Menu

gonnersview banner

Arsenal 2-0 Crystal Palace: Terima Kasih, Chamakh!

“Arsenal back to the top –at least for now,” ujar komentator beriringan dengan ditiupkannya peluit panjang penanda berakhirnya pertandingan. Walaupun Arsenal berpeluang untuk kembali kehilangan takhta jika Manchester City berhasil memetik kemenangan di pertandingan melawan Chelsea hari Senin nanti, hasil ini tetaplah patut kita syukuri.

Kehilangan Aaron Ramsey selaku gelandang tersubur juga rasanya tak perlu diratapi terlalu dalam. Alex Oxlade-Chamberlain mampu menjawab kepercayaan Arsène Wenger dengan baik sekaligus membungkam mulut saya yang merasa bahwa Tomas Rosicky lebih pantas diberi kepercayaan untuk bermain sebagai starter di pertandingan ini.

Melawan Crystal Palace yang sangat disiplin memperagakan permainan sepakbola negatif, dua gol adalah hasil yang impresif. Tony Pullis sudah pasti memberi instruksi untuk bersabar kepada pemain-pemainnya. Bertahan, bertahan, bertahan, dan lepaskan serangan balik. Mereka tak bisa disalahkan. Melawan tim sekelas Arsenal, adalah pilihan yang tidak bijak jika mereka mengabaikan kesabaran dan permainan hati-hati.

Para pemain Arsenal, bagaimanapun, menunjukkan kesabaran yang lebih baik lagi. Melawan tim yang menempatkan sembilan pemain di wilayah pertahanan mereka, wajar kiranya jika para pemain Arsenal merasa frustrasi. Kenyataannya ternyata tidak demikian.

Turun minum membawa skor kacamata walaupun mencatatkan persentase penguasaan bola yang mencapai angka 75%, kecewa mungkin bukan kata yang tepat untuk ditujukan kepada sebelas pemain yang turun sebagai starter di pertandingan ini. Sebagaimana telah disinggung di atas, memang tak mudah melawan tim yang bermain ultra defensif. Bagaimanapun, perasaan khawatir atas kemungkinan tak berhasilnya Arsenal meraup tiga poin penting sebelum memasuki February madness tetap menaungi saya.

Perasaan yang baru luruh setelah Chambo mencatatkan namanya di papan skor untuk kali kedua. Ya, kali kedua. Gol pertama Chambo, walaupun diselesaikan dengan sangat dingin, belum membuat saya merasa tenang. Unggul satu gol tak  menjamin kemenangan dan memberikan ketenangan apapun. Terlebih lagi karena para pemain sempat melakukan beberapa kali kesalahan umpan di area pertahanan mereka sendiri.

Terlepas dari kesalahan-kesalahan mendasar yang dipraktekkan oleh para pemain, secara keseluruhan mereka menampilkan permainan yang sangat memuaskan baik secara kolektif maupun individu. Wojciech Szczesny menjadi pembeda dengan penyelamatan-penyelamatan yang ia lakukan. Per Mertesacker, memanfaatkan tinggi badannya, selalu dengan mudahnya berhasil menghalau banyak bola udara yang berpotensi menjadi gol jika mencapai barisan penyerang Palace. Santi Cazorla, walaupun tak berhasil mencetak gol, membuka jalan bagi Arsenal lewat umpan indahnya yang berhasil dikonversi menjadi gol pertama Arsenal.

Olivier Giroud, kendati mandul dan selalu terlihat kebingungan jika harus mempraktekkan aksi individu ketika berhadapan satu lawan satu dengan pemain-pemain lawan, berhasil melakukan dengan baik tugas lain yang diembankan kepadanya: menjadi tembok, melepaskan umpan satu-dua untuk membelah pertahanan lawan dengan cara sederhana namun mematikan. Mikel Arteta? Tak perlulah dipertanyakan lagi. Keberhasilannya mencatatkan 117 umpan tepat sasaran adalah rekor keberhasilan umpan terbanyak yang pernah dilakukan oleh seorang pemain dalam satu pertandingan di Premier League musim ini.

Hal lain yang patut diberi kredit lebih adalah pengertian yang terjalin di antara Arteta dan Chambo. Berdiri sejajar, berdampingan dengan satu sama lain di depan empat pemain bertahan, Arteta dan Chambo tetap memiliki tugas berbeda. Sementara Arteta diberi tugas sebagai deep lying playmaker, Chambo berperan sebagai box-to-box midfielder. Namun pada prakteknya, tak selalu Arteta yang berada di belakang Chambo. Pada beberapa kesempatan, Arteta terlihat naik menekan ke daerah pertahanan Palace dan Chambo menggantikan posisi seniornya tersebut, menjaga agar barisan pertahanan tetap memiliki jembatan di lini tengah.

Rasa terima kasih juga sepertinya patut kita layangkan kepada Marouane Chamakh. Hilangnya konsentrasi Chamakh yang bertugas mengawasi pergerakan Chambo membuat sang pemain mampu menerobos masuk ke kotak penalti Palace untuk menyarangkan bola ke gawang dan memecah kebuntuan pertandingan.

Satu hal yang pasti, puncak klasemen kini kembali dalam genggaman. Perihal kembali turunnya Arsenal ke peringkat kedua jika Chelsea menelan kekalahan, biarlah menjadi urusan José Mourinho dan Manuel Pellegrini. Mengutip apa yang selalu ditekankan oleh Wenger: we must focus on ourselves.

 
Last modified onMonday, 03 February 2014 09:59
Taufik Nur Shidiq

Kenal Arsenal sejak Thierry Henry mencetak brace ke gawang Charlton
Athletic di musim 2002/03. Satu penyesalan terbesar adalah karena
Zidane nggak pernah main buat Arsenal.

twitter: @nurshiddiq

Website: https://twitter.com/nurshiddiq
back to top