakan rotasi yang relevan, bukan tidak mungkin ia akan diperpanjang kontraknya.

Terlepas itu, apabila hal itu benar-benar akan terjadi, the signing of the season is not Alexis, but Shad Forsythe. Ia adalah obat mujarab yang selama ini dicari-cari. Ibarat pengatrolan dosis sempurna hingga mencapai titik maksimum. Pun menisbikan kondisi psikis dan mental para pemain. Sesuatu yang hilang itu seolah-olah hadir kembali. Bukan herbal, bukan generik. Melainkan Forsythe 'The Forte'.

Iman P. Yudha

Seorang mahasiswa dan juga seorang gooner sejak 2002. Menjadi anggota AIS sejak 2011. Yah, pokoknya, Come On You Gunners!

Website: https://twitter.com/iman_yudha
back to top