Menu

gonnersview banner

Arsenal 0-2 Bayern München: Durian Runtuh untuk Pep dari Boateng

Keterangan tentang action zones yang dikeluarkan oleh situs Whoscored mengenai pertandingan melawan juara bertahan Liga Champions, Bayern München, memperjelas ketimpangan yang terjadi di Emirates Stadium dini hari tadi. Hanya 17% aktivitas permainan terjadi di sepertiga lapangan terjauh dari gawang Arsenal. Sisanya, bola lebih banyak bergulir di daerah pertahanan Arsenal dan daerah sekitar lingkaran tengah lapangan.

Tanpa bermaksud mengeluh atau menyalahkan pihak lain, namun jelas sekali bahwa keputusan wasit untuk mengganjar Wojciech Szczęsny dengan kartu merah untuk benturannya dengan sang penentu kemenangan Bayern di Wembley Stadium –Arjen Robben– telah mengubah peruntungan Arsenal di pertandingan tersebut. Arsenal yang bermain dengan penampilan yang meyakinkan di awal pertandingan, boleh dikatakan membuat tim tamu yang sangat superior di Bundesliga merasa tertekan. Bahkan Yaya Sanogo yang dipercaya menggantikan peran Olivier Giroud bermain dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Arsène Wenger sendiri tampaknya sulit untuk tak menyesali keputusan yang diuat oleh sang pengadil yang kemampuannya untuk memimpin pertandingan besar tak perlu diragukan. Nicola Rizzoli, sebagaimana kita tahu, adalah wasit utama yang memimpin pertandingan final Liga Champions musim lalu. Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Bayern atas Borussia Dortmund.

"I think these rules are different in every country, basically, in Italy they send off for this kind of foul. I think our keeper went genuinely for the ball, he touched Robben, who made certainly more of it, and I told him. Unfortunately it changed the game completely and didn't just change the game but killed the game. The game was, until then, top quality, and in the second half it was boring for neutral people. It was one-way traffic. The referee made the decision that killed the game."

Sial bagi Arsenal, Rizzoli berasal dari negara yang menganggap benturan antara Szczęsny dan Robben adalah sebuah pelanggaran. Tanpa ragu pengadil asal Modena itu mengeluarkan kartu merah untuk aksi Woj yang menggagalkan clear goalscoring opportunity. Szczęsny jelas sekali terlihat kesal atas kartu merah yang ia terima. Ia tahu benar apa arti professional foul dan apa saja yang termasuk aksi menggagalkan clear goalscoring opportunity. Apa yang ia lakukan di menit ke-68 di pertandinan pembuka Piala Eropa 2010 antara Polandia dan Yunani jelas berbeda dengan apa yang ia lakukan terhadap Robben. Itulah mengapa kengganan Szczęsny untuk meninggalkan lapangan atas perintah Carlos Velasco Carballo lebih mampu ia atasi ketimbang keputusan Rizzoli.

Szczesny red card

Bermain dengan sepuluh orang setelah Szczęsny diusir dari lapangan, dengan mengorbankan Santi Cazorla agar gawang tetap terisi dengan kehadiran Łukasz Fabiański bukanlah satu-satunya petaka yang dihadapi oleh Arsenal. Ada permasalahan lain bernama Ignacio Monreal Eraso. Nacho Monreal. Sosok yang arguably juga merupakan alasan terjadinya benturan antara Szczęsny dan Robben.

Masuk setelah Kieran Gibbs tak mampu melanjutkan pertandingan setelah menerima tebasan Jérôme Boateng, Monreal jelas tidak siap. Tanpa pemanasan yang cukup, memang sulit untuk bermain sangat baik. Mampu bermain baik saja sudah hebat. Tanpa pemanasan yang cukup, Monreal belum mampu menyelaraskan pikiran dan raganya di level permainan setinggi pertandingan dini hari tadi. Alhasil, Robben yang harusnya berhasil ia batasi pergerakannya mampu menempatkan diri lebih dekat kepada gawang Arsenal dibanding para outfield players. Saat itulah petaka terjadi.

Tak cukup sampai di situ, sisi kiri pertahanan the Gunners selalu menjadi celah untuk para pemain Die Rotten yang tidak tampil dengan warna merah di Emirates Stadium.

Statistik yang juga disajikan oleh Whoscored menunjukkan bahwa serangan Bayern dari sisi kanan tercatat mencapai angka 23%, jauh melebihi serangan dari sayap kiri yang berjumlah 12% saja. Wilayah yang harusnya menjadi daerah kekuasaan Monreal itu digempur habis-habisan oleh barisan penyerang juara bertahan Bundesliga. Monreal berkali-kali terlihat kewalahan meladeni Robben dan Philipp Lahm.

Bahkan, kedua gol Bayern, walaupun tercatat hadir dari sisi tengah serangan mereka, hadir sebagai buah dari assists yang dikreasikan oleh Lahm yang melakukan pergerakan di sayap kiri garis pertahanan Arsenal. Pep Guardiola tampaknya tahu benar bahwa Arsenal menderita ketimpangan di titik tersebut dan meminta anak-anak asuhnya menerobos lewat celah yang tercipta dengan hilangnya Gibbs.

Pep, yang dalam konferensi pers prapertandingan merasa bahwa pasukannya akan menghadapi pertandingan yang sulit di London Utara, bak mendapatkan durian runtuh.

"I learned that you can never dominate Arsenal for 90 minutes. You can dominate for 30 minutes, to half-time, for 75 minutes, but for 90 minutes it is impossible. If you look at Arsenal, with these quality players, you always have a problem."

Melawan sepuluh pemain Arsenal, tugas pasukan Pep menjadi mudah. Arsenal yang dikenal memiliki penguasaan bola yang baik, terus dipaksa bermain tanpa bola. Arsenal yang sepanjang musim ini memiliki rataan penguasaan bola sebanyak 57%, secara keseluruhan hanya menguasai bola selama 18,9 menit saja. Arsenal hanya berhasil melepaskan 248 operan sementara Bayern mampu melakukan hal yang sama sebanyak 912 kali. Tiga pelaku operan terbanyak adalah Toni Kroos (152), Lahm (123), dan Thiago Alcántara (102). Fakta bahwa jumlah operan Kroos dan Lahm saja lebih banyak dari gabungan jumlah operan empat belas pemain Arsenal jelas menegaskan superioritas Bayern.

Untuk itulah, rasanya Pep perlu berterima kasih kepada Boateng. Tanpa Boateng, mustahil rasanya Bayern mampu mendominasi Arsenal. Dua pelanggaran yang ia lakukan berhasil meninggalkan goresan mendalam di dua urat nadi permainan Arsenal. Dua goresan yang secara tak langsung menjaga gawang timnya tetap perawan sementara rekan-rekannya memaksa Fabiański dua kali memungut bola dari gawangnya.

Pelanggaran pertamanya membuat Arsenal dihadiahi penalti yang eksekusinya dilakukan oleh Mesut Özil. Tidak berhasil mengeksekusi penalti membuat Özil merasa frustrasi sehingga kebintangannya yang diharapkan mampu merepotkan Bayern tak terlihat.

"Yes, he was affected by it. I think he wanted to do so well tonight that it affected him. You could see even five or 10 minutes later on the pitch he still was shaking his head. It had a huge impact on his performance," ujar Wenger ketika ditanya apakah buruknya permainan Özil adalah buah dari kegagalannya mengeksekusi penalti. Pelanggaran kedua membuat Gibbs harus keluar lapangan lebih awal. Pelanggaran yang akhirnya memaksa Wenger memainkan Monreal, pemain yang kita tahu menjadi bulan-bulanan lawan.

Benar adanya bahwa Manuel Neuer yang secara langsung membuat kepercayaan diri Özil jatuh dengan penyelamatan gemilang yang ia buat, namun fakta bahwa Boateng terlibat di dua kejadian penting tersebut membuat saya merasa bahwa adalah saudara tiri dari Kevin-Prince Boateng itulah sosok dibalik kesialan Arsenal. Unsung hero.

INGIN MENULIS BUAT KAMI?

Kirimkan tulisan mengenai Arsenal dan seputarnya melalui surel ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Last modified onFriday, 21 February 2014 10:00
Taufik Nur Shidiq

Kenal Arsenal sejak Thierry Henry mencetak brace ke gawang Charlton
Athletic di musim 2002/03. Satu penyesalan terbesar adalah karena
Zidane nggak pernah main buat Arsenal.

twitter: @nurshiddiq

Website: https://twitter.com/nurshiddiq
back to top