Menu

gonnersview banner

She Wore A Yellow Ribbon – Setapak Menuju Wembley

"Que sera sera. Whatever will be will be. We're going to Wemberley. Que sera sera"
Chants yang merupakan kutipan dari sebuah lagu Que sera-sera itu, kembali berkumandang di Emirates stadium, saat Liverpool bertandang ke Emirates kemarin. Bagaimana tidak, sebelum semuanya itu terjadi, dalam sepekan terakhir Arsenal sedang telah dilanda (media bilang) krisis. Berawal dari "pembantaian" di Anfield, markas Liverpool, hingga tidak bisa mengalahkan United di kandang sendiri yang notabene sedang mengalami musim terburuk itu. Hal tersebut merupakan suatu keanehan tersendiri, mengingat Arsenal telah berjuang mempertahankan Top Of The League dalam jangka waktu yang paling lama dibanding kontestan EPL lain musim ini dengan ±100 hari, lolos dari grup neraka di UCL, serta hanya terpaut 1 poin dari pemuncak klasemen, Chelsea. Sungguh aneh. But then again, whatever will be will be.

Kritikan tajam mengalir deras yang datang dari berbagai pihak, Arsenal tetaplah Arsenal. Mereka berjuang bak pahlawan. Satu lajur dalam filosofi The Arsenal Way. Bagaimana tidak, Arsenal bangkit di laga melawan Liverpool yang bertajuk FA Cup kemarin dengan spirit yang membara karena mengusung misi balas dendam dengan kejadian pembantaian di Anfield dan megusung ke suatu tempat yang fans ingin rasakan dan idam-idamk anatmosfirnya, Wembley. Arsenal langsung tancap gas sejak menit awal tanpa memberi ampun, pertandingan berjalan keras dan performa Fabianski sangat amat luar biasa malam itu.

Arsenal juga telah membuktikan kepada doubter bahwa mereka salah menilai Arsenal. Terutama salah satu komentar dari pelatih Chelsea, Jose Mourinho yang pernah berkata,"Wenger has a specialist in failure."Sehari setelah komentar itu terucap, Chelsea gugur dari FA Cup dan sehari berselang setelah itu, Arsene Wenger hanya membalas,"I never spoke about him. It's more embarrassing for Chelsea than for me." Jawaban klasik tersebut bisa membungkam mulut seseorang dalam waktu yang lama IMO (In My Opinion / menurut saya).

Tersisihnya Chelsea dan Liverpool dari FA Cup membuat para pengamat menjagokan Manchester City yang bakal keluar sebagai juara FA Cup musim ini. Namun, ini adalah FA Cup yang terkenal dengan daya magisnya, yakni yang lebih kita kenal The Magic Of The FA Cup. Bagaimana tidak, kompetisi tertua di dunia yang berdiri sejak 1871 ini, baru menghadirkan 11 gelar sebagai rekor terbanyak peraih trofi tersebut, yaitu Manchester United dan Arsenal peraih terbanyak kedua dengan 10 gelar (tahunini 11 amin). Hal ini membuktikan bahwa 143 tahun kompetisi ini berjalan, sudah banyak tim yang memenangkan piala ini. Yang berarti bahwa tim yang tak diperhitungkan pun dapat memenangkan piala ini. Salah satu contoh simpel dapat kita lihat musim lalu. Wigan Athletic yang diperkirakan pengamat bakal dibantai di final FA Cup oleh Manchester City, justru dapat membalikkan prediksi dan memenangkan trofi tersebut. By the way, Manchester City danWigan Athletic (juara bertahan) akan kembali bertemu di babak FA Cup selanjutnya, sementara Arsenal akan menjamu Everton (pelatih juara bertahan).

She Wore
Bicara soal FA Cup, kita tentu tak asing lagi dengan chants yang satu ini:
"She wore! She wore! She wore a yellow ribbon!
She wore a yellow ribbon in the merry month of May.
And when! I asked! Oh why she wore that ribbon!
She said it's for the Arsenal and we're going to Wembley!
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley.
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley."

Yep. Chants yang dinamakan She Wore A Yellow Ribbon ini sebenarnya bukanlah makna tersirat. Salah satu contoh lirik yang menunjukkan hal itu ialah She wore! She wore! She wore a yellow ribbon! Konon pada saat final FA Cup tahun 1971 dimana Arsenal keluar sebagai juara, ada seorang Goonerette fanatic yang ngechant, sembari mengenakan pita kuning, biarpun Arsenal kalah, Goonerettes tetap setia pada Arsenal. Maksud lain dari chants ini juga ialah pita kuning yang terikat erat pada trofi piala FA cmiiw. Mari kita lihat gambar berikut:

facup1971

Gambar ini adalah tahun pertama Arsenal meraih double winners. Di saatitu Arsenal memenangi liga di WHL, kandang tetangga yang baik hati serta tentunya memenangi FA Cup. Tampak salah satu legenda Arsenal, Charlie George, di sebelah kanan, adalah mencetakgol kemenanganp adalaga final FA Cup tahun 1971 melawan Liverpool yang dihelat di Wembley. Pita kuning yang diarsir melingkar adalah kombinasi dari jersey yang dikenakan Arsenal di laga itu yang kebetulan Arsenal mengenakan jersey kuning cmiiw. Hal itulah yang dibangga-banggakan kita, fans Arsenal.

sheworedotcom

Gambar diatas yang diambil dari @SheWore ini, juga merupakan salah satu bentuk apresiasi untuk Goonerette tadi (setelah saya kepoin akun twitternya). 3pm GMT pada gambar disamping, adalah dihelatnya pertandingan final FA Cup.

FYI. Tak hanya chants Que Sera-Sera saja yang diambil dari lirik lagu, pun demikian dengan chants She Wore A Yellow Ribbon. Chants She Wore A Yellow Ribbon ini diambil dari lirik lagu yang berjudul Tie A Yellow Ribbon karya Tony Orlando, yang intinya mengisahkan prajurit ikut berperang yang meninggalkan istri dan anak. Lalu sebagai bentuk kesetiaan, para prajurit ini meminta mereka mengenakan pita kuning hingga prajurit kembali berperang.

Chants She Wore A Yellow Ribbon pun diambil dari judul film yang berjudul sama, She Wore A Yellow Ribbon keluaran tahun 1949. Sama halnya dengan lagu berjudul Tie A Yellow Ribbon, film ini menceritakan tentang prajurit yang harus meninggalkan keluarganya untuk berperang dan akan kembali lagi suatu saat nanti.

A Yellow Ribbon
Pita merupakan simbol. Yakni simbol suatu sikap kepedulian. Dalam realitanya, pita kuning merupakan simbol kepedulian pada seksama yang terkena musibah. Contohnya antara lain anak hilang (amber alert), sarcoma, pencegahan bunuh diri, dsb. Dalam psikologi, pita kuning merupakan sebuah simbol pengharapan terhadap sesuatu hal.

Wembley
Wembley. Mendengarnya saja saya sudah Goosebumps (bulu kuduk merinding). Apalagi jikalau Arsenal main disana dan memenangkan FA Cup disana. Hehe.

Stadion berkapasitas 90,000 dan terletak di barat laut kota London itu, adalah di idam-idamkan semua Rakyat Inggris. Khususnya pencinta sepakbola. Mengapa? Karena stadion itu hanya digunakan untuk hal-hal tertentu saja. Contohnya ialah final League Cup, semifinal hingga final FA Cup, Timnas Inggris berlaga, serta kemungkinan seperti musim lalu, final UCL yang dihelat di Wembley. Hal itulah yang membuat orang-orang disana bangga jika menyaksikan laga di stadion itu secara langsung. Hal itu jua lah yang membuat salah satu stadion termegah abad ini menjadi stadion yang "sakral".

Terakhir kalinya Arsenal berlaga di Wembley ialah final League Cup kontra Birmingham City, pada 2011 yang berakhir sebuah tragedi dan ironi bagi The Gunners, fans Arsenal. Sejak stadion ini berganti nama menjadi The New Wembley, Maret 2007, Arsenal belum memenangkan sebuah trofi. Entah sebuah jinx ataupun tidak. Semoga di musim ini ceritanya bakal berbeda dan berakhir berbahagia bagi kita fans Arsenal.

At Last But Not Least
Tak terasa kita sudah memasuki fase perempat final, setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, semua cobaan telah dilalui dengan suka maupun duka. Saya berharap ini merupakan sebuah awal kesuksesan yang berbuah manis di akhir kelak. Saya ingin kembali melihat senyum semringah bahagia yang terpancar di wajah Sang Professor, Arsene Wenger, di akhir bulan Mei nanti.

Terakhir, mari kita kumandangkan lagi chants ini:
"She wore! She wore! She wore a yellow ribbon!
She wore a yellow ribbon in the merry month of May.
And when! I asked! Oh why she wore that ribbon!
She said it's for the Arsenal and we're going to Wembley!
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley.
Wembley! Wembley! We're the famous Arsenal and we're going Wembley."

 

 

INGIN MENULIS BUAT KAMI?

Kirimkan tulisan mengenai Arsenal dan seputarnya melalui surel ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Last modified onTuesday, 18 February 2014 15:28
Iman P. Yudha

Seorang mahasiswa dan juga seorang gooner sejak 2002. Menjadi anggota AIS sejak 2011. Yah, pokoknya, Come On You Gunners!

Website: https://twitter.com/iman_yudha
back to top