Menu

gonnersview banner

Arsenal 0-0 Manchester United: Albion, Stoke, Newcastle, Özil

Satu poin. Dalam dua pertandingan melawan Manchester United, Arsenal hanya mampu meraih satu poin sementara United berhasil meraih lima puluh persen dari poin maksimal yang mungkin diraih oleh salah satu tim. Kemungkinan, apa yang dirasakan oleh kebanyakan Gooners akan sulit digambarkan.

Dua pertandingan melawan United telah dilalui dan Arsenal kehilangan kesempatan untuk berdiri sejajar dengan Liverpool, Manchester City, West Bromwich Albion, Everton, Newcastle United, Tottenham Hotspur, Chelsea, dan Stoke City di barisan tim-tim yang mampu mengalahkan United di musim ini. Daftar yang relatif panjang dan akan mengecilkan Arsenal, memang, jika kita hanya melihat daftar tersebut sebagaimana adanya.
Setiap satu lawan akan dihadapi sebanyak dua kali selama satu musim pertandingan, dan lebih bijak rasanya jika kita mengabaikan daftar pemenang melawan United tersebut untuk membandingkan keberhasilan Arsenal dengan tim-tim lain yang telah dua kali pula bersua United.

Dengan satu poin dari dua pertandingan melawan United, Arsenal berdiri sejajar dengan Cardiff City dan Fulham, di atas Swansea City yang selalu kalah ketika bertanding melawan United. Sebagai catatan, jumlah gol yang berhasil diciptakan dan diderita diabaikan dala perhitungan ini.

Stoke City yang satu kali menang dan satu kali kalah melawan United berada di atas Arsenal dengan tiga poin, namun masih berada di bawah Chelsea dan Spurs yang berhasil mengumpulkan empat poin buah dari satu kemenangan dan satu hasil imbang melawan pasukan David Moyes. Tidak terlalu buruk, bukan?
Atau, cukup buruk?

Sebijak apapun daftar tersebut jika dibandingkan dengan daftar pertama, alangkah jauh lebih bijak lagi jika kita mengabaikan keduanya. Izinkan saya kembali mengutip apa yang sering kali diucapkan oleh Arsène Wenger: We must focus on ourselves.

Mari kembali membahas pertandingan semalam.
Berhasil melihat gawang Arsenal tak kebobolan oleh United jelas memberikan kebahagiaan tersendiri. Apalagi Robin van Persie tidak mampu melakukan apa yang ia lakukan kepada kita semua di Old Trafford. Manis.

Fakta bahwa Arsenal juga sama mandulnya dengan United semalam, bagaimanapun, tidak memenuhi harapan para Gooners yang berharap Arsenal memberikan respon cepat atas petaka yang mereka derita akhir pekan lalu.

Arsenal ternyata belum mampu menyelesaikan satu dari dua PR yang mereka bawa pulang dari Anfield: ketidakmampuan mencetak gol dari permainan terbuka. Dua lainnya adalah masalah pertahanan dan tidak cukup maksimalnya Mesut Özil.

Dengan clean sheet dan nilai baik yang diberikan oleh WhoScored kepada Wojciech Szczesny (7.3), Bacary Sagna (7.8), Per Mertesacker (7.0), Laurent Koscielny (8.1), dan Kieran Gibbs (7.9), sah rasanya jika kita katakan bahwa para pemain elakang telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Nilai tidak terlalu baik yang didapatkan oleh para penyerang United juga menjadi bukti lain akan kecemerlangan barisan belakang Arsenal. Secara berurutan, Robin van Persie, Juan Mata, Ashley Young dan Adnan Januzaj mendapatkan nilai 6.3, 6.4, 6.1, dan 6.0.

Mengenai Özil yang tidak mampu menampilkan penampilan yang cukup baik kala bertamu ke Old Trafford dan jelas sekali bermain sangat buruk kala melawan Liverpool pekan lalu, tampaknya kita semua dapat mulai berharap. Belum satu musim Özil merasakan keras dan sulitnya bermain di Premier League, sehingga semua kritikan yang dilayangkan kepadanya bagi saya terasa terlalu berlebihan. Özil bukan tak bisa menjadi big-game-player untuk Arsenal. Ia hanya belum mampu. Semalam, dengan penampilan gemilangnya, Özil mengingatkan kita semua tentang siapa dirinya sebenarnya.

Ada dua fakta yang ingin saya soroti, dan dua-duanya saya dapatkan dari akun Twitter Orbinho. Yang pertama: Mesut Özil has created more chances than any other player in Europe's top five league this season (66). Özil, di mata saya, hanya belum menemukan konsistensi. Dengan tambahan 7 key passes semalam, Özil kini telah mencatatkan 73 key passes. Yang kedua adalah ini: Only Rooney has more assists than Mesut Özil this season in the Premier League. Dua fakta yang membantah anggapan bahwa Özil belum menunjukkan permainan terbaiknya. Özil, di mata saya, hanya belum menemukan konsistensi. Sesuatu yang semoga saja akan segera kita dapatkan dari tukang sihir Jerman ini dalam waktu dekat.

Ada yang bilang, kegemilangan Özil semalam tak didukung oleh keberadaan pemain-pemain yang mampu menunjukkan level permainan yang sama. Tak adanya pemain Arsenal yang sama cerdasnya dengan Özil membuat opsi sang pemain untuk melepaskan umpan-umpan mematikan menjadi sangat terbatas. Terdengar menyedihkan, memang. Namun saya lebih memilih untuk melihatnya sebagai pertanda baik.

Keberadaan Özil dan level permainannya yang tinggi membuat para pemain akan terpacu untuk menyamai level tersebut. Jika level permainan individu telah meningkat, maka level permainan tim akan lebih baik juga. Jika –touch wood– Arsenal gagal menjadi kampiun di musim ini, saya yakin benar, dengan skuad yang sama dan tambahan beberapa pemain baru, Arsenal akan meraja di musim depan.

Ah, terlalu dini rasanya membicarakan musim depan. Toh, musim ini, peluang juara secara matematis masing mungkin diraih. Ketimbang melihat hasil semalam sebagai kegagalan untuk kembali ke puncak klasemen dan kegagalan memberikan gertakan kepada pesaing-pesaing lain, saya lebih memilih untuk mensyukuri tambahan satu poin dan melihat penampilan semalam sebagai peningkatan untuk kembali ke level permainan terbaik Arsenal.

Bagaimana dengan Anda?

INGIN MENULIS BUAT KAMI?

Kirimkan tulisan mengenai Arsenal dan seputarnya melalui surel ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Last modified onThursday, 13 February 2014 15:53
Taufik Nur Shidiq

Kenal Arsenal sejak Thierry Henry mencetak brace ke gawang Charlton
Athletic di musim 2002/03. Satu penyesalan terbesar adalah karena
Zidane nggak pernah main buat Arsenal.

twitter: @nurshiddiq

Website: https://twitter.com/nurshiddiq

Media

back to top