Menu

gonnersview banner

Liverpool 5-1 Arsenal: Kisah Joe Bloggs dan Tottenham Points in the Gap

Andai Joe Bloggs bertanya kepada saya tentang alasan kekalahan Arsenal di tangan Liverpool, saya akan menjawab seperti ini: Arsenal kalah karena Liverpool mampu mencetak lima gol sementara Arsenal hanya mampu mencetak satu gol. Sudah. Begitu saja. Begitu saja karena memang tak ada yang perlu diperdebatkan. Di Anfield, pasukan Brendan Rodgers adalah tim yang lebih baik di antara dua tim yang bertanding semalam.

Jika jawaban tersebut ternyata malah melahirkan pertanyaan baru seperti perihal alasan ketidakmampuan Arsenal mencetak gol sebanyak yang diciptakan Liverpool, agresivitas serangan adalah jawabannya. Sepanjang pertandingan, Wojciech Szczesny bekerja lebih keras ketimbang sosok yang berdiri berseberangan dengannya. Dua belas kali gawang Arsenal menerima sepakan tepat sasaran sementara Simon Mignolet hanya menghadapi setengah dari jumlah ancaman yang diterima oleh Szczesny.

Secara kebetulan, Joe Bloggs tidak menonton pertandingan, juga tak menyimak minutes-by-minutes coverage yang disajikan oleh beberapa akun Twitter yang memang biasa melakukannya. Ia, seperti kebanyakan orang yang menikmati berkembangnya bahasan sepakbola melalui statistik, hanya mengecek hasil dan statistik pertandingan. Melihat fakta bahwa Arsenal lebih baik dari Liverpool dalam hal penguasaan bola (Arsenal 58%-42% Liverpool), akurasi operan (87%-78%), dan keberhasilan duel udara (58%-42%), memang sulit menerima fakta bahwa Arsenal tak mampu melahirkan peluang sebanyak Liverpool. Fakta tersebut juga melahirkan pertanyaan di benak Joe Bloggs tentang bagaimana cara Liverpool mencetak gol.

Liverpool hanya mencetak gol dengan dua cara: memanfaatkan situasi bola mati dan kesalahan yang dilakukan oleh para pemain Arsenal di daerah dua per tiga lapangan pertandingan. Tidak ada cara lain. Mereka tidak mencetak gol dari titik putih. Tidak pula mereka mencetak gol lewat tendangan bebas langsung. Membangun serangan dari wilayah pertahanan sendiri hingga berbuah gol? Tidak. Arsenal sempat beberapa kali kehilangan bola di wilayah pertahanan Liverpool namun tak satupun dari kesalahan itu mampu dimanfaatkan oleh Liverpool. Semalam, mereka tidak cukup kompeten untuk mencetak gol dengan cara itu.

Lain hal jika kesalahan mereka temukan di dua per tiga lapangan. Tanpa ampun para pemain Liverpool mempermalukan Szczesny yang menjadi korban dari inkompetensi para outfield players membendung serangan yang diciptakan oleh empat pemain saja: Luis Suárez, Daniel Sturridge, Raheem Sterling, dan Philippe Coutinho. Tepat seperti ramalan Arsène Wenger.

Joe Bloggs semakin bingung. Mendapati kata inkompetensi, ia yang melihat daftar susunan pemain merasa bahwa lini tengah Arsenal lebih kompeten daripada barisan gelandang tim tuan rumah dalam hal menjalankan peran yang diembankan kepada mereka. Deep lying playmaker the Reds adalah Steven Gerrard yang baru saja mengenal peran tersebut dan jelas belum fasih memainkan peran penting itu. Dibandingkan dengan Mikel Arteta di sisi kuning, Arsenal memimpin dengan skor 1-0. Dua gelandang lain yang menemani sang kapten –Jordan Henderson dan Coutinho– jelas kalah kelas jika dibandingkan dengan Jack Wilshere dan kalah pengalaman jika dibandingkan dengan Mesut Özil. 3-0 untuk Arsenal.

Skor 3-0 dalam perbandingan kompetensi tak ada artinya karena Liverpool ternyata mampu meraih skor 3-0 yang nyata. Tiga gol berhasil mereka ciptakan dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh barisan gelandang Arsenal di daerah dua per tiga lapangan.

Jika Joe Bloggs meminta penjelasan yang lebih mendasar lagi, jawaban mendasar lah yang harus kita berikan. Para pemain Arsenal bisa menjadi bulan-bulanan Liverpool karena ada dua teknik dasar bermain sepakbola yang tak mereka praktekkan dengan baik di pertandingan semalam: kontrol bola dan pressing terhadap lawan.

Joe Bloggs semakin penasaran. Joe Bloggs mempertanyakan kenapa dua hal tersebut bisa terjadi. Kepada Joe Bloggs, ada baiknya kita berikan kelapangan hati Wenger yang mau mengakui buruknya penampilan anak-anak asuhnya sekaligus menganggap hal tersebut adalah tanggung jawabnya. Kelapangan hati yang ditunjukkan dalam konferensi pers pascapertandigan.

"What is important is that we respond to the result, especially that we respond with a different performance because our performance overall was poor today – on the concentration level and on the pace. Our defensive stability was very poor, we looked always vulnerable defensively. Congratulations to Liverpool, they were the better team today and we were very poor today. Only our fans were good for 90 minutes, that's all."

Begitulah. Wenger sendiri telah mengakui bahwa semalam, Arsenal bermain buruk. Namun kita tak perlu kecewa karenanya. Wenger sendiri lebih memilih menerima kekalahan tersebut dan mengakui keunggulan lawan seperti seorang pria sejati dan berkonsentrasi kepada ujian berikutnya: Manchester United.

"...Overall our performance was just not good enough. Maybe it's better if I don't talk too much, go home and respond well on Wednesday night because I include myself in that performance. It raises the question that we have to answer on Wednesday night."

Joe Bloggs akhirnya mengerti dan mengikuti jalan yang dipilih oleh Wenger. Joe Bloggs, yang membantu keuangan klub dari sisi hasil penjualan merchandise dan pemasukan dari tiket pertandingan dengan cara membeli jersey original Arsenal dan menonton langsung di Emirates, punya hak untuk kecewa kepada para pemain yang menunjukkan permainan di bawah standar.

Namun, ia lebih memilih untuk mengikuti jalan Wenger. Ia sadar bahwa terus memendam perasaan kecewa dan menunjukkannya tak akan mengubah hasil pertandingan dan tak akan membantu para pemain untuk kembali bersemangat. Joe Bloggs mengikuti jalan Wenger dan tetap mendukung serta mencintai Arsenal dengan sepenuh hati.

Jika Joe Bloggs saja mampu memilih untuk bersikap seperti itu, mengapa kita –para Joe Bloggs yang di Indonesia dikenal dengan nama Si Fulan– terus mengutuk kekalahan dari Liverpool?

Cheer up, my fellow Gooners! At least the scoreline is not 6-1, or even worse, 8-2. And remember: there's still twelve Tottenham points in the gap!

Last modified onSunday, 09 February 2014 10:50
Taufik Nur Shidiq

Kenal Arsenal sejak Thierry Henry mencetak brace ke gawang Charlton
Athletic di musim 2002/03. Satu penyesalan terbesar adalah karena
Zidane nggak pernah main buat Arsenal.

twitter: @nurshiddiq

Website: https://twitter.com/nurshiddiq
back to top