Menu

gonnersview banner

Kudos, El BúhÖ

Sebuah tulisan sebagai wujud apresiasi dan kinerja seorang Mesut Ozil.

Lagi dan lagi. Arsenal terpaksa harus tersingkir dari kompetisi paling akbar se-daratan Eropa, UEFA Champions League. Pasalnya, Arsenal harus mengakui keunggulan lawan, AS Monaco, yang unggul dalam agresifitas gol tandang meski agregat berakhir sama kuat 3-3.

Pasca "kekalahan" tersebut, seperti biasa fan terbagi dalam dua kubu. WOB vs AKB (you know lah maksudnya). Perdebatan tersebut kerap kali terjadi apabila Arsenal kalah dalam sebuah pertandingan. Namun, kali ini beda cerita. Kambing hitam baru seolah-olah muncul. Ia bernama Mesut Özil.

Santer terdengar bahwa Özil mendapat perlakuan seperti itu sejak musim lalu. Tepatnya, semenjak Arsenal kalah oleh Liverpool 5-1 di Anfield. Kala itu, memang Özil tidak bermain dengan apik. Pada kesempatan itu juga, ia menjadi starter namun cepat-cepat dibangku-cadangkan lantaran performa yang dibawah standar. Masih inget betul ia acap kali jatuh dengan mudahnya, passing yang jarang terarah. Menggambarkan betapa buruknya performa Özil kala itu.

Atas itu, media memulai aksinya. Özil lambat-laun dicap sebagai kambing hitam terkhusus oleh media. Özil kerap kali dicap pemalas, tidak cocok dengan permainan kick & rush EPL, dan FLOP karena mulai jarang mencatatkan sejumlah assist dan goal. Bukan menyudutkan media sebagai biang kerok permasalahan, akan tetapi, sayangnya hal tersebut meng-konstruk pemikiran bahkan pundit-pundit asli Inggris khususnya. Ironis emang.

Paul Scholes – mantan pemain Manchester United yang kini menjadi salah seorang pundit sepakbola di Inggris – adalah salah satu diantaranya. Baru-baru ini, seperti dilansir GOAL, ia berkata," Özil isn't even trying at Arsenal". Pada kesempatan lain, Arsene Wenger – pelatih Arsenal – merespon pernyataan tersebut dengan berkata, "Scholes would love to play with Mesut Özil."

Paragraf sebelum ini mencerminkan adanya bukti bahwa beberapa pundit mungkin ter-konstruk oleh media. Kenapa mungkin? Karena di saat bersamaan, masih ada media yang secara tidak langsung, menghargai perjuangan seorang Mesut Özil. Media berbasis stats, menunjukkan bahwa kemampuan berlari Özil, ternyata lebih jauh dan lebih baik ketimbang pemain lainnya yang ada di lapangan. Via @squawka

Fakta tersebut menurut sebagian besar kalangan adalah mengejutkan. Kenapa? Karena seorang Mesut Özil yang di kepala mereka dicap pemalas, secara tiba-tiba berubah 180 derajat. Lucunya, mereka terkadang bersikukuh dengan argumen awal mereka tanpa sebab yang jelas. Sehingga, munculnya tagar #ÖzilOut tak bisa dihindari karenanya.

Bukan hanya itu, ratio assist dan goal Özil pun menjadi penyebab lain munculnya tagar #ÖzilOut. Jika dibandingkan dengan Fabregas – mantan pemain Arsenal yang kini merumput bersama Chelsea – memang kalah bersaing. Namun, di EPL, dalam ratio assist/minute, Özil tepat di bawah Fabregas hanya karena juga dihitung semenjak Fabregas di Arsenal. Via @opta_joe

Bukan tanpa alasan hal itu begitu significant. Ingatkah bahwa Özil terpaksa menepi selama 3 bulan lantaran cedera? Kala itu, Arsenal tak hanya kehilangan assist-nya Özil, Arsenal juga kehilangan sosok penyeimbang di lini tengah. Memang, terkadang Özil di-plot di posisi sayap dalam beberapa kesempatan. Namun, perlu diingat juga bahwa sisi sayap dan gelandang Arsenal adalah mobile. Mobile yang dimaksud adalah pergerakan "Wengerball" memicu agar lini sayap dan gelandang tidak stagnant. Sehingga, Arsenal dengan leluasa menyarangkan bola ke gawang lawan via CF (Center Forward) maupun via second line, in the final third (box depan mulut gawang).

Tak heran berbagai hasil buruk diperoleh dalam tenggat waktu Özil mengalami cedera. Arsenal mau tidak mau beradaptasi terhadap cara mainnya Alexis. Mantan penggawa Barcelona itu, menjadi tulang punggung Arsenal selama paruh awal musim. Untungnya, Alexis tidak mengalami cedera dalam jangka waktu yang sama dengan Özil.

Akan tetapi, pasca pulihnya Özil, Alexis mesti bergegas beradaptasi dengan gaya mainnya Özil. Kenapa? Ingatkah Arsenal musim lalu berada di 'pucuk' dalam jangka waktu yang lama sebelum badai cedera menghampiri? Hal yang menjadi concern di sini bukan cederanya (karena sesungguhnya tubuh seseorang adalah karunia Tuhan), melainkan cara bermain Özil yang terbukti lebih menunjukkan sebuah ke-konsisten-an dibandingkan cara bermain Alexis.

El BúhÖ

El Buho adalah Bahasa Spanyol yang apabila di-Indonesia-kan "Burung Hantu". Mesut Özil dijuluki demikian karena kondisi fisiknya, terutama di bagian wajah, yang hampir menyerupai burung hantu. Terkhusus pada bagian matanya, yang begitu menonjol sehingga semakin menguatkan akan julukan tersebut.

Erm. Hmm. Bukan, bukan. Hanya intermezzo belaka. Alasan kenapa ia dijuluki demikian adalah masalah "visi". Lengkapnya sbb:

Burung hantu terlihat lebih garang di malam hari. Bukan tanpa sebab. Mereka berburu mangsa untuk dimakan dalam tenggat waktu tersebut laiknya kelelawar. Bedanya, kelelawar sama sekali tak dapat berada di siang hari.

Laiknya Özil, pertandingan tandang melawan AS Monaco silam, adalah the best performance of the season so far. Dan uniknya, laga tersebut dihelat di malam hari. Memang, Özil tak menciptakan assist maupun gol. Akan tetapi, gol kedua tercipta karena key-passes Özil kepada Monreal, yang secara jelih dengan visinya, melihat ruang kosong di sisi kanan gawang AS Monaco.

Burung hantu memiliki ekolokasi. Ekolokasi adalah istilah dalam biologi yang berarti kemampuan mendengarkan pantulan bunyi dari objek-objek disekitar. Sehingga, dapat mengidentifikasi keberadaan objek tersebut dengan bantuan gema.

Pun demikian Özil. Mungkin sedikit lebay apabila menilai Özil memiliki indera ke enam. Namun, harus diakui, Özil adalah pemain spesial. Visi dan kepekaannya dalam bermain terkadang tak bisa dipahami oleh sembarang orang. Contoh simpel adalah gol pembuka Arsenal vs Manchester United beberapa pekan silam. Sebenarnya Özil punya ruang tembak yang sangat bebas di luar kotak penalty. Namun, ia malah memberikannya kepada Chamberlain untuk memancing Smalling – Bek Manchester United – untuk keluar dari sarangnya. Saat itu kebetulan Man United bermain dengan formasi 3 bek. Sehingga, Monreal yang tanpa sadar berdiri bebas dalam posisi on-side, mendapat assist dari Chamberlain dan mencetak gol dengan leluasa.

Sebagai tambahan, video berikut adalah penampilan cemerlang Mesut Özil vs Monaco:

https://www.youtube.com/watch?v=FrfvZjiQTh4

Via @darvin91bg

Kudos

Pujian layak dijunjung setinggi langit terhadap pemain satu ini. Kenapa? Bukan hanya karena kontribusinya yang tak terduga dalam tim, namun juga ia memang pantas mendapatkannya. The greatest day ever about history of Arsenal FC is not when we went to Invincibles, but at the day when we signed Mesut Özil.

Malam itu, jujur semua orang tercengang, terhenyak, bahkan mungkin terkesima akan kedatangannya ke Arsenal. Bukan hanya memecah rekor transfer klub dengan mahar £42m, namun juga itu terjadi beberapa menit sebelum #DeadlineDay ditutup. Sehari setelah menang atas Sp*rs di kandang. Otomatis Özil tak mengikuti full pre-season tour 2 musim beruntun (yang musim berikutnya karena jatah dispensasi Juara World Cup).

Sontak, Özil dikait-kaitkan dengan legenda Arsenal asal Belanda, Dennis Bergkamp. Mantan pemain Inter itu, juga menjadi rekor transfer di eranya. Visinya dalam bermain pun sangat mirip dengan Özil. Jalan hidupnya yang sering digunjing oleh media sebagai flop pun demikan samanya. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah Özil bisa menjadi legenda seperti Bergkamp atau tidak.

Last but not least

Mari kita terus puji dan dukung kiprahnya dalam berkarir di bawah panji Arsenal khususnya. Sudah terlalu banyak kritik yang dipikulnya. Sungguh tidak manusiawi jika terus membebani seseorang dengan bertubi-tubi. Kritik membangun, bukan kritik yang makin terpuruk.

Orang beranggapan Özil adalah cuek, pemalas, dan tidak peduli. Gambar berikut cukup menjelaskan betapa hancurnya dia yang kembali belum berhasil membawa timnya ke 8 besar Champions League.IMG 20150319 125835

Akhir kata. Kudos, El BuhÖ.

Last modified onThursday, 19 March 2015 18:31
Iman P. Yudha

Seorang mahasiswa dan juga seorang gooner sejak 2002. Menjadi anggota AIS sejak 2011. Yah, pokoknya, Come On You Gunners!

Website: https://twitter.com/iman_yudha
back to top