Menu

'Know your origin save our culture'

Hujan lebat mengguyur kota Palangka Raya sejak subuh hingga pagi di sabtu (20/2) itu, namun tak mengurungkan niat para anggota Arsenal Indonesia Supporter regional palangka raya (AIS_PLK) untuk berkunjung ke museum balanga, museum terbesar di provinsi kalimantan tengah yang menyimpan banyak peninggalan sejarah dan budaya.

Balanga menjadi nama museum pertama di Kalteng itu karna pada awalnya, museum itu hanya berisi koleksi balanga-balanga dari berbagai daerah. Balanga atau guci memang tak bisa lepas dari budaya dayak jaman dahulu, digunakan untuk berbagai acara ritual, mulai acara peminangan sampai dengan tempat menyuguhkan makanan bagi para leluhur atau roh-roh suci. Mulai dari kumpulan balanga, kemudian berkembang menjadi tempat koleksi benda bersejarah lainnya. Kegiatan yang digagas bersama dengan beberapa komunitas-komunitas anak muda di palangkaraya yang tergabung dalam #savepalangkaraya ini mengambil tema "Know your origin, save our culture". Bukan tanpa alasan tema itu dipilih, melihat begitu banyak pengaruh budaya asing masuk lewat perangkat teknologi dan informasi yang berkembang pesat, sedikit banyak membuat generasi muda terlena, dan lupa akan budaya sendiri, bahkan tak jarang yang tidak mengetahui sama sekali budaya daerah sendiri. Dengan alasan itulah, AISPLK sebagai bagian dari generasi muda, mengajak para anggotanya untuk berkunjung ke museum, mengenal lebih dekat sejarah provinsi kalimantan tengah, dan budaya dayak kalteng yang unik. Tak kurang dari 20 anggota AISPLK mengikuti kegiatan ini mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB. Peserta berkumpul di lobby utama mendengarkan arahan dari guide museum, lalu menyusuri satu persatu benda-benda bersejarah seperti ritual kelahiran adat dayak, masa remaja, pernikahan, sampai dengan kematian. Juga bentuk-bentuk rumah adat, pakaian adat dan alat-alat pertahanan diri. "Banyak hal yang bisa dipelajari dari kunjungan budaya seperti ini, karena sebagai orang dayak kalau tidak mengenal budaya dayak sendiri, lama kelamaan kita akan kehilangan identitas, komunitas apa saja, termasuk kita komunitas fans bola wajib belajar tentang ini sebagai wujud kita menghargai sejarah" kata Idrus, koordinator AIS_PLK.

2

 

Setelah berkeliling museum dan mendengarkan penjelasan guide museum, kegiatan ditutup dengan foto group dan testimoni kunjungan singkat. Beberapa testimoni peserta mengharapkan kegiatan seperti ini bisa dijadikan program tahunan untuk mendekatkan diri anggota pada nilai-nilai budaya lokal dan belajar menghargainya, supaya harmoni kehidupan terus terpancar, sebagaimana pernah dikatakan oleh bapak Susilo Bambang Yudhoyono, mantan presiden RI "Kebudayaan itu memancarkan keindahan, dengan menjaga kebudayaan, Indonesia akan lebih harmonis & seimbang".

3

back to top