Menu

gonnersview banner

The False Nine - Mitos 'Beauty and The Beast' Berlanjut

Alkisah di suatu tempat terdapat seorang pria yang kaya raya nan dermawan. Ia memiliki segalanya untuk menggapai ambisi. Hingga pada suatu ketika semuanya seketika berubah 180 derajat. Ia tersulut api amarah yang menjadi boomerang tersendiri baginya.

Adalah seorang wanita tua renta yang menjadi mimpi buruk bagi pria kaya raya tersebut. Wanita tersebut tak lain tak bukan adalah seorang peri yang menyamar. Ia telah menerima segala bentuk pelampiasan api amarah dari pria yang kaya raya itu. Begitu menyakitkan pastinya.

Nasi telah menjadi bubur. Si Peri tanpa basa-basi melayangkan kutukan kepada Si Pria. Si Pria yang sedari awal terlahir tampan, justru menjadi seorang buruk-rupa (re: Beast) pasca menelan kutukan dari Si Peri. Pada akhirnya, Beast kabur dari singgasana dan istananya setelah mendapati hal semacam itu menerpa dirinya.

Kendati demikian, kutukan tersebut tidaklah permanen. Selagi Beast berhasil mendapatkan cinta dari seorang wanita dalam rentang waktu tertentu, maka kutukan tersebut akan sendirinya hilang dari peredaran. Itu adalah tebusan untuk menghilangkan kutukan tersebut.

Hingga pada akhirnya suatu ketika, Beast menemukan seorang gadis desa. Si Gadis adalah cinta sejatinya. Namun  berjalan alot lantaran ayahnya yang sakit dan juga keberadaan pihak ketiga.

Pada akhirnya, kisah ini berujung happy ending. Ayah dari Si Gadis sembuh dari sakit, Beast dan Si Gadis menjalin cinta sehingga kutukan tersebut hilang sendirinya, dan Si Pihak Ketiga hanya menonton pasangan itu berdansa.

Kurang lebih seperti itu.

(via: cerita Beauty and The Beast)

So what?

Pasca kepindahan Lukas Podolski ke Inter dengan status pinjaman, semua tertuju pada satu fenomena. Betapa angkernya nomor punggung 9 adalah fenomenanya. Buktinya, web sebelah yang berbasis pundit bola telah menjelaskan dengan rinci nomor punggung 9 di Arsenal. Khususnya, semenjak Wenger mengambil-alih kursi kepelatihan Arsenal. Namun, tulisan saya kali ini berbeda dari mereka.

Memang, hal semacam itu perlu dicermati. Sejatinya, nomor punggung 9 di suatu klub  adalah icon. Tak hanya itu, nomor punggung 9 pun sejatinya dikenakan oleh para bomber yang produktif mencetak gol bagi timnya. Sebut saja Fernando Torres saat berbaju Liverpool, Robert Lewandowski baru-baru ini, hingga legenda macam Ronaldo da Lima yang melekat dengan nomor tersebut.

Tak  jarang pula kita melihat bahwa klub-klub besar memiliki nomor kutukan seperti apa yang dialami oleh Arsenal. Ambil contoh AC Milan. AC Milan juga memiliki problem serupa dimana nomor punggungnya dirasa terdapat kutukan di dalamnya. Akan tetapi, bukanlah nomor punggung 9, melainkan nomor punggung 11 yang menjadi kutukannya.

Beauty

Di balik angka keramat yang diyakini sebagai kutukan, terdapat angka keramat yang diyakini sebagai anugrah. Satu contoh yang dapat dipetik adalah Real Madrid dengan nomor punggung 7 nya. Sempat dikenakan oleh Raul Gonzales, yang merupakan legenda sekaligus kapten klub di eranya. Sekarang bertuan kepada  Cristiano Ronaldo, pemain terbaik dunia edisi sebelumnya yang telah menyabetnya sebanyak dua kali.

Pun demikian Arsenal. Disadari atau tidak, klub yang satu ini, terdapat nomor yang memiliki anugrah sehingga diwariskan turun-temurun. Uniknya, bukan nomor punggung 11 maupun 7, melainkan nomor punggung 3.

Nomor tersebut disematkan kepada mereka yang merupakan bek-bek tangguh di eranya. Terkhusus di era Wenger, nomor tersebut pernah dikenakan oleh beberapa macam pemain. Mereka yaitu: Winterburn, Cole, Sagna, dan Gibbs.

Berdasar nama-nama tersebut, tak heran perlunya mengapreasi bahwa nomor punggung 3 di Arsenal adalah sebuah anugrah. Satu contoh dari itu dapat kita lihat dari Sagna. Sagna, yang kini berseragam Manchester City, sempat dijuluki Mr. Consistent. Bagaimana tidak, sepanjang musim ia selalu tampil dalam performa terbaiknya meski kerap kali dilanda cedera. Walaupun hanya mempersembahkan satu trofi, FA Cup musim lalu, tak serta-merta ia dicap pemain gagal. Versatility-nya di berbagai posisi merupakan salah satu nilai tambah tersendiri yang membuatnya pantas mengenakan nomor punggung 3.

The Beast

Pun sebaliknya. Seperti yang dijelaskan di awal, nomor punggung 9 Arsenal dirasa-rasa memiliki kutukan yang berbau JINX. Praktis saja, pemain-pemain macam Anelka, Suker, Jeffers, Reyes, Baptista, Eduardo, Park, bahkan pemain sekaliber Podolski pernah memiliki riwayat mengenakan nomor punggung keramat itu. Padahal, sebelum Wenger melatih Arsenal, terdapat Paul Merson yang notabene sukses di kala mengenakan nomor tersebut. Lantas, Wenger kah kutukan itu?

Apabila lebih cermat lagi, bukan hanya nomor 9 yang berbau JINX di Arsenal. Ada satu nomor punggung lagi yang dirasa serupa. Yakni nomor punggung 18. Nomor tersebut pernah dipakai pemain-pemain macam Grimandi, Cygan, Silvestre, Squillaci, dan yang terbaru Monreal.

Pemain-pemain tersebut semasa karirnya di Arsenal, terbilang flop. Bagaimana tidak, tiap kali mereka bertanding di sebuah laga, mereka tak jarang membuat error yang berujung kepada bobolnya gawang Arsenal. Inkonsisten dalam bertanding juga merupakan salah satu indikator mengapa masuk di kategori The Beast. Namun, terlalu dini menyematkan Monreal dalam kandidat mengingat baru beberapa bulan saja ia mengenakan nomor tersebut. Terlebih, penampilannya juga tidak terlalu mencolok sebagai flop.

Mitos yang Berlanjut

Hingga kini, mitos Beauty and The Beast itu masih melekat erat di Arsenal. Entah siapa yang begitu tega mengutuk klub ini hingga sebegitu mirisnya. Tak hanya itu saja, JINX cedera pun tak henti-hentinya melanda klub. Tercatat tiap pekan Arsenal kehilangan setidaknya tiga pemain lantaran cedera. Terkadang saya memikirkan bahwa klub ini perlu di Ruqyah atau di Baptist lantaran berbagai macam kesialan yang terjadi silih-berganti.

The False Nine

Dalam cerita Beauty and The Beast itu, berujung happy ending dimana kutukan tersebut berhasil diatasi. Saya pun menaruh harapan yang sama dengan Arsenal. Terbukti JINX semacam trophy-drought, never beat big club, dan doesn’t splash the cash nyatanya masih bisa diatasi.

Pertanyaan baru pun muncul, apa yang mesti dilakukan menghilangkan kutukan tersebut? Memensiunkan nomor punggung 9? Sungguh naïf apabila hal itu akhirnya benar-benar dilakukan.

Intinya, tidak perlu percaya akan keberadaan mitos. Boleh percaya namun sematkan hibriditas di dalamnya. Penting mengingat kita tidak terlalu meyakini hal tersebut.

Pada akhirnya, nomor punggung 9 di Arsenal meluluh dikambing hitamkan. The False Nine pun berlaku di Arsenal karenanya. Bukan berdasar konotatif yang mana The False Nine adalah strategi dalam sepakbola, melainkan berdasar denotative yang mana The False Nine adalah nomor punggung 9 di Arsenal merupakan sebuah kesalahan.

 

- Iman Patria Yudha -

( This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.  )

Iman P. Yudha

Seorang mahasiswa dan juga seorang gooner sejak 2002. Menjadi anggota AIS sejak 2011. Yah, pokoknya, Come On You Gunners!

Website: https://twitter.com/iman_yudha
back to top